Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2011

Aseptik Dipensing

Penyiapan produk dengan prinsip teknik aseptic yang tepat dan berkualitas. berkualitas artinya tepat dan aman. adanya aseptic dispensing menjamin produk parentral bebas dari kontaminasi mikroba/ tidak mengandung mikroorganisme.
Teknik aseptic harus MENJAMIN sedian steril farmasi itu : TEPAT& AMAN (bebas kontaminasi mikroba)

Sterilisasi  suatu keadaan dimana suatu produk/sediaan dirancang aman dan steril, bebas dari mikroorganisme hidup (artinya semua mikroorganisme hidup itu mati)

Aseptic  suatu proses dimana kontaminasi mikroba dikurangi sampai tingkatan tertentu

Jenis-jenis sterilisasi :
1. Secara fisika
– Panas kering
 Menggunakan oven, untuk zat-zat yang tidak bisa dengan panas basah. Seperti minyak-minyakan, serbuk yang tidak mungkin diuapkan, dan lain sebagainya. Metodenya dengan menghilangkan kelembaban dari mikroorganisme hidup sehingga organism hidup mengalami kerusakan dan kematian.
Suhunya :
• 170° C (340 F) sampai 1 jam
• 160° C (320 F) sampai 2 jam
• 150° C (300 F) sampai 2,5 jam
• 140° C (285 F) sampai 3 jam
Panas kering juga dilakukan pada alat-alat yang TAHAN PADA SUHU DI ATAS!
Selain oven, juga dengan pemijaran langsung, minyak dan bahan penangas lainnya.

- Panas basah
 Menggunakan autoklaf dengan suhu 121 0 C, tekanan 15 lbs selama 12 menit.
Ini banyak digunakan untuk alat-alat gelas, larutan-larutan,dan banyak dipakai dalam dunia kesehatan.
Prinsipnya adalah dengan cara mendestruksi mikroorganisme dengan menggunakan uap jenuh pada tekanan tinggi sehingga protein mikroba terkoagulasi.
Bisa jg dengan pemanasan mengunnakan bakterisid dan perebusan (tapi perebusan tidak membunuh spora, jd dilakukan dlm keadaan darurat saja)

- UV
 Digunakan untuk steriliasi udara…
Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7 nm
Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya, organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel, yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang.

2. Kimia
– Gas
Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Sterilisasi yang digunakan dalam bidang farmasi untuk mensterilkan bahan-bahan dan menghilangkan dari bahan yang disterilkan pada akhir jalur sterilisasi, gas ini tidak inert, dan kereaktifannya terhadap bahan yang disterilkan harus dipertimbangkan misalnya thiamin, riboflavin, dan streptomisin kehilangan protein ketika disterilkan dengan etilen oksida
Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkalis asam amino, hidroksi atau gugus sulfur dari enzim seluler atau protein. Beberapa lembab dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan menghancurkan sel
Gas : etilen oksida, formaldehid, propilen oksida, klorin oksida, beta propiolakton, metilbromida, kloropikrin
– Cairan kimia : alkohol 70%, fenol 5%.
3. Radiasi
Prinsipnya adalah radiasi menembus dinding sel dengan langsung mengenai DNA dari inti sel sehingga mikroba mengalami mutasi. Digunakan untuk sterilisasi bahan atau produk yang peka terhadap panas (termolabil). Ada dua macam radiasi yang digunakan yakni gelombang elektromagnetik (sinar x, sinar γ) dan arus partikel kecil (sinar α dan β)

Teknik Aseptik :
Teknik aseptic disiapkan untuk mencegah masuknya mikroorganisme hidup ke dalam komponen steril.
Standar Aseptik Dispensing :
1. Ruangan steril yang terpisah
2. Laminar air flow atau clean classroom 100
3. System kualitas steril (adanya HEPA filter)
4. Biological Safety Cabinet
5. Adanya program jaminan mutu
Persyaratan untuk proses aseptic :
1. Fasilitas dan ruangan/ lingkungan udara yang bebas dari kontaminasi mikroba
 bebas dari lalu lintas banyak orang
2. adanya tenaga yang terlatih
 memahami konsep teknik aseptic dispensing
 adanya pelatihan iv admixture
 adanya pelatihan penyiapan obat sitostatika
 adanya peltihan penyiapan TPN

ruangan steril :
– service room/ruang pelayanan
– ruang bersih (clean room)
– ruang steril

prosedur ASEPTIS :
– No Touch technic
– Hindari keluar masuknya tangan begitu sering ke LAF
– Hindari batuk selama di LAF
– Hindari tumpahan cairan di LAF

Syarat petugas di ruang steril
– Petugas yang sedang sakit TIDAK BOLEH bekerja di ruang steril
– Petugas harus mengenakan pakaian steril, topi, sarung tangan, masker yang steril
– Setiap kali memasuki ruang steril harus mencuci tangan dengan cairan aseptis

Prinsip pemberian obat parentral :
– Untuk terapi
– Untuk profilaksis
– Untuk diagnosis

Teknik pemberian obat parenteral :
– iv push
– volumetric set
– piggyback system
– syringe pump system

indikasi pemberian secara IV
– untuk menjamin tercapainya konsentrasi obat
– dapat menggantikan sediaan yang tak tersedia secara oral
– dapat digunakan pada pasien yang tidak sadarkan diri atau tidak kooperatif
– dapat memudahkan untuk mengkoreksi/menghitung keseimbangan cairan dan elektrolit serta nutrisi
– menjamin kepatuhan terapi
– lebih memudahkan memantau efek terapi dan konsentrasi puncak
– untuk mencapai efek biologi yang tidak dapat tercapai dengan pemberian oral

komplikasi pemberian iv :
– thrombosis  terjadinya bekuan darah
– emboli udara  adanya emboli udara bisa sampai ke jantung
– hipersensitifitas
– phlebitis  terjadinya radang di tempat disuntikkannya iv
– adanya over dose obat dan cairan
– adanya sepsis  infeksi sistemik, paling bahaya dan menakutkan! 

tanggung jawab farmasis dalam aseptic dispensing :
1. kebenaran zat-zat yang dikandung dalam suatu sediaan farmasi
2. kemurnian zat
3. kekuatan
4. sterilitas
5. wadah
6. label
7. tepat pasien

konsep pharmaceutical care dalam pelayanan aseptic dispensing :
 perlu banyak keahlian dan kemampuan farmasi, merupakan bagian yang terintergasi dalam pharmaceutical care, fungsi farmasis terlihat jelas di palayanan AD. Karena pentingnya (iv adm dan TPN) maka perlu meyakinkan pihak RS untuk mengadakan layanan ini

Aseptic Dispensing meliputi :
 iv admixture
 penanganan sitostatika
 TPN (total parenteral nutrition)

IV ADMIXTURE

iv admixture adalah : proses pencampuran obat steril ke dalam larutan intravena steril, menghasilkan suatu sediaan steril yang bertujuan untuk pemberian secara intravena
iv admixture : dilakukan dengan teknik aseptic

Tujuan pelayanan iv admixture :
 Untuk menjamin sediaan obat memiliki mutu dan sterilitas terjamin
 Menghemat waktu perawat
 Menunrunkan angka kejadian infeksi nosokomial
 Ketepatan dosis
 Penghematan biaya

Kegiatan iv admixture :
– Melarutkan obat-obat serbuk kering steril
– Menyiapkan suntikan iv dalam 1 vial atau 1 ampul ke dalam syringe ataupun kantong infuse
– Menyiapkan suntikan iv dalam beberapa vial ataupun beberapa ampul yang sama ke dalam kantong infuse
-
Layanan farmasi Iv admixture :
– Obat sitostatika
– Nutrisi parentral
– Antibiotika
– Analgesic
– Anti jamur
– Antivirus
– Dll

Penentuan prioritas terhadap pelayanan iv admixture :
– Pasien-pasien dengan risiko infeksi terbesar
 Immunosupressan
 Transplantasi sum-sum
 Neonatal premature/bayi premature (NICU)
 Pasien ICU/ICCU
 Pasien kanker
 Nutrisi parenteral
– Mengenali obat-obat yang berbahaya terhadap petugas : antiviral, sitosatika

Tipe pelayanan iv admixture :
– Pelayanan luas (semua pelarutan, antibiotika, TPN, sitostatika, ICCU, NICU, ICU)
– Pelayanan khusus (TPN 7hr/minggu dan sitostatika [jam kerja klinik])

Metode pemberian iv admixture :
Infuse berkelanjutan (diberikan dalam waktu lama, kecepatan pemberial sangat lambat, menghindari efek toksik, volumenya besar, efek terapinya lama, obatnya stabil)
Infuse intermitten ( menggantikan obat dengan volume besar dengan volume kecil yang sudah mengandung obat, kira-kira 30 menit)
Penambahan via tube drip (obat dalam syringe dimasukan dalam infuse set, lama pemberian lebih singkat dibandingkan injeksi bolus ke dalam vena)

Label iv admixture :
– Nama pasien, no MR, no ruangan
– Nama obat dan jumlah yang ditambahkan
– Nama obat dan jumlah larutan obat
– Volume sediaan akhir larutan
– Tanggal dan waktu pemberian
– Kecepatan infuse rata-rata
– Tanggal kadaluarsa
– Petugas yang bertanggungjawab
– Instruksi khusus

Dispensing :
Dokter order utk 24 jam  disiapkan dan harus segera diberikan  jika memang harus disimpan, maka disimpan dalam lemari es sebaiknya selama 24jam

Jaminan Mutu :
1. Kalibrasi alat
2. Teknik dispensing
3. Label dan pencatatan order obat
4. Pemeriksaan selama transportasi : apakah ada yang pecah, tumpah, label terlepas
5. Penyimpanan : hindari dengan pembekuan, harus diperhatikan
6. Pemeriksaan komponen sebelum dispensing : diperhatikan label, tanggal kadaluarsa, ada endapan atau tidak, tanggal kadaluarsa

Hal-hal yang harus diperhatikan :
– Dosis lazim obat  sesuaikan dengan kondisi pasien dan usia
– Pelarutan  pelarut yang sesuai dengan kondisi pasien
– Penyimpanan  apakah di lemari es atau tidak
– Kadaluarsa  harus diperhatikan karena ED masing-masing konsentrasi itu beda

Prosedur yang harus dilakukan seorang farmasis dalam penyiapan iv admixture:
1. Cuci tangan sesuai prosedur dengan larutan aseptic
2. Mengenakan pakaian steril, topi, penutup sepatu, masker
3. Lewatkan semua obat dan alat melalui passbox
4. Mengenakan sarung tangan steril
5. Penyiapan alat
– LAF di UV 30 menit
– Siapkan semua obat dan alat yang dibutuhkan, susun dengan rapi di LAF
– Periksa wadah,obat dan pelarut : endapan, warna, kadaluarsa, kebocoran
– Cek obat : dosis, pelarut yang digunakan (jangan gunakan benzyl alcohol untuk bayi), cek label obatnya, cek juga semua alat apakah sudah benar)
– Swab smua permukaan alat dan LAF dengan alcohol 70 %
6. Pelaksanaan :
– Ambil sejumlah obat yang dibutuhkan dengan teknik aseptic
– Buang udara yang ada dalam spuit
– Lepaskan kap plastic, swab dengan alcohol 70 %, masukan obat ke dalam spuit dengan perlahan-lahan
– Tutup cap kantong infuse dengan parafilm
– Buang spuit bekas obat
7. Kemasan :
Larutan yang telah selesai diberi label
Dikeluarkan lewat passbox
(untuk kemudian) di recek oleh asst. apt, diberi klip plastic, lalu label luar, dan dikirim ke ruang rawat)
8. Setelah selesai dikerjakan, swab kembali seluruh permukaan LAF dengan alcohol 70 %
9. LAF di UV 30 menit kembali

Kecepatan Pemberian iv :
 PENTING untuk ditentukan. Karena BAHAYA jika terjadi endapan akibat pemberian iv yang terlalu cepat!

Ketercampuran/Kompatibility :
 Memahami sifat dasar obatnya gimana, konsentrasi obat, pH larutan obat, suhu, wadah obat

Risiko Pemberian iv admixture :
– Infeksi akibat kontaminasi
– Adanya pendarahan akibat pencabutan kateter
– Adanya emboli udara yang sampai ke jantung
– Adanya reaksi alergi karena efek obat yang cepat
– Adanya ketidaktercampuran obat karena pencampuran beberapa obat yang inkompatibilitas
– Pyrogen
– Pecahnya pembuluh darah
– Terlepasnya partikel obat dari wadah ataukaret penutup wadah
– Phlebitis dan iritan vena

Penanganan Sitostatika

Sitostatika  lebih lazim dikenal dengan kemoterapi
Pengobatan kanker :
– Pembedahan
– Kemoterapi
– Radiasi
Kanker dapat disembuhkan atau tidak dapat disembuhkan tergantung penyakit dan penyebarannya
Kemoterapi : bisa menggunakan 1-2 bahkan 5-6 kombinasi

Obat-bat sitostatika :
– Alam (golongan vinkristin, vinca alkaloid)  diberikan dengan IV, jika dengan IT dapat kematian, jika dengan IC atau Im dapat menyebabkan iritasi
Vinkristin : Nefrotoksik, kekakuan/kram otot, gangguan gastrointestinal, trombositopenia, anemia, leucopenia, ocular toksisitas (gangguan kebutaan), konstipasi, pendarahan, sesak nafas

- Sintetis (alkylating agent, anti metabolit, antibiotika, hormone)
1. Antibiotika
Contohnya : Doxorubicin (sangat irritant!) sehingga menimbulkan sara sakit pada tempat suntikan. Menyebabkan urine warna orange/merah, hindari kontak dengan matahari langsung, INTERAKSI DENGAN OBAT-OBAT JANTUNG!
ESO doxorubicin : gangguan jantung, prurutis, hiperpigmentasi, alopecia, eritema, urtikaria, somatitis. ESO tergantung dari dosis, lama paparan, riwayat penyakit, usia pasien, terapi yang sedang dijalani
2. Alkylating agent
Contohnya : Cyclophosphamide
ESO : nefrotoksik. Dimetabolisme di HATI. Stabilitas 24 jam.
3. Antimetabolit
Contohnya : Methotrexate
Metabolisme : di hati, dosis tinggi harus dengan anti toksin folinic cid
Stabilitas : 24 jam
4. Hormone
Contohnya : estrogen, progesterone, tamoxifen untuk Ca Payudara, Ca Prostat, Ca serviks
ESO : osteoporosis, gangguan pertumbuhan

Paparan sitostatika : karena di RS umumnya disiapkan di ruang rawat  beresiko terekspose sitostatika!
Tereksposenya itu bisa jadi ketika penerimaan, penyimpanan, penyiapan, dispensing dan pemberian obat
Rute terekspose biasanya :
– Inhalasi
– Injeksi
– Tertelan (melalui makanan)
– Absorbsi (melalui sarung tangan)
– Kontak langsung (dengan ketidaksengajaan)
Akibat dari paparan sitostatika :
1. Efek langsung : toksik pada kulit, toksik pada mata, efek sistemik, reaksi alergi
2. Karsinogenik
3. Spermatoksik
4. Mutagenic
5. Teratogenik

Untuk menghindari bahaya sitostatika ini : harus ada penanganan obat sitostatika yaitu ;
– Dilakukan diruang terpisah/ ruang khusus
– Dilakukan oleh petugas yang terlatih
– Ada SOP nya

Kebutuhan minimal penanganan sitostatika :
– Menggunakan LAF atau BSC
– LAF dan BSC ditempatkan di ruang cleanroom
– Petugas memakai pakaian pelindung lengkap
– Menggunakan teknik aspetik
– Memiliki SOP
– Memiliki petugas yang terlatih

Penanganan Sitostatika :
– Alat untuk melindungi petugas
– Area penyimpanan
– Alat untuk menyiapkan obat sitostatika
– Petugas yang terlatih
– Penanganan terhadap tumpahan sitostatika  lokalisasi
– Penanganan terhadap limbah  incinerator suhu 10000C
– Transportasi
– Pemeriksaan kesehatan petugas
– Jaminan mutu

Jaminan mutu :
– Monitoring/validasi petugas (seleksi, pendidikan, pelatihan)
– Monitoring lingkungan
– Dokumentasi kecelakaan
– Tes produk akhir
– Sampling
– Jadwal pemeliaharaan

TPN (Total Parenteral Nutrition)
Gizi buruk berperan banget dalam proses penyembuhan, kekebalan, menurunnya respon kemoterapi, penyembuhan luka yang lama, meningkatnya lama perawatan, meningkatkan angka kematian

TPN  pemberian nutrisi melalui intravena untuk mempertahankan kebutuhan nutrisi pasien yang terkait dengan status kliniknya

Adanya malnutrisi : adanya ketidakseimbangan antara nutrisi karbihidrat, protein, energi dan nutrisi lainnya yang berpengaruh terhadap respon tubuh, jaringan dan fungsi tubuh. Penyebabnya adalah kurangnya asupan, meningkatnya kebutuhan nutrisi, kelainan system pencernaan, gangguan metabolic nutrisi

Kondisi yang membuthkan tambahan nutrisi :
 Pasien kanker, luka bakar, gangguan saluran pencernaan, operasi abdomen, trauma, gagal hati, gagal ginjal, gagal nafas

Tujuan pemberian TPN :
– Menjaga agar nutrisi pasien tercukupi dalam keadaan sakit
– Menghindari komplikasi
– Meningkatkan kualitas hidup
– Menjaga fungsi organ
– Peningkatkan penyembuhan

Peranan farmasis :
Absolute : penyediaan, penyimpanan, pemberian, quality control, stock
Potential : mengawasi order TPN, konsultan TPN, identifikasi interaksi TPN dengan obat, identifikaso ESO TPN

Indikasi pemberian TPN :
– Mengalami penurunan BB > 10 %
– Mengalami gangguan fungsi pencernaan
– Tidak ada asupan makanan oral selama 3-5 hari (dengan status gizi buruk)
TPN  sluruhnya diasup melalui parenteral
Partial PN  dgn parentral juga, entral juga, oral juga

Efek samping TPN :
– Infeksi
– Dapat menginduksi kolestasis
– Thrombosis
– Hiperglikemia
– Rasa haus
– Gangguan jantung
– Kejang
– Demam
– Mual
– Gangguan pernafasan

Sumber Nutrisi Parentral :
 Maknonutrien
KH  umunya pake dexstrose (konsentrasi > 12 % harus dikasi secara sentral!)
KH asupan energinya hanya dalam waktu singkat (hati dan glikogen otot) hanya dalam waktu beberapa jam
Asam amino  protein dan energi, protein di pecah jadi SO4, PO4 dan urea, serta H+
Lemak simpanan yang lebih besar itu di lemak, energinya sampai 9 kcal/g glukosa Cuma 4 kcal/g
Kebutuhan Energi : tgtg BB, TB, usia, factor aktivitas dan factor stress
NORMALNYA : 35 kcal/kg BB/hari (atau sekitar 1500-2000 kcal/hari)
Kalo udah stress, meningkat sampai 40 kcal/kg BB/hari
Perhitungan kebutuhan energi : pake rumus
 Mikronutrien
Vitamin
Vitamin K ditambahan 1x seminggu
Untuk pemakaian jangka lama, esktra vit B12 dapat diberikan 3 bulan sekali
Mineral/ Trace elemen
Zn, Copper, Selenium, Manganese, iron, iodine
Zn  ditambahkan setiap pemberian TPN
Iron ditambahkan 1x seminggu
Selenium ditambahkan 1x sebulan
Elektrolit dan cairan
Elektrolit dan cairan : ekstra sel (20 % dari BB), intravaskule 3,5 liter
Osmolaritas plasma 290MOsm/kg
Na minimal 70mmol/hari (pada pasien ggn ginjal perlu lebih dari ini)
K=50 mmol/hari
Mg = 4 mmol/hari (butuh lebih banyak pada pasien dgn GIT
PO4 = perlu ditambahkan 4-5 mmol setiap 1000 kcal TPN, jika tidak, akan terjadi hipoposfatemia selama 7-10 hari

Penyimpanan TPN :
1. Pada suhu 2-6 0C
2. Lemati Es harus rutin dikalibrasi
3. Zat2 yang mengandung lemak, tidak boleh disimpan di suhu ruangan

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 352 other followers