Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘CBA’

Seperti janjiku sebelumnya, mari kita lanjutkan kisah farmakoekonomi yang sedang kita bahas sedari tadi.  Berikut ini kita bahas mengenai metode yang bisa kita gunain dalam menganalisa farmakoekonomi.

1. Cost Minimal Analysis (CMA)

CMA itu apaan siih? CMA adalah suatu analisa mengenai obat yang outcome dan efektifitasnya dianggap ekuivalen (Sama), yang beda mungkin cuma regiman dose, atau administration (cara pemberiannya ajah), atau juga antara obat me too dengan generiknya yang dianggap memiliki efektivitas dan outcome yang equivalent.

JAdii, dalam CMA, kita cuma ngeliyat mana cost nya yang minimal. Gituuh.. Misal, obat A dikasi 3x sehari tablet biasa, dan obat B 1xsehari sustain release. Dianggap kedua obat efektifitasnya sama, dan outcomenya eqivalent. Hanya diliyat, di antara kedua obat tersebut, manakah yang lebih cost minimal. Begitchuuu…

Eh, paham nda sih apa maksud akuuh. Aku takut salah membahasakan niih. hee

Kekurangan CMA adalah : analisis ini mengabaikan efektifitas (hanya menganggap sama), walaupun sebetulnya efektifitasnya sebenarnya beda. Dia hanya ngeliat mana yang disegi cost lebih murah. Ini yang paling sederhana siih.

2. Cost Benefit Analysis (CBA)

Cost benefit analysis ini menilai benefit yang kita peroleh dari suatu terapi maupun suatu program di mana outcomenya dinilai dalam bentuk moneter. Jadii, benefit yang kita peroleh ituu kita konversikan ke moneter dulu. CBA ini dapat digunain untuk menganalisa dua program yang sama sekali berbeda, karena outcome nya kan sama-sama moneter. CBA ini dapat menganalisa dalam skala makro, kaya skala 1 negara atau satu propinsi. Dan satu-satunya analisa farmakoekonomi yang bisa menilai 1 program saja dengan menghitung NET BENEFITNYA. Bagi pemerintah, kebanyakan yang digunain adalah CBA ini.

Contohnya : Pemerintah ingin menilai, program manakah yang lebih memiliki benefit yang besar antara program pemberantasan TB atau pemberian vaksin polio.

Cara menghitungnya adalah :

CBA = B/C

*C= cost (dalam moneter) dan B = Benefit (dalam moneter)

Jika nilai CBA > 1 berarti programnya lebih benefit, jadi sebagiknya dilaksanakan itu program 😛

Jika nilai CBA = 1 berarti ada atau nda ada program, sama ajah…

Jika nilai CBA < 1 berarti program tersebut malah mendatangkan kerugian, not reccommended dah!

Cara mengitung Net benefit = Benefit-Cost (dalam moneter)

Kekurangan CBA ini adalah : terkadang ada benefit yang intangible, yang nda bisa dimoneterkan, sehingga hasilnya jadi bias deh. Contoh, bagaimana cara merupiahkan nyeri? Susaaahh kaaaannn? Trus, kalau kita hanya menganalisa 1 program saja, kadang-kadang rada-rada susah mengelompokkan yang manakah yang dikategorikan cost dan manakah yang benefit. Kalau membandingkan 2 obat kan,  yaa jelas tho, cost di 1 obat menjadi benefit di obat ke dua. Tapi, ini nda terlalu bermasalah siih…

3. Cost Effective Analysis (CEA)

CEA merupakan analisa farmakoekonomi yang membandingkan cost-effektivitas antara 2 pengobatan yang hasilnya atau outcome nya dinilai dari natural unit. CEA nda perlu dirupiahkan. Cukup pada natural unitnya ajah. Natural unit itu bisa saja, tekanan darah, life-saving, kadar gula darah, kolesterol dan lain sebagainya.

Hasil akhirnya adalah dalam bentuk rasio cost efektifitas (ACER = an average Cost Effective Ratio)

ACER = health care cost (dalam moneter)/clinical outcome (dalam natural unit)

Untuk membandingkan dua obat alternatif yang lebih baik, bisa dihitung tambahan biaya dan efektifitas yang kita dapatkan (ICER = incremental cost effective ratio)

ICER = Cost A-Cost B (dalam moneter)/Effect A- Effect B (dalam %).

dengan Formula ICER ini kita dapat melihat berapa tambahan biaya yang diperlukan untuk mendapatkan effek dari penggantian obat A ke obat B.

Contoh CEA adalah : Obat-obat hipertensi akan dibandingkan antara obat A yang memiliki mekanisme kerja X dengan obat B yang mmeiliki mekanisme kerja Y. Outcome nya adalah penurunan tekanan darah.

Diketahui obat A dengan harga 25ribu dapat menurunkan tekanan darah 20 mmHg, sementara obat B harganya 35ribu dapat menurunkan tekanan darah 15 mmHg. Jadi, obat A ternyata lebih cost effective dibandingkan obat B.

Contoh lain : Obat C dengan 150ribu dapat menyelamatkan 30 nyawa. Akan tetapi obat D dengan 200ribu, tapi dapat menyelamatkan 50 nyawa. Artinya, walaupun obat D lebih mahal, tapi dari cost-effective, obat D ternyata lebih baik.

Kekurangan CEA adalah dia hanya dapat menilai obat dengan skala mikro. Hanya bisa ngebandingin obat dengan outcome yang sama. Misal, sama-sama menurunkan tekanan darah, sama-sama menurunkan kolesterol. Mekanisme kerja boleh ajah berbeda.  Tapi, nda bisa digunain untuk obat-obat yang berbeda outcome nya.

4. Cost Utility Analysis (CUA)

CUA ini sebenarnya adalah analisa farmakoekonomi yang paling komprehensif. Selain dia menganalisa berdasarkan Cost-Effective, dia juga menilai QALY (Quality-Adjust Life Years). Jadi, dia juga menilai bagaimana kualitas hidup setelah pengobatan pasien bagemana. Jadi, outcome nya dinilai berdasarkan QALY nya.

Kekurangannya : analisa tentang QALY ini agak njelimet sih. Hehe

Selengkapnya tentang QALY ini akan dijelaskan lebih lanjut kemudian. Aku pelajari dulu yaaahh….
Insya Allah nanti aku share lagii….

Siiippp???

Read Full Post »