Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Farmakoekonomi’ Category

Seperti janji akuuh sebelumnya, aku mau ngebahas QALY. Dimana QALY ini adalah satuan outcome untuk CUA (Cost Utility Analysis) di mana, bukan hanya melibatkan cost, efektifitas suatu pengobatan tapi juga bagaimana kualitas kehidupan pasien setelah menjalani suatu terapi. Hitungannya dalam QALY.
Penghitungan QALY sendiri ada formulanya. Dapat dilihat di gambar dibawah. Cekidot yaahh 😀

QALY (QUALITY-ADJUSTED LIFE YEAR) adalah penghitungan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup pasien dengan adanya intervensi dari healthcare… Dia adalah hasil aritmetik dari harapan hidup dan pengukuran kualitas hidup yang tersisa. (di sisa kehidupannya, gimana kualitas hidupnya).
Qaly menentukan seberapa kualitas hidupnya pada kondisi tak lagi sehat (hee, gimana sih bahasanya. Intinya, sebagaimana sih nilai kualitas hidupnya setelah dia sakit). Kalau sehat, nilainya 1 kalau meninggal nilainya 0. Namun, ada juga kondisi di mana sebenarnya meninggal adalah lebih baik bagi dia dari pada ngerasain sakit. Ini nilainya udah minus. Lewat dari nol.

QALYs menyediakan mata uang yang umum untuk menilai benefit yang diperoleh dari intervensi yang bervariasi pada kualitas kehidupan pasien dan survivenya si pasien. Ketika dikombinasikan dengan biaya yang disediakan untuk intervensi, mengasilkan cost utility rasio, yang mana ini meng-indikasikan biaya tambahan yang diperlukan untuk meningkatkan jumlah tahun kehidupan dengan kesehatan dan kualitas yang baik (1 QALY).
Perbandingan dapat dibuat antara intervensi dan prioritas bisa dibangun berdasarkan intervensi ini yang mana yang relative nda mahal (low cost per QALY) dan yang relative mahal (high cost per QALY).

QALY masih jauh dari sempurna sebagai suatu pengukuran aoutcome, dengan sejumlah kekurangan di segi teknik dan metodologi. Meskipun begitu, penggunaan QALY ini pada keputusan sumber alokasi mengartikan bahwa pilihan bersaing antara kelompok pasien untuk medical care dibuat secara jelas dan komisioner diberi pengertian tentang benefit yang mungkin pada teknologi dan terapi yang baru.

Trus, sebenarnya konsep apa sih yang ada di belakang QALY itu?
Outcome dari QALY itu sendiri terdiri dari 2 komponen dasar : kualitas dan kuantitas hidup! Si QALY ini akan mencakupi dan melingkupi kedua hal tersebut. Dan kemudian hasil aritmatika dari harapan hidup dan mengukur kualitas hidup yang tersisa. Kalo menurut si NICE (National Institute for Health and Clinical
Excellence), QALY itu adalah mengukur panjangnya ketahanan hidup seseorang dengan kualitas kesehatan kehidupannya. QALY merupakan suatu common currency uantuk mengukur seberapa tingkat kesehatan yang diperoleh yang dihasilkan oleh intervensi healthcare dan apabila dikombinasikan dengan biaya yang berkaitan dengan intervensi tersebut bisa digunakan untuk menilai manfaat relative dari segi prespektif ekonomi.

Quantitas hidup, dapat dilihat dari seberapa lama seseorang bisa survive atau seberapa lama harapan hidup seseorang masih jadi pengukuran tradisional yang dapat diterima secara luas dan memiliki beberapa masalah perbandingan antara seseorang hidup apa tidak.

Kualitas hidup melingkupi rentang atau sisi yang berbeda dari kehidupan seseorang, tidak hanya status kesehatan mereka saja. Kejadiannya terbatas pada focus kualitas kehidupan yang berkaitan dengan kesehatan yang menyebabkan sejumlah dimensi yang berkaitan dengan fisik dan kapasitas mental. Sejumlah pendekatan telah digunakan untuk meningkatkan nilai kualitas hidup ini (Utilitas kesehatan). Sebagai contoh standard gamble, time trade-off dan penggunaan rating scale. Utilitas itu mnaghasilkan perwakilan nilai yang dikaitkan dengan masing-masing kondisi kesehatan. Nilainya antara 0 dan 1. Jadi, ada nilai-nilai tertentu dalam mengukur kualitas hidup pasien. Bisa menggunakan rating skala tertentu yang kemudian kita dapatkan nilainya.

Berikut ini pembahasan formula mengenai QALY yang aku adopsi dari “What A QALY” yang ditulis oleh Ceri Phillips.

 

 

 

Read Full Post »

Seperti janjiku sebelumnya, mari kita lanjutkan kisah farmakoekonomi yang sedang kita bahas sedari tadi.  Berikut ini kita bahas mengenai metode yang bisa kita gunain dalam menganalisa farmakoekonomi.

1. Cost Minimal Analysis (CMA)

CMA itu apaan siih? CMA adalah suatu analisa mengenai obat yang outcome dan efektifitasnya dianggap ekuivalen (Sama), yang beda mungkin cuma regiman dose, atau administration (cara pemberiannya ajah), atau juga antara obat me too dengan generiknya yang dianggap memiliki efektivitas dan outcome yang equivalent.

JAdii, dalam CMA, kita cuma ngeliyat mana cost nya yang minimal. Gituuh.. Misal, obat A dikasi 3x sehari tablet biasa, dan obat B 1xsehari sustain release. Dianggap kedua obat efektifitasnya sama, dan outcomenya eqivalent. Hanya diliyat, di antara kedua obat tersebut, manakah yang lebih cost minimal. Begitchuuu…

Eh, paham nda sih apa maksud akuuh. Aku takut salah membahasakan niih. hee

Kekurangan CMA adalah : analisis ini mengabaikan efektifitas (hanya menganggap sama), walaupun sebetulnya efektifitasnya sebenarnya beda. Dia hanya ngeliat mana yang disegi cost lebih murah. Ini yang paling sederhana siih.

2. Cost Benefit Analysis (CBA)

Cost benefit analysis ini menilai benefit yang kita peroleh dari suatu terapi maupun suatu program di mana outcomenya dinilai dalam bentuk moneter. Jadii, benefit yang kita peroleh ituu kita konversikan ke moneter dulu. CBA ini dapat digunain untuk menganalisa dua program yang sama sekali berbeda, karena outcome nya kan sama-sama moneter. CBA ini dapat menganalisa dalam skala makro, kaya skala 1 negara atau satu propinsi. Dan satu-satunya analisa farmakoekonomi yang bisa menilai 1 program saja dengan menghitung NET BENEFITNYA. Bagi pemerintah, kebanyakan yang digunain adalah CBA ini.

Contohnya : Pemerintah ingin menilai, program manakah yang lebih memiliki benefit yang besar antara program pemberantasan TB atau pemberian vaksin polio.

Cara menghitungnya adalah :

CBA = B/C

*C= cost (dalam moneter) dan B = Benefit (dalam moneter)

Jika nilai CBA > 1 berarti programnya lebih benefit, jadi sebagiknya dilaksanakan itu program 😛

Jika nilai CBA = 1 berarti ada atau nda ada program, sama ajah…

Jika nilai CBA < 1 berarti program tersebut malah mendatangkan kerugian, not reccommended dah!

Cara mengitung Net benefit = Benefit-Cost (dalam moneter)

Kekurangan CBA ini adalah : terkadang ada benefit yang intangible, yang nda bisa dimoneterkan, sehingga hasilnya jadi bias deh. Contoh, bagaimana cara merupiahkan nyeri? Susaaahh kaaaannn? Trus, kalau kita hanya menganalisa 1 program saja, kadang-kadang rada-rada susah mengelompokkan yang manakah yang dikategorikan cost dan manakah yang benefit. Kalau membandingkan 2 obat kan,  yaa jelas tho, cost di 1 obat menjadi benefit di obat ke dua. Tapi, ini nda terlalu bermasalah siih…

3. Cost Effective Analysis (CEA)

CEA merupakan analisa farmakoekonomi yang membandingkan cost-effektivitas antara 2 pengobatan yang hasilnya atau outcome nya dinilai dari natural unit. CEA nda perlu dirupiahkan. Cukup pada natural unitnya ajah. Natural unit itu bisa saja, tekanan darah, life-saving, kadar gula darah, kolesterol dan lain sebagainya.

Hasil akhirnya adalah dalam bentuk rasio cost efektifitas (ACER = an average Cost Effective Ratio)

ACER = health care cost (dalam moneter)/clinical outcome (dalam natural unit)

Untuk membandingkan dua obat alternatif yang lebih baik, bisa dihitung tambahan biaya dan efektifitas yang kita dapatkan (ICER = incremental cost effective ratio)

ICER = Cost A-Cost B (dalam moneter)/Effect A- Effect B (dalam %).

dengan Formula ICER ini kita dapat melihat berapa tambahan biaya yang diperlukan untuk mendapatkan effek dari penggantian obat A ke obat B.

Contoh CEA adalah : Obat-obat hipertensi akan dibandingkan antara obat A yang memiliki mekanisme kerja X dengan obat B yang mmeiliki mekanisme kerja Y. Outcome nya adalah penurunan tekanan darah.

Diketahui obat A dengan harga 25ribu dapat menurunkan tekanan darah 20 mmHg, sementara obat B harganya 35ribu dapat menurunkan tekanan darah 15 mmHg. Jadi, obat A ternyata lebih cost effective dibandingkan obat B.

Contoh lain : Obat C dengan 150ribu dapat menyelamatkan 30 nyawa. Akan tetapi obat D dengan 200ribu, tapi dapat menyelamatkan 50 nyawa. Artinya, walaupun obat D lebih mahal, tapi dari cost-effective, obat D ternyata lebih baik.

Kekurangan CEA adalah dia hanya dapat menilai obat dengan skala mikro. Hanya bisa ngebandingin obat dengan outcome yang sama. Misal, sama-sama menurunkan tekanan darah, sama-sama menurunkan kolesterol. Mekanisme kerja boleh ajah berbeda.  Tapi, nda bisa digunain untuk obat-obat yang berbeda outcome nya.

4. Cost Utility Analysis (CUA)

CUA ini sebenarnya adalah analisa farmakoekonomi yang paling komprehensif. Selain dia menganalisa berdasarkan Cost-Effective, dia juga menilai QALY (Quality-Adjust Life Years). Jadi, dia juga menilai bagaimana kualitas hidup setelah pengobatan pasien bagemana. Jadi, outcome nya dinilai berdasarkan QALY nya.

Kekurangannya : analisa tentang QALY ini agak njelimet sih. Hehe

Selengkapnya tentang QALY ini akan dijelaskan lebih lanjut kemudian. Aku pelajari dulu yaaahh….
Insya Allah nanti aku share lagii….

Siiippp???

Read Full Post »

Assalaamu’alaykum Temen-temen Pharmacist sekalian. Sudah cukup lama yaah aku tidak posting di Blog iniih. Sudah banyak rumput yang menghijau di rumah mayaku ini kali yaah? Hihi… Mohon dimaklumi yaah, lagi banyak tugas. –> Halaaah, alesan ajah Fatheeel. Hihi…

 

Baiklah, di kesempatan yang amat baik ini, aku mau share lagi niih. Tentang Farmakoekonomi. Nah lohh, istilah apah iniiihh? Farmakoekonomi? (Yang jelas bukan ilmu yang mempelajari tentang para farmasis yang matrealistis ko! Hihi :D)

 

Sekarang aku mau tanya dulu deeh. Menurut kamuu, jika suatu obat (katakanlah obat Diabetes yang memang mesti dikonsumsi seumur hidup bagi si penderita DM), yang harganya murah (misal tablet biasa) dengan obat yang mahalan (tablet sustain release, misalnya), kalo diitung-itung jatohnya lebih murah ketimbang obat yang lebih mahal harganya? Bisa jadi kan yaah obat yang harganya lebih mahal itu ternyata, kalo dikaji secara farmakoekonomi, jauh lebih murah ketimbang obat murah secara harga satuan. Heuu, tapi kebanyakan orang Indonesia yang ekonominya di atas rata-rata memang penginnya yang mahal yaahh? Satu yang harus diingat, obat mahal itu belom tentu lebih baeekk looh! Mana tau, beban entertaint nya lebih mahal dari pada produksi obat itu sendiri, jadi kudu hati-hati.

Contoh lainnya, ternyata kondisi terntentu yang diberi obat dan tanpa obat, secara farmako ekonomi, yang tanpa obat bisa saja lebih life-saving.

Contoh lainnya lagi, obat A dengan harga 3 juta dan obat B dengan harga 1,5 juta, secara farmakoekonomi bisa saja lebih hemat kalo kita makan obat A. Bisa jadi, dengan obat A yang harganya 3 juta kita dirawatnya cuma 3 hari dan obat B kita mesti rawat 10 hari. Total biaya yang diperlukan (untuk pengobatan, untuk biaya rawat, untuk biaya penginapan keluarga di rumah sakit, biaya produktifitas yang terhenti selama dirawat juga dihitung!).

Nah, hal-hal semacam di ataslah yang dikaji dalam suatu kajian farmakoekonomi.

 

Jadi, kamu sudah bisa menangkap maksudku tentang farmakoekonomi kan yah? Iyaaakk, pinter sekalii. Silakan acung bagi yang bersedia mengambil kesimpulan. Dapet doorprize loh! Dorprize nya adalah apresiasi dari akuu (haha, memangnya aku siapa yaah? hihihi :P)

 

Yo wes tho, ta’ kasi bocoran ajah deh, Farmakoekonomi itu adalah suatu deskripsi maupun analisa, identifikiasi, pengukuran, harga, risiko, pelayanan, teratment atau program-program yang memberikan outcome yang terbaik secara klinis. Haihh, ribet yaah definisnya? Hemm, singkat kata, farmakoekonomi itu mengkaji dan menganalisa, pengobatan yang mana sih yang paling efektif tapi harganya seminimial mungkin, yang memberikan outcome secara klinisnya lebih baik (ada unsur pertimbangan kualitas hidup pasien juga). Jadi, kajiannya cukup komprehensif, ndak melulu menyoal harga obat yang lebih murah doang! Gituuuhh. Semoga mudah dipahami yaah bahasaku (soalnya kata orang-orang, aku suka pake bahasa aneh-aneh yang membuat jidat berkerut tujuh. hihi.. :D).

 

Apa pentingnya siiih, belajar farmakoekonomi segala?! Perlu aku tekankan di sini bahwa kajian farmakoekonomi itu PENTING SANGAAAAAAATTT! Iyaaa, penting! Informasi dan data yang diperoleh akan sangat bermanfaat bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan obat, bagi para praktisi dalam memilihkan terapi obat yang efektif, bagi perusahaan asuransi untuk menentukan mana-mana obat yang perlu dilist untuk dimasukan ke daftar obat-obat yang mau mereka tanggung, bagi industri obat untuk ngeliat apakah obat tersebut memang lebih life-saving dan cost-saving sehingga lebih laku di pasaran, dan tentu saja bagi pasien sendiri, biar nda bayar mahal-mahal untuk kesembuhan mereka. Singkat kata, kajian farmakoekonomi itu sangat tergantung oleh siapa dan keperluan apa dilakukan kajian, apakah oleh perusahaan, pemerintah, praktisi (dokter dan farmasis), maupun si pasien.

 

Sebelum membahas mengenai metode yang bisa kita gunain buat melakukan kajian farmakoekonomi, ada baiknya kita bahas dulu, tentang COST atau biaya dari suatu pengobatan. COST (sekali lagi) tidak melulu tentang harga obat yang mahal dan murah. Tapi meliputi banyak faktor! Yuuk, kita bahas….

 

Biaya (COST) dapat dikelompokkan menjadi 5 Item atau categori. Apa saja itu?

1. Direct Medical Cost (cost nya adalah : Medication (obat!), Test Laboratorium yang mendukung, Health care proffessionals’ time (berapa kali di cek ama si dokternya, kan punya harga-harga setiap kali diperiksa kan yah?), biaya perawatan selama di rumah sakit)

2. Direct nonmedical cost (cost nya adalah Transportasi ke rumah sakit, makanan selama di rumah sakit, biaya keluarga yang nungguin di rumah sakit, biaya pembantu di rumah, yang jagain anak-anak misalnya).

3. Indirect Cost (cost nya adalah hilangnya gaji/upah karena morbidity. Misal, gara2 sakitnya, pasien ndak bisa kerja. Gaji sehari yang hilang selama dirawat diitungin. Atau, gara-gara sakitnya dia nda bisa lembur. Uang lemburnya juga diitungin, income yang batal gara-gara sakit hingga pada taraf gawat, yang menyebabkan kematian).

4. Intangible cost (cost yang nda bisa dihitung, kaya  nyeri, penderitaan, inconvenience [kesusahan, rasa nda enak], duka cita/kesedihan)

5. Opportunity cost (harga sebuah kesempatan). Costnya adalah Lost opportunity atau hilangnya kesempatan. Misal, dia seharusnya meetiing dengan rekan bisnis di luar negeri, tapi gara-gara dia sakit, rekan bisnisnya nyari investor laen. Revenue forgone (pendapatan yang dibatalin), yang seharusnya dia bisa menduduki posisi atas, tiba-tiba karena sakit itu mesti brenti kerja atau ditunda kenaikan pangkatnya, atau diturunin posisinya karena nda kapabel dengan kemampuannya ketika sakit).

Hal-hal tersebut dikaji dalam kajian farmakoekonomi. Jadi, jelas keliyatan kan yaah? Bahwa kajian farmakoekonomi bukan melulu menyoal harga ajah. Ada banyak faktor lainnya. Makanya obat mahal, secara farmakoekonominya belom tentu mahal. Misal, dengan obat A, yang harganya mahal, dia tetep masih punya kesempatan untuk bertemu rekan bisnisnya, dan lama rawatnya cuma sebentar, secara farmakoekonomi LEBIH MURAH dan LEBIH EFEKTIF dari pada obat B yang mesti dirawat lebih lama. Mesti diitung tuh, berapa biaya rawatannya, biaya dokternya, biaya keluarga yang jaga, dan hilangnya kesempatan dia untuk ketemu rekan bisnisnya). JAdi, obat A yang walaupun lebih mahal secara kasat mata, ternyata jauh lebih efektif dan menguntungkan dari pada obat B yang secara harga lebih murah. Gituuuh…

 

Okeh, untuk sesi pertama, dicukupkan segini dulu. Banyak orang ngerasa bosen ngebaca tulisan panjang. Kita break dulu, dan dilanjutkan dengan metode-metode dalam farmakoekonomi, insya Allah. Cekidot yaaah.. 🙂

Read Full Post »