Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2012

Adverse Effect Antibiotika

“Fatheeeeeeeeeeellll, presentasimu kaga bisa dibuka di laptop akuu….” Hehe, ini protesnya Sri. Yaa, secara Serii pake OS Macintosh jadi, beda doong. Hehe. Dan presentasiku itu juga dijelaskan secara per-oral. Nda aku sertakan dalam presentasi. “Fathel, jangan pake yang muncul2 gituuh dong. Kita kan nda tau di mana posisinya.” Kali ini giliran Rinda yang protes. Hee…Jadi, aku mohon maaf atas ketidaknyamanan temen-temen ngebaca presentasi aku yaah. Sebagai salah satu bentuk tanggungjawab dari aku, maka aku aplodkan pembahasan mengenai ADR antibiotika. Oh iyaaa, bagi yang pengin jurnalnya (aku melibatkan banyak jurnal dalam pembahasan kali ini) silakan call me atau dateng ajah ke kampus besok pas seminar hasilnya senior, jadi kita bisa saling share jurnal maisng-masing. Siippp??

 

ADR Antibiotika ini nda aku grouping berdasarkan antibiotikanya melainkan berdasarkan kelompok patologisnya. Jurnal yang memuat ini adalah Antibiotic Adverse Reaction and Drug Interactions, Granowitz et al,2008.

 

1. Anaphylaxis dan reaksi hipersensitif lainnya (kayak toksisitas di deramal)

–> merupakan ADR type-B (unpredictable). mekanismenya adalah obat berikatan dengan serum protein –> membentuk hapten –> dikenal oleh tubuh sebagai antigen –> menyebabkan diaktifkannya sel T dan rx cepat yang diinduksi oleh pengaktifan sel B –> sel B memproduksi IgE –> jika antigen berikatan dengan IgE –> mentriger pelepasan mediator inflamasi –> reaksi hipersensitifitas (anaphylaxis, rx d kulit dsb). Rx anaphylaxis terjadi karena adanya penekanan terhadap sal. pernafasan. Kalo ke kulit, disebabkan adanya angioedema, adanya vasodilatasi pembuluh darah dan peningkatan permeabilitas membran –> bengkak, panas, dan merah.

 

2. Gangguan elektrolit

–> disebabkan terutama oleh adanya antibiotika yang mengandung Na dalam kadar tertentu yang dapat mengganggu elektrolit bagi pasien yang memang mengalami gangguan fungsi jantung, atau yang hipernatremia. selain tu, juga trimetoprim itu strukturnya mirip dengan amiloride (diuretik hemat kalium) yang menyebabkan hiperkalemia –> bahaya bagi pasien dg gangguan jantung

 

3. Cardiotoksik

–> makrolida terutama dan floro quinolon dapat memicu adanya pemanjangan gelombang QT –> torsade de pointes. Hati-hati penggunaannya pada pasien dengan riwayat aritmia. Mekanismenya adalah karena disebabkan oleh metabolit dari makrolida itu akan memblokir kanal I kr (kanal K cepat/rapid) yang dapat memperpanjang gelombang QT.

 

4. Nefrotoksik

–> terutama oleh aminoglikosida disebabkan adanya stress oksidatif yang menyebabkan kematian sel. Jalurnya ada banyak sih. Ada di jurnalnya. Vancomisin mekanisme nefrotoksiknya masih belum jelas, kemungkinan karena adanya efek oksidatif pada sel tubulus ginjal

 

5. Hepatotoksik

–> terutama obat-obat TB.  Isoniazid, metabolisme nya melalui asetilasi di mana metabolitnya menimbulkan toksik karena radikal bebasnya. Rifampicin mengganggu uptake bilirubinb akibat penghambatan pompa eksporter garam empedu. Tetra siklin dapat memicu perlemakan hati dengan berikatan dengan t-RNA –> menurunkan sintesis protein –> menurunkan formasi VLDL –> menurunkan transpor trigliserida ke luar hati –> perlemakan hati.

 

7. Diare

–> ada 2 teori

a. Karena antibiotika yang efeknya langsung menyebabkan diare. Neomisin –> menyebabkan perubahan histologi mukosa usus halus dan memperpendek vili-vili usus. eritromisin –> menginduksi kontraksi antral & mempercepat pengosongan lambung.  amox-clavu –> menyebabkan abnormalitas pd motilitas sal cerna.

b. Tak langsung

– karena menurunnya bakteri pendegradasi oleh si Ab atau overgrowth bakteri patogen, terutama Clostridium difficile.

 

8. Antiniotika pada anak

Cloramphenikol –> menyebabkan penekanan sum-sum tulang secara irreversibel–> anemia aplastik

Cloramphenicol –> menyebabkan grey baby syndrome

tetrasiklin –> menyebabkan stain the teeth, gigi kuning pd anak karena adanya pembentukan chalat antara ion calsium dengan tetrasiklin

floroquinolon –> menyebabkan gangguan perkembangan karena adanya tendinopati dan atralgia karena dia menghambat sintesis DNA mitokondria pada kondrosit immature –> gangguan pembentukan tulang.

 

Interaksi Obat sudah dibahas secara lengkap di presentasi kan yaahh.. ^__^

jika ada sesuatu yang nda dipahami atau yang kurang lengkap, sila call me yaah temaaannnn…

Trima kasih… ^__^

 

 

*maaf, kali ini postingan ‘egois’, yang diperuntukan hnaya untuk kalangan terbatas. hehe…

 

Read Full Post »

Perkembangan dunia perobatan saat ini semakin canggih. Dari yang konvensional, kemudian personalize medicine, hingga ke Nanomedicine (Molecular Targeted Therapy).

 

Molecular Targeted Therapy merupakan suatu sistem pengobatan di mana, ada suatu molekul spesifik sebagai target terapi. Obat + Molekul target = targeted therapy

 

Molecular Targeted Therapy ini harus dipelajari dulu secara klinis bagaimana kondisi patofisiologi penyakit, harus dapat dipantau secara klinik dan merupakan penanda keberhasilan terapi.

Molecular Targeted Therapy dapat digunakan untuk pengobatan penyakit genetik seperti : Sistic fibrosis, gangguan darah, muscular disthorphy, growth hormone. Dan juga penyakit yang acquired seperti : Kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit CNS, dan penyakit AIDS.

 

Nah, sekarang kita fokus ngebahas : Targeted Therapy pada penyakit kanker.

sasaran terapi adalah –> menghambat pertumbuhan sel kanker

 

Penggolongan terapi kanker :

1. Inhibitor reseptor tyrosine kinase

2. Inhibitor angiogenesis

3. Inhibitor pertumbuhan sel : EGFR dan VEGF

4. Imunokemoterapi, imunotoksin

5. Nucleic Acid Targeted Therapy

6. Virotherapy

 

Konsep Targeted Therapy pada sel kanker :

1. Membunuh sel kankernya secara langsung

2. Menghambat siklus sel (menginduksi terjadinya apoptosis)

3. Menghambat metastase tumor

4. Menghambat neoangiogenesis

5. Menstimulasi sistem imun terhadap sel tumor atau imunitas antitumor (sitokin atau vaksin)

 

 

Targeted Cancer Therapy

> Mneingkatkan targeting obat

> Meningkatkan efisiensi

> Pemilihan konsep terapi yang tepat

 

Oh iya, mengenai ini kapan-kapan kita lanjutkan lagi yaahh. Aku masih harus belajar yang lain. Jadi, mohon dimaklumi. Terima kasih….

Read Full Post »

Hemm…sejujurnya, farmakogenetik dan farmakogenomik merupakan ilmu baru bagi aku. Dulu, waktu S1, jarang sih disinggung-singgung soal farmakogenomik. Tapi, sejujurnya, aku sangat menyukai belajar farmakogenomik. Sesuatu banget deh pokoknya. Hehe…

 

Farmakogenetika itu mencakup suatu penelitian mengenai variable genetik yang dapat menyebabkan perbedaan respon individual manusia terhadap obat.

Farmakogenetik mempelajari tentang varian-varian monogenetik yang mempengaruhi respon terhadap obat.

Farmakogenomik mengacu kepada seluruh spektrum gen yang berinteraksi dengan respon obat.

 

Kadang, kita bertanya-tanya, kenapa sih, guweehh (hehe…) makan obat A nda sembuh-sembuh, tapi si X makan obat ini dikit ajah udah langsung sembuh… Kalo si Z, makan obat yang sama, bisa lebih sedikit pulih, tapi nda kaya si X. Kadang, kita suka nyalahin dokternya atau nyalahin apotekernya. “Pasti deh ni obat udah kadarluarsa. Ini obatnya nda paten. Kayanya dokter salah diagnosa. Kayanya aku salah obat”, dan banyak kayaknya lainnya… Tapiii, mungkin kita melupakan (atau malah tidak tahu satu hal), bahwa perbedaan farmakogenomik mungkin saja berperan penting dan berkontribusi pada kondisi tak berefeknya obat itu pada diri kita. Nah looh?

 

Jadi, bagemana siih sebenernya?

Ada yang disebut dengan SNP (single nucleotida polymorphism), yang walaupun cuma 1 nukleotida sahaja, ternyata memberikan perbedaan yang signifikan. Nah, bisa jadi saja, terjadi perbedaan pada enzim pemetabolisme yang ada di hati kita (yang akrab disapa dengan cytochrome dengan berbagai isoenzim CYP nya…) sehingga ada obat yang dimetabolisme dengan begitu cepat sehingga tak sempat memberikan efek atau pada sebagian orang justru sebaliknya, sedikit yang dimetabolisme atau lebih lambat dimetabolisme sehingga obat menjadi cukup responsif bahkan toksik.

 

Respon Obat Individual

Respon individual obat setiap orang berbeda. Jadi, bisa saja dengan obat yang sama, ada orang yang mendapatkan ADR lebih banyak, ada orang yang harus minum 2×1, ada orang yang justru hanya minum 1×1 saja, ada orang yang langsung berefek dan ada yang tidak. Seperti yang sdh disinggung sebelumnya, tergantung sebanyak apa enzim yang diekspresikan oleh tubuh. Kalo expressi nya banyak, tentulah enzimnya juga banyak. Artinya, metabolisme nya juga akan cepat. Banyak sedikitnya obat tentu akan mempengaruhi afinitasnya terhadap obat. Hal inilah yang menyebabkan obat direspon dan diproses oleh tubuh berbeda, dan pendekatan farmakogenomik ini PENTING bagi seorang farmasis klinis dalam merekomendasikan dosis yang perlu diberikan ke pasiennya. Pertanyaannya, di Indonesia sudah tersediakah sarana dan prasarana untuk itu semua? *hanyabisageleng-geleng

 

Di era yang sudah genomik ini sebenarnya sudah begitu banyak genom yang berhasil disequensing. Bioinformatik, Microarray, Proteomik, farmakogenetik hingga ke farmakogenomik. Genom manusia terdiri dari 3,4 milyar pasang basa dan 3 juta diantaranyan mengalami variasi genomik (hanya 0,1 % yaahh? Kalo lebih dari 5 % variasi genomiknya, pasti makluk jadinya bukan lagi manusia! hehe…). Nah, variasi genetik itu dapat dipakai untuk menjelaskan perbedaan respon induvidual terhadap obat! Seperti yang udah kita singgung sebelumnya.

 

Gen mengkode suatu enzim –> perbedaan sekuen menyebabkan perbedaan enzim –> perbedaan setiap individu –> menyebabkan setiap orang memetabolisme obat yang sama dengan cara yang berbeda –> perlu individual dose–> individualisasi pengobatan maupun dosis berdasarkan profil farmakogenetika seseorang terhadap efek obat.

 

Jadi, apa sih tujuan farmakogenomik itu?

1. Untuk pengobatan yang rasional

2. Untuk meminimalkan efek samping atau ADR

3. sebagai pedoman bagi klinisi menentukan regimen terapi atau dosis dan lama pengobatan

4. penggunaan profil atau informasi  genetik untuk memilihkan terapi yang tepat bagi klinisi

 

Contoh perbedaan polimorfisme yang dapat mempengaruhi metabolisme obat:

1. Pada isoniazid terdapat NAT (N-Acetyl transferase) yang dapat meng-asetilasi si isoniazid menjadi metabolit inaktif. Jadi, pada individu tertentu ada yang cepat, ada yang lambat diasetilasi, yang mempengaruhi terhadap pengobatan TB dan juga efek samping yang dihasilkannya.

2. Perbedaan polimorfisme sitokrom P450, pada orang kulit putih, gen CYP2D6  nya banyak mengalami perbedaan sehingga tidak bisa memetabolisme obat antihipertensi debrisoquin

3. Variasi genetis menyebabkan hasil tes doping menjadi rancu. Pria yang memiliki variasi gen UGT2B17 walaupun sudah disuntik testosteron 360 mg, tak terdeteksi di urinenya, sehingga doping pas lagi olimpiade itu nda ketahuan

4. Polimorfisme tiopurine pada 90 % individu tinggi, pada 10 % aktivitasnya sedang dan 0,3 % malah nda beraktivitas si tiopurine terhadap athritis inflamasi, atau leukimianya

 

jadi, apa sih dampak variabilitas respon ini terhadap perawatan? ya itu diaaa –> dapat menyebabkan ADR.

 

Terobosan baru itu, pake suatu chip yang berisi informasi genetika terutama untuk memetabolisme obat. Contohnya amplichip (kapan yaaa di Indonesia juga bisa giniii? *cumabisamenatapdenganiri

 

Ya, jadi dapat kita simpulkan bahwa pendekatan farmakogenomik merupakan sebuah paradigma baru dalam era dunia perobatan dan pelayanan kesehatan. dengan adanya farmakogenomik, para klinisi dapat memprediksi mengenai respon obat pada pasien tersebut dan bagaimana efek samping obat atau ADR yang mungkin terjadi pada indovidu tertentu, sehingga dapat menghindari coba-gagal dalam pemilihan terapi. Farmakogenomik dapat pula dijadikan sebagai dasar pengembangan obat baru. Pendekatan farmakogenomik dapat meningkatkan kualitas pengobatan. Semoga ada cara yang lebih ekonomis untuk pendekatan farmakogenomik di Indonesia (*berdoa).

Read Full Post »

Akhirnya, sampai juga di pembahasan SPOP atau Drug Delivery System  (Akhirnya aku posting jugaaa nih DDS, walau sebenarnya aku juga megap-megap ngebahasin ini. Memang berasa yaahh kalo bukan bidangnya kitee, ngebahasinnya bikin jungkir balik. Hihi… Karena aku nda kuat harus nge-posting semuanya, jadi aku posting cuma point-point nya ajah, tentang si DDS ini. Ini adalah rangkuman pertanyaan mengenai pembahasan “Penghantaran Obat Makromolekul [Gen, Peptida, Protein] yang dimediasi oleh Carrier dan Vector”, “Pentargetan Obat berbasis Fisik”, “Pentargetan Obat yang Dimediasi oleh Ligand”

Hemm, kalo dipikir-pikir nih yaahh, pengobatan semacam kanker gituuh kan sistem kerjanya ngebunuh si sel yang lagi ganas. Naahh, sel yang sehat juga ikut kebunuh, soalnya kan kerjanya nda spesifik. Jadiii, dibuatlah suatu sistem pentargetan yang dapat bekerja secara spesifik pada sel kankernya tersebut sahaja, dan nda berkerja di sel-sel yang lain.

Adanya sistem carrier (yang ngelewatin oral), dibikin untuk meningkatkan keyamanan si pasien. Soalnya jika harus suntik tiap waktu, kan nda enak juga kan? Kaya pasien DM tipe-1 yang memang harus suntik insulin saban hari, maka  para ahli obat (cieeehhh…), berusaha untuk meningkatkan kenyamanan pasien dengan membuat bentuk sediaannya oral.

Hemm dalam kesempatan ini aku hanya memaparkan beberapa pertanyaan terkait dengan tema yang aku sebutkan di atas.

1. Apa perbedaan antara pemberian obat makromolekul oral dan iv?

–> perbedaannya adalah obat-obat molekul yang diberikan secara oral harus melewati berbagai barrier, mulai dari barrier fisik (tight junction) yang rapat, lalu adanya enzim-enzim yang dapat meng-inaktifkan obat, adanya mucus yang menghambat absorbis obat, sehingga selain sistem pentargetannya, juga perlu dirancang agar obat-obat makromolekul tersbeut dapat melewati membran usus dan mencapai pembuluh darah dengan selamat. Heee… Maka perlu ditambahkan suatu enhancer atau peningkat absorbsi. Dapat diberikan surfaktan yang meningkatkan absorbsi dengan menurunkan tegangan permukaan, mengganggu struktur lapisan lipid bilayer, sehingga lebih permeable terhadap senyawa obat. Ca 2+ chelator sebagai enhancer adalah dengan mengganggu tight junction (penghilangan Ca2+ extracellular), sehingga dapat meningkatkan transpor para cellular.
Transpor obat melewati membran sel usus ini dapat terjadi dengan 2 mekanisme yaitu paracelullar (melewati tight junction) dan juga dengan transeluler (mekanismenya adalah dengan enterosit adsorptive dan RME (Receptor mediated endocytosis) yang dibantu oleh Sel M payer’patch).

Untuk hambatan mucus, dapat diatasi dengan memberian mucolitic (seperti protease) dan juga dapat diberikan mucin (suatu senyawa yang berasal dari lendir bekicot) yang bersifat sebagai mucoadhesif sehingga dapat meningkatkan absorbsi obat. Untuk barrier enzim, dapat diatasi dengan pemberian inhibitor enzim.

 

2. Apa kelebihan dan kekurangan Viral Vector dibandingkan Non-viral vector?

Kelebihannya adalah :

1. Virus bagus untuk sistem penghantaran karena dapat masuk ke intisel tertentu. Intinya, proses transveksinya bagus.

2. Virus dapat direkayasa untuk pentargetan sel-sel tertentu

3. Virus dapat dimodifikasi untuk mentranskripsikan gen terapetik, bukan gen virus

 

Kekurangannya adalah :

1. Virus dapat memicu respon imun

2. Adanya kemungkinan intergrasi secara acak

3. Sulit untuk merancang atau merekayasa capsid/selubung virus yang spesifik pada sel tertentu saja

4. Adanya kemungkinan rekombinasi silang antara gen pada virus dengan sel inang

5. Mahalnya biaya terapi untuk stok titer virusnya

6. Terbatasnya ukuran  asam nukleat untuk gen terapi yang dapet dikemas pada virus

7. Klirensnya secara sistemik

8. Ketidakmampuan untuk mengelola vektor virus tertentu lebih dari sekali

 

Hokeehh, nanti kita lanjutkan lagi…. (Biar nda terlalu panjang, hehe)

Read Full Post »