Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2012

Yak, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai farmakoepidemiologi subtopik UJI KLINIK. Uji klinik merupakan salah satu tahapan dalam pembuatan obat baru. Uji klinik itu sendiri merupakan serangkaian  penelitian yang dilakukan secara eksperimental terhadap manusia. Jadi, uji klinik ini haruslah bersifat ekperimental (ada intervensi atau perlakuan terhadap manusia) dan kemudian dianalisa data yang diperoleh. Nah, jika penelitian sudah melibatkan manusia sebagai subjeknya, HARUS dilakukan perijinan dulu terhadap komite etik. Dalam proses aproval obat baru, rangkaian penelitian uji klinik ini HARUS dilakukan dan dilampirkan pada lembaran pengajuan obat baru. Dan, bisa memakan waktu bertahun-tahun loh! Hingga lebih dari sepuluh tahun! (makanya menemukan obat baru itu ndak mudah! butuh dana bessuaaarr! dan juga melibatkan banyak orang! jadi, jangan heran kalau obat itu mahaaaal. apalagi obat yang masa patent nya belum habis. Ini untuk menutupi biaya yang dikeluarkan selama penelitian).

 

Okeh, back to leptop.hee… 😀

Sebelum dilakukan uji klinik, haruslah dilakukan terlebih dahulu uji pre-klinik yaitu uji toksisitas dan efektifitas obat yang dilakukan terhadap hewan uji. (ini loooh, yang sering dilakukan oleh mahasiswa farmasi di seluruh Indonesia, dimanapun kampusnya. Pasti deh ada area peternakan mencit dan tikusnya. Kalo di komplek perumahan tikus dibasmi, oleh anak farmasi malah dipiara. hihihi…). Hanya saja tak ada yang sampai ke uji klinik, soalnya ndak sanggup tuuuh biayanya, waktunya, tenganya. Kecuali kalau ada anak farmasi yang superduper kayaaa trus bersedia lulus farmasi selama 15 tahun. haha. Kayaknya mustahil aqli deh. Mungkin nda ada yang mau kali yah? hehe… 15 taun itu gue udah kemana-mana cuy! protes mereka…

 

Setelah uji pre-klinik, diajukan permohonan ke komite etik untuk dibolehkannya dilakukannya percobaan uji klinik. Banyaaak banget tuh syaratnyaa, sampai dibolehkan. Setelah dikasi ijin, baruu deeh uji klinik siap dilaksanakan!

 

Tahapan-tahapan dalam uji klinik

1. Uji Klinik Fase 1

–> uji klinik fase 1 dilakukan untuk melihat safety suatu obat! untuk melihat keamanan suatu obat. dilakukan terhadap relawan sehat. jumlah subjek penelitian 20-100 orang dengan dosis 1/50 kali dosis minimum yang dapat menimbulkan efek pada hewan uji. Dan, dosis ditingkatkan secara gradual untuk melihat safety dan toleransi terhadap obat. untuk penyakit-penyakit berat, ada pengecualiannya, jika itu sudah mengancam jiwa manusia atau efek yang sangat merugikan.

2. Uji klinik Fase 2

–> pada uji klinik fase II ini sudah melibatkan pasien yang sakit sesuai dng indikasi pengobatan. Melibatkan 100-200 peserta. Tujuannya adalah untuk melihat dosis manakah yang paling optimal dan paling efektif dalam pengobatannya

3. uji klinik fase 3

–> pada uji klinik fase 3, sudah melibatkan subjek yang lebih banyak lagi. sekitar 300-3000 pasien. Tujuannya adalah untuk membandingkan antara efek terapi obat yang kita uji dengan plasebo atau dengan obat yang sudah ada. Naah, pada fase ini mulai dilakukan randomisasi (gold standarnya adalah RCT : Randomize Controlled Trial). Jadi, kita bandingkan, adakah kelebihan obat baru ini dibandingkan obat yang sudah ada. atau jika bener-bener baru, adakah ia memberikan efek dibandingkan dengan placebo.

 

Setelah selesei sampai uji klinik fase 3, obat bisa didaftarkan ke badan yang berwenang. Kalo kita di Indonesia ya ke Badan BOM. Kalo kita orang amerika ke FDA. hee… (tapiii, aku siih tetep bangga jd orang Indonesia, jiyyaaahh… :D)

 

ingaaat, uji nya tak berhenti sampai di sini saja. akan ada post-marketing surveillance! Di sini niih farmakovigillance itu berperan banget. Insya Allah akan kita bahas di sesi selanjutnya. Cekidot yaahh 😛

 

oh iyaaa, jangan lupakan satu hal! bahwasannya, uji klinik tak hanya dilakukan pada obat baru saja, tapi juga tindakan medik lainnya, diet, akupuntur, tindakan bedah! Mereka semua juga melakukan uji klinik looh. Okeeh? Siipp??

Advertisements

Read Full Post »

Hemmm…Mari kita lanjutkan tentang sistem penghantaran obat dan pentargetan. Yaah, ini adalah kelanjutan dari ‘kisah’ sebelumnya. Hehhe… (hmm…kalo boleh jujur nih yaah, sesungguhnya dahiku cukup berkerut 7 jugak memahami materinya. Bukan yang dari buku, tapi dari slidenya. Hehe…. Jadiii, aku hanya mencoba menjelaskan apa yang aku paham dulu yaah. Aku juga ndak mau menyesatkan orang lain ko. Jadiiii, aku menjelaskan sebatas pemahamanku dulu… Insya Allah fighting buat memahaminya lebih daleeem 🙂

Jadii, dalam merancang suatu DDS, ada 4 hal yang mesti jadi perhatian bangeeet :

1. Penentuan Targetnya

–> Jadiii, kita tentukan dulu nih target yang mau kita treatmen itu apa. Biasanya, ada  molekul-molekul tertentu yang ter-ekspresi ketika terjadi kondisi patologis pada permukaan sel atau jaringan yang injury (mengalami kondisi patologis). Mungkin dalam kondisi normal, molekul tersebut ada, tapi tak banyak. Nah, dalam kondisi potologis molekul itu banyak sekali terekspresi sehingga inilah yang bisa kita jadikan target. Umumnya yang dijadikan target itu adalah reseptor, ion channel (protein pada ion channel, enzym atau transporter)

2. Tentukan ligand yang akan berikatan secara spesifik dengan produk dan targeting. Untuk

3. Tentukan Vehicle/kendaraan yang akan membawa menuju target. Bisa digunakan antibodi akan tetapi anti bodi yang kita miliki ketika sudah dikeluarkan lalu kemudian dimasukkan kembali ke dalam tubuh, justru akan menyebabkan perlawanan tubuh, meskipun berasal dari tubuh sendiri. Jadi, sekarang sedang dikembangkan vehicle yang berupa potongan epitop atau bagian spesifik lainnya, yang dapat berikatan.

4. Tentukan formulanya. Formula seperti apa yang kita inginkan. Biasanya, kalau dalam bentuk oral, akan banyak rintangan yang dilaluinya. Jadi, formula yang kita desain adalah formula yang dapat mengantarkan tanpa ada kerusakan atau pun gangguan selama perjalanan menuju targetnya. Kalau sekarang, teknologi nano partikel mah sedang gencar-gencarnya dikembangkan…

 

Cukup sekian dulu yah, untuk sesi kali ini. Insya Allah akan kita lanjutkan lagi. semangat belajarr!

Read Full Post »

Hmm…Belajar ADR (Adverse Drug Reaction) atau Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) sesungguhnya sangat menarik. Dengannya, kita bisa tau tentang reaksi-reaksi obat yang mungkin saja terjadi, meskipun ROTD ini tidak terjadi pada semua orang. Nah… hayuuu, cekidot, tentang ROTD. Masi secara glbal dulu yah? Siipp??! 🙂

Sebelum lebih jauh melangkah, mari kita review kembali, sebenarnya peranan apoteker itu papa siihhh?

Pernan apoteker itu adalah mendeteksi, mencegah dan menyelesaikan MASALAH TERKAIT OBAT. Naaahhh, ini niih peran apoteker yang sesungguhnyaa (ngomong-ngomong di dunia nyata kefarmasian, udah jalan belum yak? Heuu….mungkin masi sebagian kecil yang jalan…). Terkait obat ini maksudnya menjamin obat yang diberikan itu terjamin mutunya dan tepat penggunaannya. Masalah terkaid obat atau DRP (Drug related problem) ini bisa saja aktual (yang sudah terjadi) dan potensial (yang berpotensi terjadi).

Klasifikasi DRP (Drug related problem) itu apa saja?

sebenarnya sih buanyak orang mengklasifikasikannya ke berbagai kelompok. Tapi, intinya sih sama ajah. Hee…

kita pake klasifikasi menurut Cipole et al ajah yaah.

Cipole et al mengklasifikasikan DRP menjadi :

1. Indikasi

–> terapi obat tidak diperlukan

–> obat tidak diberikan

–> obat yang diberikan tidak sesuai

2. Efektifitas

–> terapi obat tidak efektif

–> dosis obat terlalu kecil

3. Safety

–> Reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) atau ADRs

–> dosis terlalu tinggi

4. Ketersediaan

–> menyangkut kepatuhan. Tapii, kepatuhan bukan hanya salahnya si pasien. Bisajadi nakesnya yang salah menyampaikan infrmasi, atau salah-salah lainnya yang menyebabkan pasien tidak menggunakan obatnya. Bisa juga masalah biaya. de es be..

Naahhhh yang akan kita bahas itu, adalah bagian dari DRP yaitu yang cetak tebal, dimiringkan lagi! (lengkap sudah dah! hehe).

Adverse Drug Reaction (ADR)/Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD)

ROTD atau ADR sering disalah artikan oleh masyarakat awam (bahkan oleh farmasis sendiri) sebagai EFEK SAMPING OBAT.

Yang dimaksud dengan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) itu adalah respon terapi yang mengganggu/yang tidak diinginkan yang terjadi pada dosis terapi. sedangkan efek samping obat  adalah efek yang tidak diinginkan dari suatu obat pada dosis terapi yang terkait dengan farmakologi obat.

Pharmacovigilance yaitu suatu metode yang digunakan untuk menentukan efek merugikan atau risiko dari suatu obat pada suatu populasi atau suatu populasi yang spesifik.

Medication error merupakan kegagalan terapi yang terkait pada prosesnya. sebenarnya bisa kita cegah. Medication error ini dapat terjadi pada dokter, perawat, pharmasis maupun pasiennya.

 

Mengapa ROTD muncul?

Ssebelum tahun 1960-an, ROTD tidak begitu jadi perhatian. Namu, sejak kasus Talidomid (yg menyejarah itu), dunia menjadi tersentak. Dan, dimulailah perhatian terhadap efek-efek merugikan terkait obat-obatan. Sejak itu, mulailah digencarkan farmakovigilance, terutama pada studi post-marketing surveillance. Jadii, kita harus berhati-hati sebab TIDAK SEMUA OBAT ITU AMAN! Apalagi,ROTD tidak muncul pada semua orang…

 

KLasifikasi ROTD

ROTD dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Tipe A : ROTD terkait farmakologis nya

–> umum terjadi (angka kejadiannya tinggi)

–> angka morbiditasnya tinggi

–> angka mortalitasnya rendah

–> bergantung pada dosis yang diberikan

2. Tipe B : ROTD yang tidak terkait dengan farmakologi (tidak dapat diprediksi secara farmakologi)

–> insidennya rendah

–> morbiditasnya rendah

–> mortilitasnya tinggi

 

Ada juga yang mengklasifikasikan menjadi tipe C, D, E, dan F

Insya Allah kita bahas lagi di sesi selanjutnya 🙂

Read Full Post »

Hemm…ini pertama kalinya belajar farmakoepidemiologi. Hehe… Menarik siiih. (hehe, enaknya kalo segalanya dibuat jadi menarik yaah. Jadiii, mempelajarinya dengan penuh rasa ingin tahu. Jiyaaahhh….). Yaahh, lagi-lagi aku mencoba mencarinya “diluar” dari apa yang didapat di kampus. Jiyaaahhh…*soksokrajin. hihihi…

Setidaknya, belajar farmakoepidemiologi membuat aku mengerti betapa dangkalnya novel “The Green Palace” yang  kubuat dulunya. Dan, belajar farmakoepid membuat aku jadi ingin memperbaiki kembali sekaligus menyempurnakan novelku itu (*geplak! harus S2 dulukah untuk menyelesaikan sebuah novel?? hehehe…hampir-hampir tidak masuk akal! :-P)

Tadi aku coba download bukunya. Tapi…tapi…, tak berhasil. Heuu… Tak apalah. Mencoba belajar dengan apa adanya dulu. Yaah, setidaknya mencoba mengerti tentang farmako-epidemiologi itu sendiri dululah.

 

Farmakoepidemiologi itu sendiri sebenernya tools atau perangkat yang bisa kita pake buat menjawab pertanyaan yang terkait obat…

Farmakopidemiologi juga berarti aplikasi dari ilmu epidemiologi; metode dan alasan untuk mengetahui kemanfaatan (benefit) dan juga adverse (kejadian yang tak dikehendaki) dari suatu obat pada populasi manusia.

 

Tujuan dari farmakoepidemiologi ini adalah untuk mengawasi, mengontrol dan memprediksi obst-obst ysng digunakan pada treatment farmakologi pada waktu, tempat dan populasi tertentu. Sehingga diperoleh info mengenai : efikasi, safety dan ekonomi dari suatu obat.

Efikasi

karena evaluasi obat pada pre-marketing itu sangat terbatas dan juga ‘terkondisikan’, maka mungkin belum cukup adekuat untuk mengetahui efikasi secraa lebih luas

Safety

sama dengan efikasi, karena keterbatasan sampel pada pre-marketing (uji klinik), jadi perlu dipelajari post-marketing surveilance.Apalagi pada pre-marketing ini, juga menyangkut kode etik percobaan pada manusia. Jadii, ketat sekaliii. Makanya diperlukan banget yang namanya farmakoepidemiologi ini.

Ekonomi

yah ndak bisa dipungkiri juga tho yah, harga iniiih. Secara ekonomi, kira-kira bakal menguntungkan tidak, ini obat. maka, perusahaan terttentu atau LSM masyarakat tertentu juga melakukan studi farmakoepidemiologi.

 

Mengapa post-marketing surveillance itu penting?

Karena keterbatasan pada uji klinik fase 1-3. Ya, terbatas sekali. Karena menyangkut kode etik, trus menyangkut biaya yang bessuaaarrr, jadinya ya terbatas. Poko nya ribet daah, sampai drug-approval itu terwujud. Hemm…makanya bikin obat baru itu tak gampang, cuy! Jadi inget waktu itu, ketika temen aye bilang, “Fathel, hayooo bikin obat baru, gih!” Hadeuuuuhh, jangan enak-enakan aje nyuruh aye bikin obat baru kalo ndak menyediakan dana sekurang-kurangnya 200 jt USD. Hahaha… :-D)

Banyak loooh akhirnya obat-obat baru yang kemudian ditarik dari pasaran karena baru ketauan efek jahatnya (adverse) nya setelah dilakukan “post-marketing surveillance”. (eh, ngomong-ngomong di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini, post-marketing surveillance nya dilaporing ke Badan POM tidak yah? jangan-jangan cuma disimpen buat konsmumsi prusahaan doang. Apalagi rakyat indonesia juga jarang melaporkan kejadian Adverse Drug Related. Deuhh, kasihannya Indonesia-ku tercinta).

Apa contohnya obat-obat yang ditarik dari pasaran lagi (bahkan sebagian umurnya tak sampai setahun!) atau istilah kerennya Drugs-Withdrawal

– Talidomid (semua orang juga sudah tau tentang kisah si Talidomid ini kan yaah? jadiii tak perlulah kuceritakan kembali…)

-Dietilbesterol untuk penguat rahim dan menghindari pendarahan ketika melahirkan ternyata justru menyebabkan kanker vagina dan kanker serviks bagi anak perempuan yang dikandungnya.

-Stavudin(obat HIV/AIDS) yang bikin lipodistrofi. Thailand yang melaporkan kejadiannya.

-Pioglitazone dan kaitannya dengan Bladder-Cancer dan lain sebagainya

 

Jadi, Apa Beda Pre-marketing dan Post-marketing surveillance?

Pada Pre-Marketing Surveilance :

1. Orientasi : hanyalah untuk mengetahui efek dan safety

2. Tools : uji klinik 1-3

3. Info yang bisa didapat : efikasi dan safety (dengan pasien yang dikondisikan)

4. Subjek penelitian : hasil seleksi yang ketat (ada kriteria eksklusi)

5. Kemungkinan lain : bisa dihilangkan. Seperti, bersamaan dengan obat lain, pola makan, gaya hidup, usia, kehamilan dan lain sebagainya.

 

Post Marketing Surveillance :

1. Orientasi : kebijakan apakah obat diteruskan atau ditarik dari pasaran

2. Alat/Tools : uji klinik fase IV/studi farmakoepidemiologi

3. Info yang bisa didapatkan : efektivitas obat

4. Subjek penelitian : tidak terlalu ketat, hampir semua orang bisa menggunakan obat tersebut (tidak terbatas, tak terseleksi)

5. Kemunginan lain : tak dapat dihilangkan. Tak ada kriteria eksklusi. Mungkin saja orang hamil, bersamaan dengan obat lain dan pola makan serta gaya hidup bervariasi.

 

Apa saja yang kita dapatkan dengan studi farmakoepidemiologi?

Farmakoepidemiologi dapat menjawab pertanyaan terkait obat sebagai berikut :

1. Long term effect. Obat-obat yang efeknya jangka panjang. contohnya : kaitan antara estrogen dengan kanker endometrium

2. Low Frequency effect. Obat-obat yang angka kejadiannya sangat jarang. bisa ditemui pada populasi yang sangat besar. contoh fenilbutazon dan kaitannya dengan anemia aplastik, klindamisin dengan colitis, dan halotan dengan jaundice.

3. Effectiveness in Costumary Practice. Bagaimana penggunaannya pada pasien anak-anak, pasien ibu hamil, rawat jalan, pasien emergeny. Perlu atau tidaknya upgrading tenaga kesehatan

4. Efficacy in new Indication. Maksudnya, ditemukan indikasi baru dari indikasi yang diapprove. Baru ketahuan ternyata obat tersebut efektif juga untuk indikasi yang lain. Contohnya propranolol untuk antihipertensi, captopril untuk reumatik athritis, amantadin untuk mabok jalanan (antihidtamin) yang sebelumnya buat parkinson, gabapentin untuk neuropati dan lain sebagainya.

5. Secondary effect. Efek keduanya bagaimana bagi pasien

6. Modifier of Efficacy. Jika dikombinasi dengan obat lain, kira-kira ada sinergis tidak? dan lain sebagainya…

 

Nah, menarik bukaaan?
Siip deeeh, buat selanjutnya kita lanjutkan dengan metode-metode dalam farmakoepidemiology. Tetep ikuti perkembangannya yaaahh.. Hehe

Skrang ak mw bikin tugas duluuu… 😀

 

 

Read Full Post »

Sistem Penghantaran Obat dan Pentargetan

Uhm… Pertama belajar DDS (Drug Delivery Sistem), aku cukup puyeng mengumpulkan materi-materinya dalam satu folder di otakku. Mungkin karena belom pernah belajar ini (pernah siiih, tapiii bukan DDS, melainkan materi yang sedikit berkaitan…hee). Selain itu, karena abis liburan, jadiii otakku mungkin juga belum dipanasin. (Ahaha, memangnya senam? Ada pemanasannya…). Jadilah aku harus merujuk DDS-nya Kewal K Jein duluuu. Tapiii, belom namatin kooo, tenang ajaaaah. Soalnya bahasa Inggris, jadii mesti mengernyitkan dahi dulu untuk membaca dan memahaminya. Hehe…

 

Sistem Penghantaran Obata tau Drug Delivery Sistem (disingkat DDS ajah yah?! Hehe) merupakan suatu cara gimana supaya si obat itu nyampe ke targetnya. Nyampe ke tempat yang sakit, sehingga jaringan dan sel yang rusak itu bisa diperbaiki. Soalnya, kalau dalam bentuk zat aktif saja, yaaa susaaaah dooong! Soalnya ada serangkaian proses panjang yang akan dilalui si obat hingga sampai ke targetnya. Deuuh, pokonya perjuangan obat itu untuk sampai ke targetnya itu berrrraaattt banget dan buanyaaaakkkk banget rintangannya. Nah lohh, obat sahaja udah begitu beratnya tetep berusaha untuk melewati rintangan itu demi tercapainya tujuannya. Bagaimana dengan kita yah? Masa mau kalah sama obat, coba?

 

Jadiii, DDS itu seperti regimen dose gituuuh. Sediaan seperti apakah yang bisa kita buat dan kita rancang untuk kondisi pasien, gituuuuh… Yaaah, mirip-mirip pemilihan bentuk sediaan dah. Naah, tetapii, apapun bentuk sediaannya, PASTi dibutuhkan kajian yang mendalam mengenai apa dan bagaimananya si obat itu sampai ke targetnya.

 

Sampai hari ini siiih, oral masih menjadi pilihan utama disebabkan obat oral merupakan sediaan paling stabil dan paling bisa diterima pasien.

Naah, semisal obat oral kaya tablet begitu, ada banyak hal yang mesti kita pertimbangkan dalam DDS nya. Kita juga mesti memahami farmakokinetika obat itu bagaimana. Karena obat oral itu pasti akan melintasi membrane. Kalo melintasi membrane, tentu kita juga mesti tau sifat si obat apakah hidrofilik atau lipofilik, karena membrane terdiri atas lapisan lipid bilayer. Kelarutan zat obat dalam lipid maupun air bagaimana. Jadi, koefisien partisi obat itu juga mesti dipahami dong? Ya mesti! Gimana caranya? Ituloh yang pake oktanol-air itu. Masi ingat tak? Kalau tidak, yaudah plajari lagi yaah. Kalau terlalu lipid, dikhawatirkan ndak bisa lewat dianya. Terperangkap di sana doang. Kalo terlalu air, dikhawatirkan bakalan ditolak sama si lipid secara membrannya adalah lipid bilayer kan yah? Jadii, harus seimbang, jangan terlalu air dan jangan terlalu lipid. (ehhh, ngomong-ngomong, ngerti kan maksudku tentang ‘terlalu lipid dan terlalu air’ kan yaah?? Maksudnya terlalu lipid itu terlalu non-polar dan terlalu air itu terlalu polar). Pokonya, ADME itu mesti kita pahami deh. Terutama ABSORBSI nya bagaimana, tho…

 

Obat itu melintasi membrane dalam bentuk MOLEKULAR bukan PARTIKULAR. Untuk sampai di pembuluh darah, HARUS melewati membrane dong!  Jadiii, peristiwa TRANSMEMBRAN ini adalah hal yang penting dalam DDS.

 

Transmembran itu ada 2 progres :

Pertama, Transelular. Zat itu lewat via sel-selnya. Bisa pake diffuse pasif, diffuse aktif, membrane yang difasilitasi dan lain sebagainya. Udah pada belajar kaaan, yang ini? Kalo belum belajar, yaudah belajar sana gih! Hee

Kedua, Paraselular. Ini caranya adalah melalui celah antar sel. Yang namanya celah, so pasti kecil lah yaah. Jadiiii, kebanyakan yang bisa lewat sini ya Cuma ion-ion dan molekul yang ukurannya kecil doang.

 

Hanya saja, sekarang ini sedang dikembangkan obat-obat terutama yang targeted therapy untuk via paraselular. Obat targeted itu kan umumnya molekul besssuaaarr yang berbasis bioteknologi dari protein atau peptide. Kalo via membrane ka nada enzim-enzim untuk menghancurkan atau merusak kan yah. Jadi, memang diusahakan via celah itu tadi.

 

Oh iyaa, jangan lupakan satu hal! Bahwasanya obat-obat yang peroral, harus dipertimbangkan juga first fast effect nya, yang menyebabkan obat berkurang khasiatnya. Juga tentang R-gp (R-glikoprtein) yang diduga berperan penting dalam kasus MDR (Multi Drug Resisten). Perannya si R-gp ini adalah refluks pump, yang mengeluarkan kembali obat-obat yang sudah masuk ke membrane. Huuuh, jahat yah dia!

 

Selanjutnya sublingual, rectal, inhalasi, iv,im, dan seterusnya, dibahas belakangan ajah yaah. Si Kewal K Jein sudah membantu merangkumkan dalam satu table ko. Jadii, silahkan rujuk ke table beliau ajah. Kalo nda punya bukunya, nanti aku kasi deeh. SMS atau kirim email ke aku saja, insya Allah aku kirimin bukunya. Hehehe…

 

TARGETING

Inti dari targeting ini adalah obat diharapkan sampai HANYA ke targetnya saja. Ketempat dia mengalami sakit atau kerusakan saja. Terobosan yang sudah ada itu seperti obat-obat yang diharapkan pecah di lambung, di usus bahkan di kolon! Yang lebih muakhir adalah targeting kaya produk-produk bioteknologi gituh yang diharapkan tidak terdistribusi di seluruh tubuh melainkan hanya pada tempat yang ditargetkan saja.

Hemmm, sebenarnya setiap penyakit punya reseptornya masing-masing yang akan dikenali oleh si obat. Akan tetapi obat terdistribusi secara menyeluruh dalam tubuh dan si reseptor sakit tidak hanya terletak pada tempat yang sakit melainkan juga terletak pada tempat-tempat lain. Hal inilah yang kemudian menimbulkan efek samping! Kalo masi taraf ndak bahaya, ESO (efek samping obat) bisa diabaikan. Tapiii, bagaimana kalau serius ESO nya?? Makanya, targeted ini diharapkan ndak menyebabkan efek samping bagi yang lainnya. Gituuuh…

 

DESIGN OF TARGETED DRUG DELIVERY SISTEM

 

Naah, desain targeting DDS ini dibahas secara garis besar dulu yaah. Insya Allah akan kita lanjutkan kisahnya di sesi berikutnya. Soalnya ndak bisa singkat doong penjelasannya, jadi pertemuan kita dicukupkan segini dulu.

 

Secara umum, dalam mendesian targeting DDS, hal yang HARUS kita perhatikan adalah:

  1. Determinasi dimana target tersebut.
  2. Plajari ikatannya bagaimana
  3. Pilih “kendaraan” si obat untuk sampai ditujuannya!

 

Siiip, insya Allah dilanjutkan dipertemuan selanjutnya. Cekidot nanti yaahh…

Read Full Post »