Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘SPOP’ Category

Akhirnya, sampai juga di pembahasan SPOP atau Drug Delivery System  (Akhirnya aku posting jugaaa nih DDS, walau sebenarnya aku juga megap-megap ngebahasin ini. Memang berasa yaahh kalo bukan bidangnya kitee, ngebahasinnya bikin jungkir balik. Hihi… Karena aku nda kuat harus nge-posting semuanya, jadi aku posting cuma point-point nya ajah, tentang si DDS ini. Ini adalah rangkuman pertanyaan mengenai pembahasan “Penghantaran Obat Makromolekul [Gen, Peptida, Protein] yang dimediasi oleh Carrier dan Vector”, “Pentargetan Obat berbasis Fisik”, “Pentargetan Obat yang Dimediasi oleh Ligand”

Hemm, kalo dipikir-pikir nih yaahh, pengobatan semacam kanker gituuh kan sistem kerjanya ngebunuh si sel yang lagi ganas. Naahh, sel yang sehat juga ikut kebunuh, soalnya kan kerjanya nda spesifik. Jadiii, dibuatlah suatu sistem pentargetan yang dapat bekerja secara spesifik pada sel kankernya tersebut sahaja, dan nda berkerja di sel-sel yang lain.

Adanya sistem carrier (yang ngelewatin oral), dibikin untuk meningkatkan keyamanan si pasien. Soalnya jika harus suntik tiap waktu, kan nda enak juga kan? Kaya pasien DM tipe-1 yang memang harus suntik insulin saban hari, maka  para ahli obat (cieeehhh…), berusaha untuk meningkatkan kenyamanan pasien dengan membuat bentuk sediaannya oral.

Hemm dalam kesempatan ini aku hanya memaparkan beberapa pertanyaan terkait dengan tema yang aku sebutkan di atas.

1. Apa perbedaan antara pemberian obat makromolekul oral dan iv?

–> perbedaannya adalah obat-obat molekul yang diberikan secara oral harus melewati berbagai barrier, mulai dari barrier fisik (tight junction) yang rapat, lalu adanya enzim-enzim yang dapat meng-inaktifkan obat, adanya mucus yang menghambat absorbis obat, sehingga selain sistem pentargetannya, juga perlu dirancang agar obat-obat makromolekul tersbeut dapat melewati membran usus dan mencapai pembuluh darah dengan selamat. Heee… Maka perlu ditambahkan suatu enhancer atau peningkat absorbsi. Dapat diberikan surfaktan yang meningkatkan absorbsi dengan menurunkan tegangan permukaan, mengganggu struktur lapisan lipid bilayer, sehingga lebih permeable terhadap senyawa obat. Ca 2+ chelator sebagai enhancer adalah dengan mengganggu tight junction (penghilangan Ca2+ extracellular), sehingga dapat meningkatkan transpor para cellular.
Transpor obat melewati membran sel usus ini dapat terjadi dengan 2 mekanisme yaitu paracelullar (melewati tight junction) dan juga dengan transeluler (mekanismenya adalah dengan enterosit adsorptive dan RME (Receptor mediated endocytosis) yang dibantu oleh Sel M payer’patch).

Untuk hambatan mucus, dapat diatasi dengan memberian mucolitic (seperti protease) dan juga dapat diberikan mucin (suatu senyawa yang berasal dari lendir bekicot) yang bersifat sebagai mucoadhesif sehingga dapat meningkatkan absorbsi obat. Untuk barrier enzim, dapat diatasi dengan pemberian inhibitor enzim.

 

2. Apa kelebihan dan kekurangan Viral Vector dibandingkan Non-viral vector?

Kelebihannya adalah :

1. Virus bagus untuk sistem penghantaran karena dapat masuk ke intisel tertentu. Intinya, proses transveksinya bagus.

2. Virus dapat direkayasa untuk pentargetan sel-sel tertentu

3. Virus dapat dimodifikasi untuk mentranskripsikan gen terapetik, bukan gen virus

 

Kekurangannya adalah :

1. Virus dapat memicu respon imun

2. Adanya kemungkinan intergrasi secara acak

3. Sulit untuk merancang atau merekayasa capsid/selubung virus yang spesifik pada sel tertentu saja

4. Adanya kemungkinan rekombinasi silang antara gen pada virus dengan sel inang

5. Mahalnya biaya terapi untuk stok titer virusnya

6. Terbatasnya ukuran  asam nukleat untuk gen terapi yang dapet dikemas pada virus

7. Klirensnya secara sistemik

8. Ketidakmampuan untuk mengelola vektor virus tertentu lebih dari sekali

 

Hokeehh, nanti kita lanjutkan lagi…. (Biar nda terlalu panjang, hehe)

Advertisements

Read Full Post »

Sudah dua pekan tidak menuliskan resume. Heuu… Ada 2 alasan sebenarnya. Tugas yang menumpuk dan sempet teparrr jugaak.

 

Baiklaahh, kali ini kita lanjutkan lagi tentang sistem penghantaran obat dan pentargetan yaah. Tentang Ca-Co sebagai tools penguji Permeabilitas membran. Ca-Co sendiri sebenarnya adalah sel yang diambil dari Kanker Kolorektal yang kemudian dimanfaatkan untuk uji permeabilitas membran. Karena umumnya obat diserap menuju pembuluh darah itu di usus, maka Ca-Co diharapkan dapat menyerupai usus yang secara invitro nya…

 

Caco yang digunakan yaitu caco yang sudah diremajakan sebanyak 25 kali. Proses peremajaannya tidak aku dijelaskan di sini, soalnya lebih enak pake gambar. Silakan disearch ajah. Siipp??

 

Jadi, dalam 2 chamber, diberikan Caco sebagai pembatasnya. Dilihat dari sisi apikal maupun basolateral. Apikal dari atas ke bawah. Dan basolateral dari bwah ke atas. Fungsinya untuk melihat bagaimana si obat melewati transmembran. Jika konsentrasinya seimbang, itu artinya, telah terjadi difusi pasif. Ini penting bagi kita untuk menentukan pilihan obat dan juga tentang adanya P-gp (yang berperan dalam multidrug resisten)

 

Hehe, mungkin penjelasan kali ini begitu ringkas dan ndak terlalu merinci yaah….

Jika ada yang tertarik, silakan didiskusikan sahaja…. 😀

Read Full Post »

Hemmm…Mari kita lanjutkan tentang sistem penghantaran obat dan pentargetan. Yaah, ini adalah kelanjutan dari ‘kisah’ sebelumnya. Hehhe… (hmm…kalo boleh jujur nih yaah, sesungguhnya dahiku cukup berkerut 7 jugak memahami materinya. Bukan yang dari buku, tapi dari slidenya. Hehe…. Jadiii, aku hanya mencoba menjelaskan apa yang aku paham dulu yaah. Aku juga ndak mau menyesatkan orang lain ko. Jadiiii, aku menjelaskan sebatas pemahamanku dulu… Insya Allah fighting buat memahaminya lebih daleeem 🙂

Jadii, dalam merancang suatu DDS, ada 4 hal yang mesti jadi perhatian bangeeet :

1. Penentuan Targetnya

–> Jadiii, kita tentukan dulu nih target yang mau kita treatmen itu apa. Biasanya, ada  molekul-molekul tertentu yang ter-ekspresi ketika terjadi kondisi patologis pada permukaan sel atau jaringan yang injury (mengalami kondisi patologis). Mungkin dalam kondisi normal, molekul tersebut ada, tapi tak banyak. Nah, dalam kondisi potologis molekul itu banyak sekali terekspresi sehingga inilah yang bisa kita jadikan target. Umumnya yang dijadikan target itu adalah reseptor, ion channel (protein pada ion channel, enzym atau transporter)

2. Tentukan ligand yang akan berikatan secara spesifik dengan produk dan targeting. Untuk

3. Tentukan Vehicle/kendaraan yang akan membawa menuju target. Bisa digunakan antibodi akan tetapi anti bodi yang kita miliki ketika sudah dikeluarkan lalu kemudian dimasukkan kembali ke dalam tubuh, justru akan menyebabkan perlawanan tubuh, meskipun berasal dari tubuh sendiri. Jadi, sekarang sedang dikembangkan vehicle yang berupa potongan epitop atau bagian spesifik lainnya, yang dapat berikatan.

4. Tentukan formulanya. Formula seperti apa yang kita inginkan. Biasanya, kalau dalam bentuk oral, akan banyak rintangan yang dilaluinya. Jadi, formula yang kita desain adalah formula yang dapat mengantarkan tanpa ada kerusakan atau pun gangguan selama perjalanan menuju targetnya. Kalau sekarang, teknologi nano partikel mah sedang gencar-gencarnya dikembangkan…

 

Cukup sekian dulu yah, untuk sesi kali ini. Insya Allah akan kita lanjutkan lagi. semangat belajarr!

Read Full Post »

Sistem Penghantaran Obat dan Pentargetan

Uhm… Pertama belajar DDS (Drug Delivery Sistem), aku cukup puyeng mengumpulkan materi-materinya dalam satu folder di otakku. Mungkin karena belom pernah belajar ini (pernah siiih, tapiii bukan DDS, melainkan materi yang sedikit berkaitan…hee). Selain itu, karena abis liburan, jadiii otakku mungkin juga belum dipanasin. (Ahaha, memangnya senam? Ada pemanasannya…). Jadilah aku harus merujuk DDS-nya Kewal K Jein duluuu. Tapiii, belom namatin kooo, tenang ajaaaah. Soalnya bahasa Inggris, jadii mesti mengernyitkan dahi dulu untuk membaca dan memahaminya. Hehe…

 

Sistem Penghantaran Obata tau Drug Delivery Sistem (disingkat DDS ajah yah?! Hehe) merupakan suatu cara gimana supaya si obat itu nyampe ke targetnya. Nyampe ke tempat yang sakit, sehingga jaringan dan sel yang rusak itu bisa diperbaiki. Soalnya, kalau dalam bentuk zat aktif saja, yaaa susaaaah dooong! Soalnya ada serangkaian proses panjang yang akan dilalui si obat hingga sampai ke targetnya. Deuuh, pokonya perjuangan obat itu untuk sampai ke targetnya itu berrrraaattt banget dan buanyaaaakkkk banget rintangannya. Nah lohh, obat sahaja udah begitu beratnya tetep berusaha untuk melewati rintangan itu demi tercapainya tujuannya. Bagaimana dengan kita yah? Masa mau kalah sama obat, coba?

 

Jadiii, DDS itu seperti regimen dose gituuuh. Sediaan seperti apakah yang bisa kita buat dan kita rancang untuk kondisi pasien, gituuuuh… Yaaah, mirip-mirip pemilihan bentuk sediaan dah. Naah, tetapii, apapun bentuk sediaannya, PASTi dibutuhkan kajian yang mendalam mengenai apa dan bagaimananya si obat itu sampai ke targetnya.

 

Sampai hari ini siiih, oral masih menjadi pilihan utama disebabkan obat oral merupakan sediaan paling stabil dan paling bisa diterima pasien.

Naah, semisal obat oral kaya tablet begitu, ada banyak hal yang mesti kita pertimbangkan dalam DDS nya. Kita juga mesti memahami farmakokinetika obat itu bagaimana. Karena obat oral itu pasti akan melintasi membrane. Kalo melintasi membrane, tentu kita juga mesti tau sifat si obat apakah hidrofilik atau lipofilik, karena membrane terdiri atas lapisan lipid bilayer. Kelarutan zat obat dalam lipid maupun air bagaimana. Jadi, koefisien partisi obat itu juga mesti dipahami dong? Ya mesti! Gimana caranya? Ituloh yang pake oktanol-air itu. Masi ingat tak? Kalau tidak, yaudah plajari lagi yaah. Kalau terlalu lipid, dikhawatirkan ndak bisa lewat dianya. Terperangkap di sana doang. Kalo terlalu air, dikhawatirkan bakalan ditolak sama si lipid secara membrannya adalah lipid bilayer kan yah? Jadii, harus seimbang, jangan terlalu air dan jangan terlalu lipid. (ehhh, ngomong-ngomong, ngerti kan maksudku tentang ‘terlalu lipid dan terlalu air’ kan yaah?? Maksudnya terlalu lipid itu terlalu non-polar dan terlalu air itu terlalu polar). Pokonya, ADME itu mesti kita pahami deh. Terutama ABSORBSI nya bagaimana, tho…

 

Obat itu melintasi membrane dalam bentuk MOLEKULAR bukan PARTIKULAR. Untuk sampai di pembuluh darah, HARUS melewati membrane dong!  Jadiii, peristiwa TRANSMEMBRAN ini adalah hal yang penting dalam DDS.

 

Transmembran itu ada 2 progres :

Pertama, Transelular. Zat itu lewat via sel-selnya. Bisa pake diffuse pasif, diffuse aktif, membrane yang difasilitasi dan lain sebagainya. Udah pada belajar kaaan, yang ini? Kalo belum belajar, yaudah belajar sana gih! Hee

Kedua, Paraselular. Ini caranya adalah melalui celah antar sel. Yang namanya celah, so pasti kecil lah yaah. Jadiiii, kebanyakan yang bisa lewat sini ya Cuma ion-ion dan molekul yang ukurannya kecil doang.

 

Hanya saja, sekarang ini sedang dikembangkan obat-obat terutama yang targeted therapy untuk via paraselular. Obat targeted itu kan umumnya molekul besssuaaarr yang berbasis bioteknologi dari protein atau peptide. Kalo via membrane ka nada enzim-enzim untuk menghancurkan atau merusak kan yah. Jadi, memang diusahakan via celah itu tadi.

 

Oh iyaa, jangan lupakan satu hal! Bahwasanya obat-obat yang peroral, harus dipertimbangkan juga first fast effect nya, yang menyebabkan obat berkurang khasiatnya. Juga tentang R-gp (R-glikoprtein) yang diduga berperan penting dalam kasus MDR (Multi Drug Resisten). Perannya si R-gp ini adalah refluks pump, yang mengeluarkan kembali obat-obat yang sudah masuk ke membrane. Huuuh, jahat yah dia!

 

Selanjutnya sublingual, rectal, inhalasi, iv,im, dan seterusnya, dibahas belakangan ajah yaah. Si Kewal K Jein sudah membantu merangkumkan dalam satu table ko. Jadii, silahkan rujuk ke table beliau ajah. Kalo nda punya bukunya, nanti aku kasi deeh. SMS atau kirim email ke aku saja, insya Allah aku kirimin bukunya. Hehehe…

 

TARGETING

Inti dari targeting ini adalah obat diharapkan sampai HANYA ke targetnya saja. Ketempat dia mengalami sakit atau kerusakan saja. Terobosan yang sudah ada itu seperti obat-obat yang diharapkan pecah di lambung, di usus bahkan di kolon! Yang lebih muakhir adalah targeting kaya produk-produk bioteknologi gituh yang diharapkan tidak terdistribusi di seluruh tubuh melainkan hanya pada tempat yang ditargetkan saja.

Hemmm, sebenarnya setiap penyakit punya reseptornya masing-masing yang akan dikenali oleh si obat. Akan tetapi obat terdistribusi secara menyeluruh dalam tubuh dan si reseptor sakit tidak hanya terletak pada tempat yang sakit melainkan juga terletak pada tempat-tempat lain. Hal inilah yang kemudian menimbulkan efek samping! Kalo masi taraf ndak bahaya, ESO (efek samping obat) bisa diabaikan. Tapiii, bagaimana kalau serius ESO nya?? Makanya, targeted ini diharapkan ndak menyebabkan efek samping bagi yang lainnya. Gituuuh…

 

DESIGN OF TARGETED DRUG DELIVERY SISTEM

 

Naah, desain targeting DDS ini dibahas secara garis besar dulu yaah. Insya Allah akan kita lanjutkan kisahnya di sesi berikutnya. Soalnya ndak bisa singkat doong penjelasannya, jadi pertemuan kita dicukupkan segini dulu.

 

Secara umum, dalam mendesian targeting DDS, hal yang HARUS kita perhatikan adalah:

  1. Determinasi dimana target tersebut.
  2. Plajari ikatannya bagaimana
  3. Pilih “kendaraan” si obat untuk sampai ditujuannya!

 

Siiip, insya Allah dilanjutkan dipertemuan selanjutnya. Cekidot nanti yaahh…

Read Full Post »