Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Farmakoepidemiologi’ Category

Seperti janji akuuh sebelumnya, aku mau ngebahas QALY. Dimana QALY ini adalah satuan outcome untuk CUA (Cost Utility Analysis) di mana, bukan hanya melibatkan cost, efektifitas suatu pengobatan tapi juga bagaimana kualitas kehidupan pasien setelah menjalani suatu terapi. Hitungannya dalam QALY.
Penghitungan QALY sendiri ada formulanya. Dapat dilihat di gambar dibawah. Cekidot yaahh 😀

QALY (QUALITY-ADJUSTED LIFE YEAR) adalah penghitungan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup pasien dengan adanya intervensi dari healthcare… Dia adalah hasil aritmetik dari harapan hidup dan pengukuran kualitas hidup yang tersisa. (di sisa kehidupannya, gimana kualitas hidupnya).
Qaly menentukan seberapa kualitas hidupnya pada kondisi tak lagi sehat (hee, gimana sih bahasanya. Intinya, sebagaimana sih nilai kualitas hidupnya setelah dia sakit). Kalau sehat, nilainya 1 kalau meninggal nilainya 0. Namun, ada juga kondisi di mana sebenarnya meninggal adalah lebih baik bagi dia dari pada ngerasain sakit. Ini nilainya udah minus. Lewat dari nol.

QALYs menyediakan mata uang yang umum untuk menilai benefit yang diperoleh dari intervensi yang bervariasi pada kualitas kehidupan pasien dan survivenya si pasien. Ketika dikombinasikan dengan biaya yang disediakan untuk intervensi, mengasilkan cost utility rasio, yang mana ini meng-indikasikan biaya tambahan yang diperlukan untuk meningkatkan jumlah tahun kehidupan dengan kesehatan dan kualitas yang baik (1 QALY).
Perbandingan dapat dibuat antara intervensi dan prioritas bisa dibangun berdasarkan intervensi ini yang mana yang relative nda mahal (low cost per QALY) dan yang relative mahal (high cost per QALY).

QALY masih jauh dari sempurna sebagai suatu pengukuran aoutcome, dengan sejumlah kekurangan di segi teknik dan metodologi. Meskipun begitu, penggunaan QALY ini pada keputusan sumber alokasi mengartikan bahwa pilihan bersaing antara kelompok pasien untuk medical care dibuat secara jelas dan komisioner diberi pengertian tentang benefit yang mungkin pada teknologi dan terapi yang baru.

Trus, sebenarnya konsep apa sih yang ada di belakang QALY itu?
Outcome dari QALY itu sendiri terdiri dari 2 komponen dasar : kualitas dan kuantitas hidup! Si QALY ini akan mencakupi dan melingkupi kedua hal tersebut. Dan kemudian hasil aritmatika dari harapan hidup dan mengukur kualitas hidup yang tersisa. Kalo menurut si NICE (National Institute for Health and Clinical
Excellence), QALY itu adalah mengukur panjangnya ketahanan hidup seseorang dengan kualitas kesehatan kehidupannya. QALY merupakan suatu common currency uantuk mengukur seberapa tingkat kesehatan yang diperoleh yang dihasilkan oleh intervensi healthcare dan apabila dikombinasikan dengan biaya yang berkaitan dengan intervensi tersebut bisa digunakan untuk menilai manfaat relative dari segi prespektif ekonomi.

Quantitas hidup, dapat dilihat dari seberapa lama seseorang bisa survive atau seberapa lama harapan hidup seseorang masih jadi pengukuran tradisional yang dapat diterima secara luas dan memiliki beberapa masalah perbandingan antara seseorang hidup apa tidak.

Kualitas hidup melingkupi rentang atau sisi yang berbeda dari kehidupan seseorang, tidak hanya status kesehatan mereka saja. Kejadiannya terbatas pada focus kualitas kehidupan yang berkaitan dengan kesehatan yang menyebabkan sejumlah dimensi yang berkaitan dengan fisik dan kapasitas mental. Sejumlah pendekatan telah digunakan untuk meningkatkan nilai kualitas hidup ini (Utilitas kesehatan). Sebagai contoh standard gamble, time trade-off dan penggunaan rating scale. Utilitas itu mnaghasilkan perwakilan nilai yang dikaitkan dengan masing-masing kondisi kesehatan. Nilainya antara 0 dan 1. Jadi, ada nilai-nilai tertentu dalam mengukur kualitas hidup pasien. Bisa menggunakan rating skala tertentu yang kemudian kita dapatkan nilainya.

Berikut ini pembahasan formula mengenai QALY yang aku adopsi dari “What A QALY” yang ditulis oleh Ceri Phillips.

 

 

 

Read Full Post »

Seperti janjiku sebelumnya, mari kita lanjutkan kisah farmakoekonomi yang sedang kita bahas sedari tadi.  Berikut ini kita bahas mengenai metode yang bisa kita gunain dalam menganalisa farmakoekonomi.

1. Cost Minimal Analysis (CMA)

CMA itu apaan siih? CMA adalah suatu analisa mengenai obat yang outcome dan efektifitasnya dianggap ekuivalen (Sama), yang beda mungkin cuma regiman dose, atau administration (cara pemberiannya ajah), atau juga antara obat me too dengan generiknya yang dianggap memiliki efektivitas dan outcome yang equivalent.

JAdii, dalam CMA, kita cuma ngeliyat mana cost nya yang minimal. Gituuh.. Misal, obat A dikasi 3x sehari tablet biasa, dan obat B 1xsehari sustain release. Dianggap kedua obat efektifitasnya sama, dan outcomenya eqivalent. Hanya diliyat, di antara kedua obat tersebut, manakah yang lebih cost minimal. Begitchuuu…

Eh, paham nda sih apa maksud akuuh. Aku takut salah membahasakan niih. hee

Kekurangan CMA adalah : analisis ini mengabaikan efektifitas (hanya menganggap sama), walaupun sebetulnya efektifitasnya sebenarnya beda. Dia hanya ngeliat mana yang disegi cost lebih murah. Ini yang paling sederhana siih.

2. Cost Benefit Analysis (CBA)

Cost benefit analysis ini menilai benefit yang kita peroleh dari suatu terapi maupun suatu program di mana outcomenya dinilai dalam bentuk moneter. Jadii, benefit yang kita peroleh ituu kita konversikan ke moneter dulu. CBA ini dapat digunain untuk menganalisa dua program yang sama sekali berbeda, karena outcome nya kan sama-sama moneter. CBA ini dapat menganalisa dalam skala makro, kaya skala 1 negara atau satu propinsi. Dan satu-satunya analisa farmakoekonomi yang bisa menilai 1 program saja dengan menghitung NET BENEFITNYA. Bagi pemerintah, kebanyakan yang digunain adalah CBA ini.

Contohnya : Pemerintah ingin menilai, program manakah yang lebih memiliki benefit yang besar antara program pemberantasan TB atau pemberian vaksin polio.

Cara menghitungnya adalah :

CBA = B/C

*C= cost (dalam moneter) dan B = Benefit (dalam moneter)

Jika nilai CBA > 1 berarti programnya lebih benefit, jadi sebagiknya dilaksanakan itu program 😛

Jika nilai CBA = 1 berarti ada atau nda ada program, sama ajah…

Jika nilai CBA < 1 berarti program tersebut malah mendatangkan kerugian, not reccommended dah!

Cara mengitung Net benefit = Benefit-Cost (dalam moneter)

Kekurangan CBA ini adalah : terkadang ada benefit yang intangible, yang nda bisa dimoneterkan, sehingga hasilnya jadi bias deh. Contoh, bagaimana cara merupiahkan nyeri? Susaaahh kaaaannn? Trus, kalau kita hanya menganalisa 1 program saja, kadang-kadang rada-rada susah mengelompokkan yang manakah yang dikategorikan cost dan manakah yang benefit. Kalau membandingkan 2 obat kan,  yaa jelas tho, cost di 1 obat menjadi benefit di obat ke dua. Tapi, ini nda terlalu bermasalah siih…

3. Cost Effective Analysis (CEA)

CEA merupakan analisa farmakoekonomi yang membandingkan cost-effektivitas antara 2 pengobatan yang hasilnya atau outcome nya dinilai dari natural unit. CEA nda perlu dirupiahkan. Cukup pada natural unitnya ajah. Natural unit itu bisa saja, tekanan darah, life-saving, kadar gula darah, kolesterol dan lain sebagainya.

Hasil akhirnya adalah dalam bentuk rasio cost efektifitas (ACER = an average Cost Effective Ratio)

ACER = health care cost (dalam moneter)/clinical outcome (dalam natural unit)

Untuk membandingkan dua obat alternatif yang lebih baik, bisa dihitung tambahan biaya dan efektifitas yang kita dapatkan (ICER = incremental cost effective ratio)

ICER = Cost A-Cost B (dalam moneter)/Effect A- Effect B (dalam %).

dengan Formula ICER ini kita dapat melihat berapa tambahan biaya yang diperlukan untuk mendapatkan effek dari penggantian obat A ke obat B.

Contoh CEA adalah : Obat-obat hipertensi akan dibandingkan antara obat A yang memiliki mekanisme kerja X dengan obat B yang mmeiliki mekanisme kerja Y. Outcome nya adalah penurunan tekanan darah.

Diketahui obat A dengan harga 25ribu dapat menurunkan tekanan darah 20 mmHg, sementara obat B harganya 35ribu dapat menurunkan tekanan darah 15 mmHg. Jadi, obat A ternyata lebih cost effective dibandingkan obat B.

Contoh lain : Obat C dengan 150ribu dapat menyelamatkan 30 nyawa. Akan tetapi obat D dengan 200ribu, tapi dapat menyelamatkan 50 nyawa. Artinya, walaupun obat D lebih mahal, tapi dari cost-effective, obat D ternyata lebih baik.

Kekurangan CEA adalah dia hanya dapat menilai obat dengan skala mikro. Hanya bisa ngebandingin obat dengan outcome yang sama. Misal, sama-sama menurunkan tekanan darah, sama-sama menurunkan kolesterol. Mekanisme kerja boleh ajah berbeda.  Tapi, nda bisa digunain untuk obat-obat yang berbeda outcome nya.

4. Cost Utility Analysis (CUA)

CUA ini sebenarnya adalah analisa farmakoekonomi yang paling komprehensif. Selain dia menganalisa berdasarkan Cost-Effective, dia juga menilai QALY (Quality-Adjust Life Years). Jadi, dia juga menilai bagaimana kualitas hidup setelah pengobatan pasien bagemana. Jadi, outcome nya dinilai berdasarkan QALY nya.

Kekurangannya : analisa tentang QALY ini agak njelimet sih. Hehe

Selengkapnya tentang QALY ini akan dijelaskan lebih lanjut kemudian. Aku pelajari dulu yaaahh….
Insya Allah nanti aku share lagii….

Siiippp???

Read Full Post »

Assalaamu’alaykum Temen-temen Pharmacist sekalian. Sudah cukup lama yaah aku tidak posting di Blog iniih. Sudah banyak rumput yang menghijau di rumah mayaku ini kali yaah? Hihi… Mohon dimaklumi yaah, lagi banyak tugas. –> Halaaah, alesan ajah Fatheeel. Hihi…

 

Baiklah, di kesempatan yang amat baik ini, aku mau share lagi niih. Tentang Farmakoekonomi. Nah lohh, istilah apah iniiihh? Farmakoekonomi? (Yang jelas bukan ilmu yang mempelajari tentang para farmasis yang matrealistis ko! Hihi :D)

 

Sekarang aku mau tanya dulu deeh. Menurut kamuu, jika suatu obat (katakanlah obat Diabetes yang memang mesti dikonsumsi seumur hidup bagi si penderita DM), yang harganya murah (misal tablet biasa) dengan obat yang mahalan (tablet sustain release, misalnya), kalo diitung-itung jatohnya lebih murah ketimbang obat yang lebih mahal harganya? Bisa jadi kan yaah obat yang harganya lebih mahal itu ternyata, kalo dikaji secara farmakoekonomi, jauh lebih murah ketimbang obat murah secara harga satuan. Heuu, tapi kebanyakan orang Indonesia yang ekonominya di atas rata-rata memang penginnya yang mahal yaahh? Satu yang harus diingat, obat mahal itu belom tentu lebih baeekk looh! Mana tau, beban entertaint nya lebih mahal dari pada produksi obat itu sendiri, jadi kudu hati-hati.

Contoh lainnya, ternyata kondisi terntentu yang diberi obat dan tanpa obat, secara farmako ekonomi, yang tanpa obat bisa saja lebih life-saving.

Contoh lainnya lagi, obat A dengan harga 3 juta dan obat B dengan harga 1,5 juta, secara farmakoekonomi bisa saja lebih hemat kalo kita makan obat A. Bisa jadi, dengan obat A yang harganya 3 juta kita dirawatnya cuma 3 hari dan obat B kita mesti rawat 10 hari. Total biaya yang diperlukan (untuk pengobatan, untuk biaya rawat, untuk biaya penginapan keluarga di rumah sakit, biaya produktifitas yang terhenti selama dirawat juga dihitung!).

Nah, hal-hal semacam di ataslah yang dikaji dalam suatu kajian farmakoekonomi.

 

Jadi, kamu sudah bisa menangkap maksudku tentang farmakoekonomi kan yah? Iyaaakk, pinter sekalii. Silakan acung bagi yang bersedia mengambil kesimpulan. Dapet doorprize loh! Dorprize nya adalah apresiasi dari akuu (haha, memangnya aku siapa yaah? hihihi :P)

 

Yo wes tho, ta’ kasi bocoran ajah deh, Farmakoekonomi itu adalah suatu deskripsi maupun analisa, identifikiasi, pengukuran, harga, risiko, pelayanan, teratment atau program-program yang memberikan outcome yang terbaik secara klinis. Haihh, ribet yaah definisnya? Hemm, singkat kata, farmakoekonomi itu mengkaji dan menganalisa, pengobatan yang mana sih yang paling efektif tapi harganya seminimial mungkin, yang memberikan outcome secara klinisnya lebih baik (ada unsur pertimbangan kualitas hidup pasien juga). Jadi, kajiannya cukup komprehensif, ndak melulu menyoal harga obat yang lebih murah doang! Gituuuhh. Semoga mudah dipahami yaah bahasaku (soalnya kata orang-orang, aku suka pake bahasa aneh-aneh yang membuat jidat berkerut tujuh. hihi.. :D).

 

Apa pentingnya siiih, belajar farmakoekonomi segala?! Perlu aku tekankan di sini bahwa kajian farmakoekonomi itu PENTING SANGAAAAAAATTT! Iyaaa, penting! Informasi dan data yang diperoleh akan sangat bermanfaat bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan obat, bagi para praktisi dalam memilihkan terapi obat yang efektif, bagi perusahaan asuransi untuk menentukan mana-mana obat yang perlu dilist untuk dimasukan ke daftar obat-obat yang mau mereka tanggung, bagi industri obat untuk ngeliat apakah obat tersebut memang lebih life-saving dan cost-saving sehingga lebih laku di pasaran, dan tentu saja bagi pasien sendiri, biar nda bayar mahal-mahal untuk kesembuhan mereka. Singkat kata, kajian farmakoekonomi itu sangat tergantung oleh siapa dan keperluan apa dilakukan kajian, apakah oleh perusahaan, pemerintah, praktisi (dokter dan farmasis), maupun si pasien.

 

Sebelum membahas mengenai metode yang bisa kita gunain buat melakukan kajian farmakoekonomi, ada baiknya kita bahas dulu, tentang COST atau biaya dari suatu pengobatan. COST (sekali lagi) tidak melulu tentang harga obat yang mahal dan murah. Tapi meliputi banyak faktor! Yuuk, kita bahas….

 

Biaya (COST) dapat dikelompokkan menjadi 5 Item atau categori. Apa saja itu?

1. Direct Medical Cost (cost nya adalah : Medication (obat!), Test Laboratorium yang mendukung, Health care proffessionals’ time (berapa kali di cek ama si dokternya, kan punya harga-harga setiap kali diperiksa kan yah?), biaya perawatan selama di rumah sakit)

2. Direct nonmedical cost (cost nya adalah Transportasi ke rumah sakit, makanan selama di rumah sakit, biaya keluarga yang nungguin di rumah sakit, biaya pembantu di rumah, yang jagain anak-anak misalnya).

3. Indirect Cost (cost nya adalah hilangnya gaji/upah karena morbidity. Misal, gara2 sakitnya, pasien ndak bisa kerja. Gaji sehari yang hilang selama dirawat diitungin. Atau, gara-gara sakitnya dia nda bisa lembur. Uang lemburnya juga diitungin, income yang batal gara-gara sakit hingga pada taraf gawat, yang menyebabkan kematian).

4. Intangible cost (cost yang nda bisa dihitung, kaya  nyeri, penderitaan, inconvenience [kesusahan, rasa nda enak], duka cita/kesedihan)

5. Opportunity cost (harga sebuah kesempatan). Costnya adalah Lost opportunity atau hilangnya kesempatan. Misal, dia seharusnya meetiing dengan rekan bisnis di luar negeri, tapi gara-gara dia sakit, rekan bisnisnya nyari investor laen. Revenue forgone (pendapatan yang dibatalin), yang seharusnya dia bisa menduduki posisi atas, tiba-tiba karena sakit itu mesti brenti kerja atau ditunda kenaikan pangkatnya, atau diturunin posisinya karena nda kapabel dengan kemampuannya ketika sakit).

Hal-hal tersebut dikaji dalam kajian farmakoekonomi. Jadi, jelas keliyatan kan yaah? Bahwa kajian farmakoekonomi bukan melulu menyoal harga ajah. Ada banyak faktor lainnya. Makanya obat mahal, secara farmakoekonominya belom tentu mahal. Misal, dengan obat A, yang harganya mahal, dia tetep masih punya kesempatan untuk bertemu rekan bisnisnya, dan lama rawatnya cuma sebentar, secara farmakoekonomi LEBIH MURAH dan LEBIH EFEKTIF dari pada obat B yang mesti dirawat lebih lama. Mesti diitung tuh, berapa biaya rawatannya, biaya dokternya, biaya keluarga yang jaga, dan hilangnya kesempatan dia untuk ketemu rekan bisnisnya). JAdi, obat A yang walaupun lebih mahal secara kasat mata, ternyata jauh lebih efektif dan menguntungkan dari pada obat B yang secara harga lebih murah. Gituuuh…

 

Okeh, untuk sesi pertama, dicukupkan segini dulu. Banyak orang ngerasa bosen ngebaca tulisan panjang. Kita break dulu, dan dilanjutkan dengan metode-metode dalam farmakoekonomi, insya Allah. Cekidot yaaah.. 🙂

Read Full Post »

Yak, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai farmakoepidemiologi subtopik UJI KLINIK. Uji klinik merupakan salah satu tahapan dalam pembuatan obat baru. Uji klinik itu sendiri merupakan serangkaian  penelitian yang dilakukan secara eksperimental terhadap manusia. Jadi, uji klinik ini haruslah bersifat ekperimental (ada intervensi atau perlakuan terhadap manusia) dan kemudian dianalisa data yang diperoleh. Nah, jika penelitian sudah melibatkan manusia sebagai subjeknya, HARUS dilakukan perijinan dulu terhadap komite etik. Dalam proses aproval obat baru, rangkaian penelitian uji klinik ini HARUS dilakukan dan dilampirkan pada lembaran pengajuan obat baru. Dan, bisa memakan waktu bertahun-tahun loh! Hingga lebih dari sepuluh tahun! (makanya menemukan obat baru itu ndak mudah! butuh dana bessuaaarr! dan juga melibatkan banyak orang! jadi, jangan heran kalau obat itu mahaaaal. apalagi obat yang masa patent nya belum habis. Ini untuk menutupi biaya yang dikeluarkan selama penelitian).

 

Okeh, back to leptop.hee… 😀

Sebelum dilakukan uji klinik, haruslah dilakukan terlebih dahulu uji pre-klinik yaitu uji toksisitas dan efektifitas obat yang dilakukan terhadap hewan uji. (ini loooh, yang sering dilakukan oleh mahasiswa farmasi di seluruh Indonesia, dimanapun kampusnya. Pasti deh ada area peternakan mencit dan tikusnya. Kalo di komplek perumahan tikus dibasmi, oleh anak farmasi malah dipiara. hihihi…). Hanya saja tak ada yang sampai ke uji klinik, soalnya ndak sanggup tuuuh biayanya, waktunya, tenganya. Kecuali kalau ada anak farmasi yang superduper kayaaa trus bersedia lulus farmasi selama 15 tahun. haha. Kayaknya mustahil aqli deh. Mungkin nda ada yang mau kali yah? hehe… 15 taun itu gue udah kemana-mana cuy! protes mereka…

 

Setelah uji pre-klinik, diajukan permohonan ke komite etik untuk dibolehkannya dilakukannya percobaan uji klinik. Banyaaak banget tuh syaratnyaa, sampai dibolehkan. Setelah dikasi ijin, baruu deeh uji klinik siap dilaksanakan!

 

Tahapan-tahapan dalam uji klinik

1. Uji Klinik Fase 1

–> uji klinik fase 1 dilakukan untuk melihat safety suatu obat! untuk melihat keamanan suatu obat. dilakukan terhadap relawan sehat. jumlah subjek penelitian 20-100 orang dengan dosis 1/50 kali dosis minimum yang dapat menimbulkan efek pada hewan uji. Dan, dosis ditingkatkan secara gradual untuk melihat safety dan toleransi terhadap obat. untuk penyakit-penyakit berat, ada pengecualiannya, jika itu sudah mengancam jiwa manusia atau efek yang sangat merugikan.

2. Uji klinik Fase 2

–> pada uji klinik fase II ini sudah melibatkan pasien yang sakit sesuai dng indikasi pengobatan. Melibatkan 100-200 peserta. Tujuannya adalah untuk melihat dosis manakah yang paling optimal dan paling efektif dalam pengobatannya

3. uji klinik fase 3

–> pada uji klinik fase 3, sudah melibatkan subjek yang lebih banyak lagi. sekitar 300-3000 pasien. Tujuannya adalah untuk membandingkan antara efek terapi obat yang kita uji dengan plasebo atau dengan obat yang sudah ada. Naah, pada fase ini mulai dilakukan randomisasi (gold standarnya adalah RCT : Randomize Controlled Trial). Jadi, kita bandingkan, adakah kelebihan obat baru ini dibandingkan obat yang sudah ada. atau jika bener-bener baru, adakah ia memberikan efek dibandingkan dengan placebo.

 

Setelah selesei sampai uji klinik fase 3, obat bisa didaftarkan ke badan yang berwenang. Kalo kita di Indonesia ya ke Badan BOM. Kalo kita orang amerika ke FDA. hee… (tapiii, aku siih tetep bangga jd orang Indonesia, jiyyaaahh… :D)

 

ingaaat, uji nya tak berhenti sampai di sini saja. akan ada post-marketing surveillance! Di sini niih farmakovigillance itu berperan banget. Insya Allah akan kita bahas di sesi selanjutnya. Cekidot yaahh 😛

 

oh iyaaa, jangan lupakan satu hal! bahwasannya, uji klinik tak hanya dilakukan pada obat baru saja, tapi juga tindakan medik lainnya, diet, akupuntur, tindakan bedah! Mereka semua juga melakukan uji klinik looh. Okeeh? Siipp??

Read Full Post »

Hemm…ini pertama kalinya belajar farmakoepidemiologi. Hehe… Menarik siiih. (hehe, enaknya kalo segalanya dibuat jadi menarik yaah. Jadiii, mempelajarinya dengan penuh rasa ingin tahu. Jiyaaahhh….). Yaahh, lagi-lagi aku mencoba mencarinya “diluar” dari apa yang didapat di kampus. Jiyaaahhh…*soksokrajin. hihihi…

Setidaknya, belajar farmakoepidemiologi membuat aku mengerti betapa dangkalnya novel “The Green Palace” yang  kubuat dulunya. Dan, belajar farmakoepid membuat aku jadi ingin memperbaiki kembali sekaligus menyempurnakan novelku itu (*geplak! harus S2 dulukah untuk menyelesaikan sebuah novel?? hehehe…hampir-hampir tidak masuk akal! :-P)

Tadi aku coba download bukunya. Tapi…tapi…, tak berhasil. Heuu… Tak apalah. Mencoba belajar dengan apa adanya dulu. Yaah, setidaknya mencoba mengerti tentang farmako-epidemiologi itu sendiri dululah.

 

Farmakoepidemiologi itu sendiri sebenernya tools atau perangkat yang bisa kita pake buat menjawab pertanyaan yang terkait obat…

Farmakopidemiologi juga berarti aplikasi dari ilmu epidemiologi; metode dan alasan untuk mengetahui kemanfaatan (benefit) dan juga adverse (kejadian yang tak dikehendaki) dari suatu obat pada populasi manusia.

 

Tujuan dari farmakoepidemiologi ini adalah untuk mengawasi, mengontrol dan memprediksi obst-obst ysng digunakan pada treatment farmakologi pada waktu, tempat dan populasi tertentu. Sehingga diperoleh info mengenai : efikasi, safety dan ekonomi dari suatu obat.

Efikasi

karena evaluasi obat pada pre-marketing itu sangat terbatas dan juga ‘terkondisikan’, maka mungkin belum cukup adekuat untuk mengetahui efikasi secraa lebih luas

Safety

sama dengan efikasi, karena keterbatasan sampel pada pre-marketing (uji klinik), jadi perlu dipelajari post-marketing surveilance.Apalagi pada pre-marketing ini, juga menyangkut kode etik percobaan pada manusia. Jadii, ketat sekaliii. Makanya diperlukan banget yang namanya farmakoepidemiologi ini.

Ekonomi

yah ndak bisa dipungkiri juga tho yah, harga iniiih. Secara ekonomi, kira-kira bakal menguntungkan tidak, ini obat. maka, perusahaan terttentu atau LSM masyarakat tertentu juga melakukan studi farmakoepidemiologi.

 

Mengapa post-marketing surveillance itu penting?

Karena keterbatasan pada uji klinik fase 1-3. Ya, terbatas sekali. Karena menyangkut kode etik, trus menyangkut biaya yang bessuaaarrr, jadinya ya terbatas. Poko nya ribet daah, sampai drug-approval itu terwujud. Hemm…makanya bikin obat baru itu tak gampang, cuy! Jadi inget waktu itu, ketika temen aye bilang, “Fathel, hayooo bikin obat baru, gih!” Hadeuuuuhh, jangan enak-enakan aje nyuruh aye bikin obat baru kalo ndak menyediakan dana sekurang-kurangnya 200 jt USD. Hahaha… :-D)

Banyak loooh akhirnya obat-obat baru yang kemudian ditarik dari pasaran karena baru ketauan efek jahatnya (adverse) nya setelah dilakukan “post-marketing surveillance”. (eh, ngomong-ngomong di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini, post-marketing surveillance nya dilaporing ke Badan POM tidak yah? jangan-jangan cuma disimpen buat konsmumsi prusahaan doang. Apalagi rakyat indonesia juga jarang melaporkan kejadian Adverse Drug Related. Deuhh, kasihannya Indonesia-ku tercinta).

Apa contohnya obat-obat yang ditarik dari pasaran lagi (bahkan sebagian umurnya tak sampai setahun!) atau istilah kerennya Drugs-Withdrawal

– Talidomid (semua orang juga sudah tau tentang kisah si Talidomid ini kan yaah? jadiii tak perlulah kuceritakan kembali…)

-Dietilbesterol untuk penguat rahim dan menghindari pendarahan ketika melahirkan ternyata justru menyebabkan kanker vagina dan kanker serviks bagi anak perempuan yang dikandungnya.

-Stavudin(obat HIV/AIDS) yang bikin lipodistrofi. Thailand yang melaporkan kejadiannya.

-Pioglitazone dan kaitannya dengan Bladder-Cancer dan lain sebagainya

 

Jadi, Apa Beda Pre-marketing dan Post-marketing surveillance?

Pada Pre-Marketing Surveilance :

1. Orientasi : hanyalah untuk mengetahui efek dan safety

2. Tools : uji klinik 1-3

3. Info yang bisa didapat : efikasi dan safety (dengan pasien yang dikondisikan)

4. Subjek penelitian : hasil seleksi yang ketat (ada kriteria eksklusi)

5. Kemungkinan lain : bisa dihilangkan. Seperti, bersamaan dengan obat lain, pola makan, gaya hidup, usia, kehamilan dan lain sebagainya.

 

Post Marketing Surveillance :

1. Orientasi : kebijakan apakah obat diteruskan atau ditarik dari pasaran

2. Alat/Tools : uji klinik fase IV/studi farmakoepidemiologi

3. Info yang bisa didapatkan : efektivitas obat

4. Subjek penelitian : tidak terlalu ketat, hampir semua orang bisa menggunakan obat tersebut (tidak terbatas, tak terseleksi)

5. Kemunginan lain : tak dapat dihilangkan. Tak ada kriteria eksklusi. Mungkin saja orang hamil, bersamaan dengan obat lain dan pola makan serta gaya hidup bervariasi.

 

Apa saja yang kita dapatkan dengan studi farmakoepidemiologi?

Farmakoepidemiologi dapat menjawab pertanyaan terkait obat sebagai berikut :

1. Long term effect. Obat-obat yang efeknya jangka panjang. contohnya : kaitan antara estrogen dengan kanker endometrium

2. Low Frequency effect. Obat-obat yang angka kejadiannya sangat jarang. bisa ditemui pada populasi yang sangat besar. contoh fenilbutazon dan kaitannya dengan anemia aplastik, klindamisin dengan colitis, dan halotan dengan jaundice.

3. Effectiveness in Costumary Practice. Bagaimana penggunaannya pada pasien anak-anak, pasien ibu hamil, rawat jalan, pasien emergeny. Perlu atau tidaknya upgrading tenaga kesehatan

4. Efficacy in new Indication. Maksudnya, ditemukan indikasi baru dari indikasi yang diapprove. Baru ketahuan ternyata obat tersebut efektif juga untuk indikasi yang lain. Contohnya propranolol untuk antihipertensi, captopril untuk reumatik athritis, amantadin untuk mabok jalanan (antihidtamin) yang sebelumnya buat parkinson, gabapentin untuk neuropati dan lain sebagainya.

5. Secondary effect. Efek keduanya bagaimana bagi pasien

6. Modifier of Efficacy. Jika dikombinasi dengan obat lain, kira-kira ada sinergis tidak? dan lain sebagainya…

 

Nah, menarik bukaaan?
Siip deeeh, buat selanjutnya kita lanjutkan dengan metode-metode dalam farmakoepidemiology. Tetep ikuti perkembangannya yaaahh.. Hehe

Skrang ak mw bikin tugas duluuu… 😀

 

 

Read Full Post »