Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2011

Yak, kali ini kita bercerita tentang farmakoterapi pada pasien DEPRESI…

Pada mulanya, aku cukup heran (semenjak kuliah profesi dulu malah), mengapa terapi di penyakit jiwa khususnya depresi perlu kita plajari juga? Toh, ntar juga sembuh sendiri. Apalagi, kita-kita kalo lagi musim ujian, sering bilang “Deeeuuh, depresi nih gue. Kapan yaah, ujian ini berlalu?” hihi. Ternyata sodara-sodara, tak seperti yang kita kiraaaa loh (kita? Lo ajah kaliii, hehe). Karena, ternyata oh ternyata, depresi itu penyakit ke-4 yang menyebabkan disabilitas di dunia. Dan depresi adalah penyakit gangguan jiwa paling banyak dialami manusia yang paling banyak menimbulkan disabilitas. Selain itu, depresi juga meningkatkan mortilitas (dengan meningkatnya angka keinginan untuk bunuh diri) dan komorbiditas dengan penyakit-penyakit lainnya. Nah, ujung-ujungnya, pasti kualitas hidup pasien tersebut (dan juga keluarganya jika ia adalah kepala keluarga) akan otomatis mengalami penurunan. Masya Allah… Depresi juga menyebabkan beban global (bahkan mencapai 13 % dan diperkirakan sampai 15 % di tahun 2020). Dan 33 % dari disabilitas (ketidakmampuan untuk menjalani kehidupan dengan baik)disebabkan oleh gangguan psikiatrik.

 

Yang lebih menyedihkan lagi, ternyata prevalensinya itu sampai 17 % loh! Dan 30 % diantaranya tak terdeteksi. Dari  sekian banyak itu, 40 % nya ndak dapat terapi. Mengapa? Soalnya, depresi ini lebih banyak gejala somatiknya jadi yang diterapi justru somatiknya ajah. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, penyakit-penyakit depresi yang memiliki komorbiditas dengan m=penyakit medic lainnya. Selain itu, di kalangan masyarakat kita, masi ‘tabu’ tuh yang namanya sakit jiwa. Kesannya gimanaaa gituh yak?! Mana ada sih orang yang ‘ngaku’ lagi sakit jiwa? Mana mau sih dibilang gangguan jiwa. Makanya ndak banyak yang terobati.  Selain itu, ada juga kerancuan diagnosis. Yang tumpang tindih ama yang laen. Hadeuuh, lengkap deh!

 

Naaah, setelah skian banyak fatka di paparkan, dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai farmasis perlu jugak belajar tentang gangguan jiwa ini terkait obat-obatan dan terapi yang kita berikan ke pasiennya. Gitu loh. Nah, sepakat kan yah, kita belajar tentang farmakoterapi penyakit gangguan psikiatrik. Sepakatttt! Okeeh, let’s go!

 

Pertama kita masuk dulu ke Simptom atau GEJALA dari si Depresi ini.

Gejala depresi :

–          Merasa males ajah mengerjakan sesuatu, ndak punya minat buat menyerjakan sesuatu (mood depressed)

–          Merasa bersalah, merasa tak berguna (feeling to guilt, worthlessness)

–          Afek depresi (sediiih, murung)

–          Gelisah, melempem (sluggishness, restlessness)

Mudah lelah (fatigue)

–          Kurang minat (lack of interest)

–          Merasa ingin bunuh diri (suicidal tought)

–          Perubahan pola tidur (change in sleep)

–          Perubahan berat badan (lebih kurus) atau change in weight

–          Ketidakmampuan utk berkonsentrasi (inability to concentrate)

 

Etiologi (penyebab) dari depresi :

–          multi-causal  (banyak sebab)

–          konstitusi biologik( genetic)

–          psikodinamik /psikogenik/stressor masa kecil

–          stressor dari lingkungan atau psiko-sosial

–          adanya penyakit organic (sindrom otak organic)

–          sekunder terhadap suatu

–          reaksi terhadap zat/obat-obat tertentu

 

Ada 4 kategori yang harus diwaspadai pada seseorang :

1.       keluhan mood dan keluhan emosional

(merasa rendah diri , tak punya minat untuk melakukan sesuatu, apatis, mudah tersinggung)

2.       keluhan somatic

(sakit kepala, pusing, lelah, insomnia)

3.       keluhan daya ingat

(mudah lupa,sulit berkonsentrasi)

4.       keluhan dalam kehidupan

(berkurangnya kemampuan untuk mengatasi masalah kehidupan, perkawinan, dan mengisolasi diri dari lingkungan)

 

Criteria diagnsotiknya adalah :

Sedikitnya 2 dari gejala utama :

–          perasaan depresif

–          hilangnya minat

–          lemas tak bertenaga

dan sedikitnya 2 gejala tambahan :

–          rasa bersalah dan rasa tak berguna

–          sulit konsentrasi/perhatian menurun

–          gangguan pola tidur/susah tidur

–          adanya gangguan pola makan/penurunan berat badan

–          adanya rasa ingin bunuh diri

sudah berlangsung LEBIH DARI 2 MINGGU!

 

Factor Risiko Depresi

1.       jenis kelamin (wanita 2x lebih banyak dari pria)

2.       umur (onset 20-40 tahun)

3.       riwayat keluarga (kluarga depresi 3x lebih tinggi dari yang tidak mempuntai riwayat keluarga depresi)

4.       status marital (perceraian lebih tinggi dari pada yang menikah. Wanita yang menikah lebih tinggi dari pada wanita lajang, dan laki-laki lajang lebih tinggi dari pada yang menikah)

5.       persalinan/melahirkan (6 bulan pasca melahirkan)

6.       kematian orang tua di awal kehidupan (kemungkinan memiliki hubungan)

 

Gejala somatic pada gangguan depresi :

Dirujuk dari DSM IV dan ICD 10

Lebih dari 60 % pasien depresi datang dengan keluhan somatik! (Sakit kepala, pusing, masalah lambung, susah tidur, berat badan menurun, anoreksia, badan sakit-sakit, pegelinu, lelah, tak bertenaga, sakit dada, sesak nafas).

 

sebenarnya, si depresi ini ada kaitannya dengan nyeri juga. Orang yang depresi, ia lebih peka untuk nyeri. Artinya nyerinya agak berlebihan dibandingkan orang yang lagi gak depresi. Mengapa?

Ternyata, secara anatomi-fisiologi nya antara rasa nyeri dan depresi itu melalui perantara 5-HT (serotonin) dan norepineprin di jalur neuroanatomi yang berbeda tapi saling tumpang tindih. Kalo depresi itu melalui : jalur projeksi dari nucleus raphe dan locus ceruleus ke korteks serebri dan system limbic otak depan. Sementara, nyeri itu (sbagian) melalui descending pain pathways 5-HT dan noereprineprin yang menghambat input menuju ke dorsal horn neuron di syaraf spinal. Jadi, nyeri dan depresi itu ada pengaruhnya juga tho walaupun berada di jalur neuroanatomi yang beda. Kekurangan 5-HT dan norepineprin menyebabkan pengaruh terhadap kepekaan ambang nyeri dan mood. Dapat diperkirakan bahwa anti-depresan dengan kerja rangkap bisa mengatasi depresi dan nyeri…

 

(be continued insya Allah)

Read Full Post »

Seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup, sehingga pada saat ini kita sering berjumpa dengan para lansia yang di umur 70-an masih eksis (lho, koq masih eksis yah? mestinya kan masih hidup yah? hehe…). Sementara itu, pemerintah dan dunia global pada umumnya semakin berupaya untuk menurunkan angka kelahiran…. Akibatnya, terjadi pergeseran epidemiologik dan juga pergeseran demografi… Oleh sebab itu, jumlah lansia yang masih ada juga meningkat sehingga di sini perlu penanganan khusus!

Sebentar, kalo menurut sosiologi kependudukan, seseorang dikatakan lansia umur berapa yah? Hmm… kalo dari ilmu geriatrinya sih, umur di atas 60 tahun sudah tergolong Geriatri karena pada usia2 segitu, sudah mulai banyak penyakit yang menggerogoti kan yah?

Geriatri sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang mencakupi aspek medis khususnya pada pasien-pasien lanjut usia (geriatric).

Mengapa geriatri perlu penanganan khusus? Sebab pada pasien geriatri, sudah mulai terjadi penurunan segala fungsi-fungsi dalam tubuh baik itu fungsi kognitif maupun fungsi faali… Jadi, akan banyak rentetannya ke belakang jika itu sudah menyangkut obat, karena ini menyoal bagaimana nasib obat itu dalam tubuh. Lebih tepatnya adalah pada aspek farmakokinetikanya. Masi ingat kan ya, apa aspek farmakokinetika obat? Ingeeeett dooong! Ituu loh, ADME (absorbsi, distribusi, metabolisme/biotransformasi, dan eksresi) si obat dalam tubuh…. Nah, ADME ini pasti akan bersinggungan langsung dengan ORGAN FAAL TUBUH (sebut saja hati, jantung, ginjal, pembuluh darah dan lain sebagainya…) yang juga akan dicapai oleh si obat. Oleh sebab itulah, maka pada pasien geriatri perlu individualize dose, perlu penyesuaian dosis yang amat-amat sangat individual. Si kakek A dengan diagnosis yang sama dengan si kakek B belom tentu mendapatkan terapi yang sama. Akan sangat variatif tergantung bagaimana fungsi tubuhnya. Makanya, diperlukan apoteker alias farmasis di sini, untuk bersama-sama mengawasi ini… Hayuuu, go..go..go..farmasis!

Nah, pada pasien-pasien geriatric, kita juga ndak bisa ‘saklek’ tentang obat-obatan beliau. Misal, kalo diagnosis nya A, harus sgerea ditreatment dengan obat-obat untuk penyakit A. Gak bisa gituuuu, sebab banyaaaaaaaaaaak banget faktor globalnya yang mesti kita awasin dan yang mesti kita perhatiin. Apakah itu fungsi ginjalnya (CCr-nya misalnya…). Selain itu, pada pasien geriatric kan juga MULTIPATOLOGIS nih… Maka dalam menimbang-nimbang treatment, perlu kita perhatiin RISK and BENEFIT-nya juga, dan yang manakah yang LIFE SAVING nya lebih tinggi… Sebab, pada pasien geriatric, sedikit saja salah obat, recovery nya bakalan susaaah. Beda banget dengan pasien-pasien dewasa biasa yang sistem recovery tubuhnya masih oke sehingga ndak langsung drop kayak geriatric. Makanya, memang benar-benar diperlukan ART dalam diagnosis (khususnya buat si dokter nih) dan juga K|KEHATI-HATIAN yang AMAT SANGAT EKSTRA SEKALI dalam hal PENGOBATAN bagi PRESCRIBER dan FARMASIST (ini pemborosan kata banget yah? hehe…).

Satu hal yang sering kita salah interpretasikan tentang para geriatric adalah KITA SERING MEMBUAT PASIEN LANSIA ITU DIBEBASTUGASKAN DAN DIBIARKAN TIDAK MANDIRI. Mungkin karena kita sayang yah sama orang tua atau kakek nenek, sehingga nenek dan kakek (ataupun orang tua) dimanjakan. Mandi dimandikan. Mau makan diambilkan. dan seterusnya…. padahal, ini sebenarnya sebuah TINDAKAN yang SALAH!

Hal yang paling terbaik dalam memperlakukan orang lansia adalah membiarkan beliau benar-benar MANDIRI dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang sebenarnya paling penting bagi pasien geriatri. Terkcuali jika memang benar-benar tak mampu lagi untuk mandiri karena fungsi faalnya yang drop…

Untuk pengantar dicukupkan segini dulu ajah yah….
insya Allah kita lanjutkan dengan farmakoterapinya pada pasien geriatri di sesi selanjutnya…. Soalnya udah keburu mau kuliah lagi…hehe

Makasiih…

Read Full Post »

Hehe, ini tentu saja bukan sesuatu yang ada literaturnya. Dan tentu saja tak dirujuk ke referensi mana saja, kecuali ke kepala saia. Hihi…

Ini salah satu upaya dari saya saja, untuk memberikan gambaran secara global tentang lokus-lokus farmasi klinis yang harus saya kuasai sehingga saya paham integrasi antar pelajaran-pelajarannya. Tujuannya adalah biar saya mengerti di mana letak peran saya nantinya sebagai seorang farmasis klinis (ciaaaahh…) dan apa yang mesti saya kuasai…

Berikut ini adalah pro-model yang saya buat untuk saya sendiri, agar saya bisa membuat brain map dalam pikiran saya. Jika mendatangkan manfaat bagimu, alhamdulillaah…

 

Read Full Post »

What? Farmasis harus tau interpretasi data klinis? Apa-apaan ini?
Hoho… jangan emosi dulu, beib! Jika kita mau farmasis majuuu, kita kudu ikut perkembangan jaman doooong! Ya iyaaa lah!
Jadiii, Untuk pemantauan obat, kita juga mesti tau tentang interpretasi data klinis pasien. Biar ndak ‘oon’ waktu ditanyain pasien. Biar kita tau alasannya kenapa mesti dikasi obat A, atau kenapa ndak. Biar pengobatan lebih RASIONAL!

Selama ini, di eral-era jadul, berlakulah kondisi yang bikin hati miris. Dokter sebagai pelaku prescriber dipengaruhi oleh berbagai macem hal; mulai dari PROMOSI OBAT yang BEGITU AGRESIF, jumlah preparat komesrial yang berlebihaan, pengaturan pelayanan obat yang agak aneh yang berakibat justru obat jadi tidak efektif, polifarmasi (alias kebanyakan obat), trus juga malah tambah mahal obatnya, maka diperlukanlah suatu terobosan baru. Selama ini juga kan farmasis juga rada-rada ‘oon’ untuk sekedar memprotes (heuuuu, maap temen sejawatku, diriku pun juga masi ‘oon’ ko. Karena, kita juga kadang suka ndak pede kalo sudah adu argument sama dokter. Padahal, ndak semua looooh yang farmasis tau dokter juga tauu, apalagi menyangkut obat-obatan. Lagian, farmasis juga masi ndak terlalu melek soal farmakoterapi (mudah-mudahan farmasis jaman sekarang lebih baik…). Maka, kita perlu juga apdet ilmu kita. Ya gak?

Nah….sebelum masuk ke pengantarnya, kita mesti tau dulu niih, sebenarnya bagaimana siih PROSES PENGOBATAN YANG RASIONAL itu…. setidaknya, ada 6 langkah dalam proses pengobatan yang rasional.

Step 1 : Define the patients problem
Step 2 : Specify the therapeutic objective
what do you want to achieve with the treatment?
Step 3 : Verify the suitability of your P-treatment
check effectiveness and safety
Step 4 : Start the treatment
Step 5 : Give information instruction and warnings
Step 6 : Monitor (and stop?) treatment

Nah loooh, selama ini farmasis ada di step berapa coba? Paling juga di step 5 kan yah? Cuma ngasi signa tiga kali sehari doang, itu pun jarang adanya pemberian warning. Sekarang sih udah mulai mengalami perbaikan meski pun di kebanyakan rumah sakit, masih menggunakan pola lama. Dan tahukah saudara-saudariku para apoteker sekalian, sesungguhnya farmasis sudah harus ikut dari STEP SATU! Iyaaaa! STEP 1, di mana kita dan dokter adalah mitra dalam upaya pengobatan yang rasional tersebut. Kita juga mesti melakukan interpretasi mengenai MASALAH PASIEN. Ini pasien, sebenernya MASALAHNYA APA SIIIIHHH?

Maka, oleh karena itu, diperlukanlah kemampuan farmasis untuk menginterpretasikan hasil laboratorium sebagai petunjuk diagnostic. Ini penting dalam pengobatan. Jadiii, dalam tag interpretasi data klinis ini akan dibahas secara gamblang mengenai interpretasi data klinis.

Kenapa penting bagi farmasis untuk mengetahui interpretasi dari data klinis?
Karena;
Untuk menegakan diagnose (bukaaan farmasis yang mendiagnosa, akan tetapi biar kita tau juga gitu loh)
Kedua, untuk mengetahui seberapa berat sih, penyakit pasien. Ini berkaitan juga dengan alasan yang ketiga, keempat dan kelima yaitu : Menghitung dosis obat yang mau digunakan, memonitoring obat, dan memantau jalannya obat gimana. Trus, alasan selanjutnya adalah untuk mencegah timbulnya penyakit baru entar (yang mungkin saja kan ya, disebabkan oleh obat)

Nah, secara umum, pengujian laboratorium itu meliputi :
Pemeriksaan hematologinya yang berkaitan dengan kimia darah, pemeriksaan fisiknya, pemeriksaan urine dan feses. Juga pemeriksaan diagnostic seperti EKG, rontgen, Echokardiograph, USG, dan lain sebagainya

Jadi, insya Allah dalam interpretasi data klinis kali ini akan dibahas, apa-apa saja yang perlu farmasis tau. Siipp?

Read Full Post »

Psikiatri merupakan salah satu cabang dari ilmu kedokteran yang dikenal dengan ilmu kedokteran jiwa…
Meliputi : etiologi, pathogenesis, diagnosis, terapi, rehabilitasi dan pencegahan terhadap gangguan kejiwaan.
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi di mana perkembangan emosional dan intelektual seseorang berjalan selaras dengan orang lain.
Gangguan kesehatan jiwa bakal terjadi jika kepribadian seseorang gagal menjalankan fungsi dan tugasnya. Variasinya macem-macem tuh, mulai dari yang kecil (stress, susah tidur) hingga yang beratnya (skizofren). Makanya jangan gampang ajah bilang stress, soalnya itu adalah bagian dari gangguan kesehatan jiwa. Wkakakaka…

Etiologi dari gangguan kesehatan jiwa terdiri atas 3 hal yang saling terintegrasi satu sama lainnya :
Pertama organobiologi. Maksudnya organo biologi adalah gangguan organ yang dapat menyebabkan gangguan jiwa. Misalnya, seseorang yang mengalami kecelakaan lalumengalami gangguan pada kepalanya dan persyarafannya, sehingga akibatnya diajuga mengalami gangguan jiwa. Ataupada pasien stroke yang terjadi penyumbatan ataupun haemoragik (pendarahan) pada bagian pusat penentuan sikap sehingga ia juga mengalami gangguan jiwa. Pasien dengan riwayat keluarga penderita gangguan jiwa juga amat sangat rentan mengalami gangguan jiwa. Prevanlensinya bahkan mencapai 47 %

Kedua, psikoedukasi. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan pendidikan yang membikin tekanan kejiwaan terus menerus, semisal di bawah tekanan ibu tiri yang kejaaam (memangnya ibu tiri selalu kejam yah? Keknya enggak deh. Hehe… tapiii, anggap saja ini sebuah contoh yaah), atau tinggal di sebuah keluarga yang terus-menerus menekannya secara kejiwaan juga dapat menyebabkan gangguan jiwa.

Ketiga, sosiobudaya. Ini juga bisa menyebabkan gangguan jiwa. Misalnya hidup dengan penuh tekanan di lingkungan yang menuntut. Atau, misalnya seorang agamis yang begitu ekslusif dan shock berat ketika melihat dunia sekelilingnya begitu banyak kemaksiatannya, sehingga dia tidak bisa menerima hal tersebut lalu menimbulkan gangguan pada jiwanya.

Elektik Holistik
Dalam pendekatan psikiatri, ada yang dikenal dengan istilah elektik holistic.
Elektik holistic secara bahasa :
Elektik : sikap seseorang mau menerima fakta/kenyataan yang terjadi yang punya hubungan dengan penderitaan pasien
Holistic : sikap seseorang yang mau bersungguh hati memandang daya dan tenaga sebagai seorang individu yang unik.

Dalam pembahasan kali ini, akan dibahas beberapa gangguan psikiatri yaitu :
1. Gangguan kepribadian
2. Depresi
3. Anxietas
4. Psikosis
5. Skizofrenia
6. Gangguan psikoseksual
Insya Allah sekalian sama farmakoterapinya. Jadiiiii, cekidot di materi-materi berikutnya yaaah. Don’t miss it! Okeh?

Farmakoterapi II : Gangguan Kepribadian

Kepribadian seseorang akan matang setelah berumur 18 tahun. Jadi, gangguan kepribadian ini adalah pada umur 18 tahun ke atas. Jika gangguan sudah terlihat semenjak umur di bawah 18 tahun, maka prognosisnya buruk.

Gangguan kepribadian meliputi :
1. Gangguan kepribadian Paranoid
2. Gangguan kepribadian schizoid
3. Gangguan kepribadian histerionik
4. Gangguan kepribadian antisocial
5. Gangguan kepribadian pasif agresif
6. Gangguan kepribadian narsistik

Gangguan kepribadian Paranoid
GK paranoid memiliki ciri khas setidaknya pada 3 hal berikut :
a. Curiga yang berlebihan, rasa ketidakpercayaan yang berlebihan (curiga yang berlebihan, awas terhadap lingkungan padahal ndak membahayakan, bersikap menutup-nutupi, meragukan kesetiaan orang lain, cemburu patologik, gak mau dikritik, waspada yang berlebihan, selalu merasa ditipu atau dirugikan, perhatian yang berlebihan terhadap sesuatu yang mencurigakan, mencari bukti-bukti prasangka)
b. Hipersensitif, selalu merasa dihina (merasa selalu dihina dan direndahkan, membesar-besarkan masalah yang kecil, dan dalam keadaan terancam siap-siap untuk membalas)
c. Memiliki kehidupan afektif yang terbatas (dingin tanpa emosi, merasa sangat objektif dan rasional, humorisnya sedikit, dingin pasif dan tiada kelembutan)

Gangguan kepribadian schizoid
GK schizoid ditandai dengan :
a. Dingin, acuh tak acuh
b. Memiliki hubungan pertemanan yang sedikit banget (1-2 orang saja)
c. Prilakunya eksentrik
d. Sikapnya indiferen terhadap pujian, kritikan maupun perasaan orang lain

Gangguan kepribadian histrionic
GK Histrionik ditandai dengan :
a. Dramatisasi (dramatisasi yang berlebihan, berusaha menarik perhatian, menginginkan rangsangan/aktivitas yang menggairahkan, ngambek yang tidak rasional, reaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil)
b. Hubungan interpersonal yang spesifik (tampak dangkal dan tidak sungguh-sungguh, walaupun sepintas tampak menarik, egosentrik, bergantung pada orang lain dan selalu mencari dukungan, suka menuntut dan tampak angkuh, manipulative/mengancam akan bunuh diri)

Gangguan kepribadian antisocial
GK antisocial ada pada 2 perode umur
a. Jika terjadi pada usia 18 tahun
Cirri-cirinya adalah : malas bekerja, suka “berbohong”, tidak bertanggung jawab terjadap keluarga, banyak hutang, suka berfoya-foya,tidak taat norma dan aturan, agresif dan mudah tersinggung, gagal memelihara hubungan dengan pasangan dsb)

Gangguan kepribadian pasif agresif
Cirri-cirinya adalah :
a. Resisten terhadap tuntutan agar penampilannya adekuat baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan social
b. Resistensi yang tidak langsung ( suka melambat-lambatkan pekerjaan, sering “lupa”, bekerja tidak efisien, keras kepala)

Gangguan kepribadian narsistik
Cirri-ciri GK narsistik :
a. Merasa bangga & memuja dirinya bahwa dirinya hebat, misalnya memperkirakan kemampuan, kecantikan atau bakatnya secara berlebihan.
b. Preeokupasi dgn fantasi tentang sukses dirinya
c. Selalu membutuhkan perhatian & pujian yg terus menerus.
d. Respon yg acuh terhadap kritik atau kekalahan yg ditandai perasaan marah.
e. Sekurangnya terdapat 2 ciri khas dlm gangguan hubungan interpersonal yaitu; menuntut perlakuan istimewa, mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari orang lain,hubungan yang ekstrim disatu pihak menyanjung & dipihak lain merendahkan, kurang mampu berempati.

Read Full Post »