Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘farmakoterapi’

Seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup, sehingga pada saat ini kita sering berjumpa dengan para lansia yang di umur 70-an masih eksis (lho, koq masih eksis yah? mestinya kan masih hidup yah? hehe…). Sementara itu, pemerintah dan dunia global pada umumnya semakin berupaya untuk menurunkan angka kelahiran…. Akibatnya, terjadi pergeseran epidemiologik dan juga pergeseran demografi… Oleh sebab itu, jumlah lansia yang masih ada juga meningkat sehingga di sini perlu penanganan khusus!

Sebentar, kalo menurut sosiologi kependudukan, seseorang dikatakan lansia umur berapa yah? Hmm… kalo dari ilmu geriatrinya sih, umur di atas 60 tahun sudah tergolong Geriatri karena pada usia2 segitu, sudah mulai banyak penyakit yang menggerogoti kan yah?

Geriatri sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang mencakupi aspek medis khususnya pada pasien-pasien lanjut usia (geriatric).

Mengapa geriatri perlu penanganan khusus? Sebab pada pasien geriatri, sudah mulai terjadi penurunan segala fungsi-fungsi dalam tubuh baik itu fungsi kognitif maupun fungsi faali… Jadi, akan banyak rentetannya ke belakang jika itu sudah menyangkut obat, karena ini menyoal bagaimana nasib obat itu dalam tubuh. Lebih tepatnya adalah pada aspek farmakokinetikanya. Masi ingat kan ya, apa aspek farmakokinetika obat? Ingeeeett dooong! Ituu loh, ADME (absorbsi, distribusi, metabolisme/biotransformasi, dan eksresi) si obat dalam tubuh…. Nah, ADME ini pasti akan bersinggungan langsung dengan ORGAN FAAL TUBUH (sebut saja hati, jantung, ginjal, pembuluh darah dan lain sebagainya…) yang juga akan dicapai oleh si obat. Oleh sebab itulah, maka pada pasien geriatri perlu individualize dose, perlu penyesuaian dosis yang amat-amat sangat individual. Si kakek A dengan diagnosis yang sama dengan si kakek B belom tentu mendapatkan terapi yang sama. Akan sangat variatif tergantung bagaimana fungsi tubuhnya. Makanya, diperlukan apoteker alias farmasis di sini, untuk bersama-sama mengawasi ini… Hayuuu, go..go..go..farmasis!

Nah, pada pasien-pasien geriatric, kita juga ndak bisa ‘saklek’ tentang obat-obatan beliau. Misal, kalo diagnosis nya A, harus sgerea ditreatment dengan obat-obat untuk penyakit A. Gak bisa gituuuu, sebab banyaaaaaaaaaaak banget faktor globalnya yang mesti kita awasin dan yang mesti kita perhatiin. Apakah itu fungsi ginjalnya (CCr-nya misalnya…). Selain itu, pada pasien geriatric kan juga MULTIPATOLOGIS nih… Maka dalam menimbang-nimbang treatment, perlu kita perhatiin RISK and BENEFIT-nya juga, dan yang manakah yang LIFE SAVING nya lebih tinggi… Sebab, pada pasien geriatric, sedikit saja salah obat, recovery nya bakalan susaaah. Beda banget dengan pasien-pasien dewasa biasa yang sistem recovery tubuhnya masih oke sehingga ndak langsung drop kayak geriatric. Makanya, memang benar-benar diperlukan ART dalam diagnosis (khususnya buat si dokter nih) dan juga K|KEHATI-HATIAN yang AMAT SANGAT EKSTRA SEKALI dalam hal PENGOBATAN bagi PRESCRIBER dan FARMASIST (ini pemborosan kata banget yah? hehe…).

Satu hal yang sering kita salah interpretasikan tentang para geriatric adalah KITA SERING MEMBUAT PASIEN LANSIA ITU DIBEBASTUGASKAN DAN DIBIARKAN TIDAK MANDIRI. Mungkin karena kita sayang yah sama orang tua atau kakek nenek, sehingga nenek dan kakek (ataupun orang tua) dimanjakan. Mandi dimandikan. Mau makan diambilkan. dan seterusnya…. padahal, ini sebenarnya sebuah TINDAKAN yang SALAH!

Hal yang paling terbaik dalam memperlakukan orang lansia adalah membiarkan beliau benar-benar MANDIRI dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang sebenarnya paling penting bagi pasien geriatri. Terkcuali jika memang benar-benar tak mampu lagi untuk mandiri karena fungsi faalnya yang drop…

Untuk pengantar dicukupkan segini dulu ajah yah….
insya Allah kita lanjutkan dengan farmakoterapinya pada pasien geriatri di sesi selanjutnya…. Soalnya udah keburu mau kuliah lagi…hehe

Makasiih…

Read Full Post »

Psikiatri merupakan salah satu cabang dari ilmu kedokteran yang dikenal dengan ilmu kedokteran jiwa…
Meliputi : etiologi, pathogenesis, diagnosis, terapi, rehabilitasi dan pencegahan terhadap gangguan kejiwaan.
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi di mana perkembangan emosional dan intelektual seseorang berjalan selaras dengan orang lain.
Gangguan kesehatan jiwa bakal terjadi jika kepribadian seseorang gagal menjalankan fungsi dan tugasnya. Variasinya macem-macem tuh, mulai dari yang kecil (stress, susah tidur) hingga yang beratnya (skizofren). Makanya jangan gampang ajah bilang stress, soalnya itu adalah bagian dari gangguan kesehatan jiwa. Wkakakaka…

Etiologi dari gangguan kesehatan jiwa terdiri atas 3 hal yang saling terintegrasi satu sama lainnya :
Pertama organobiologi. Maksudnya organo biologi adalah gangguan organ yang dapat menyebabkan gangguan jiwa. Misalnya, seseorang yang mengalami kecelakaan lalumengalami gangguan pada kepalanya dan persyarafannya, sehingga akibatnya diajuga mengalami gangguan jiwa. Ataupada pasien stroke yang terjadi penyumbatan ataupun haemoragik (pendarahan) pada bagian pusat penentuan sikap sehingga ia juga mengalami gangguan jiwa. Pasien dengan riwayat keluarga penderita gangguan jiwa juga amat sangat rentan mengalami gangguan jiwa. Prevanlensinya bahkan mencapai 47 %

Kedua, psikoedukasi. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan pendidikan yang membikin tekanan kejiwaan terus menerus, semisal di bawah tekanan ibu tiri yang kejaaam (memangnya ibu tiri selalu kejam yah? Keknya enggak deh. Hehe… tapiii, anggap saja ini sebuah contoh yaah), atau tinggal di sebuah keluarga yang terus-menerus menekannya secara kejiwaan juga dapat menyebabkan gangguan jiwa.

Ketiga, sosiobudaya. Ini juga bisa menyebabkan gangguan jiwa. Misalnya hidup dengan penuh tekanan di lingkungan yang menuntut. Atau, misalnya seorang agamis yang begitu ekslusif dan shock berat ketika melihat dunia sekelilingnya begitu banyak kemaksiatannya, sehingga dia tidak bisa menerima hal tersebut lalu menimbulkan gangguan pada jiwanya.

Elektik Holistik
Dalam pendekatan psikiatri, ada yang dikenal dengan istilah elektik holistic.
Elektik holistic secara bahasa :
Elektik : sikap seseorang mau menerima fakta/kenyataan yang terjadi yang punya hubungan dengan penderitaan pasien
Holistic : sikap seseorang yang mau bersungguh hati memandang daya dan tenaga sebagai seorang individu yang unik.

Dalam pembahasan kali ini, akan dibahas beberapa gangguan psikiatri yaitu :
1. Gangguan kepribadian
2. Depresi
3. Anxietas
4. Psikosis
5. Skizofrenia
6. Gangguan psikoseksual
Insya Allah sekalian sama farmakoterapinya. Jadiiiii, cekidot di materi-materi berikutnya yaaah. Don’t miss it! Okeh?

Farmakoterapi II : Gangguan Kepribadian

Kepribadian seseorang akan matang setelah berumur 18 tahun. Jadi, gangguan kepribadian ini adalah pada umur 18 tahun ke atas. Jika gangguan sudah terlihat semenjak umur di bawah 18 tahun, maka prognosisnya buruk.

Gangguan kepribadian meliputi :
1. Gangguan kepribadian Paranoid
2. Gangguan kepribadian schizoid
3. Gangguan kepribadian histerionik
4. Gangguan kepribadian antisocial
5. Gangguan kepribadian pasif agresif
6. Gangguan kepribadian narsistik

Gangguan kepribadian Paranoid
GK paranoid memiliki ciri khas setidaknya pada 3 hal berikut :
a. Curiga yang berlebihan, rasa ketidakpercayaan yang berlebihan (curiga yang berlebihan, awas terhadap lingkungan padahal ndak membahayakan, bersikap menutup-nutupi, meragukan kesetiaan orang lain, cemburu patologik, gak mau dikritik, waspada yang berlebihan, selalu merasa ditipu atau dirugikan, perhatian yang berlebihan terhadap sesuatu yang mencurigakan, mencari bukti-bukti prasangka)
b. Hipersensitif, selalu merasa dihina (merasa selalu dihina dan direndahkan, membesar-besarkan masalah yang kecil, dan dalam keadaan terancam siap-siap untuk membalas)
c. Memiliki kehidupan afektif yang terbatas (dingin tanpa emosi, merasa sangat objektif dan rasional, humorisnya sedikit, dingin pasif dan tiada kelembutan)

Gangguan kepribadian schizoid
GK schizoid ditandai dengan :
a. Dingin, acuh tak acuh
b. Memiliki hubungan pertemanan yang sedikit banget (1-2 orang saja)
c. Prilakunya eksentrik
d. Sikapnya indiferen terhadap pujian, kritikan maupun perasaan orang lain

Gangguan kepribadian histrionic
GK Histrionik ditandai dengan :
a. Dramatisasi (dramatisasi yang berlebihan, berusaha menarik perhatian, menginginkan rangsangan/aktivitas yang menggairahkan, ngambek yang tidak rasional, reaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil)
b. Hubungan interpersonal yang spesifik (tampak dangkal dan tidak sungguh-sungguh, walaupun sepintas tampak menarik, egosentrik, bergantung pada orang lain dan selalu mencari dukungan, suka menuntut dan tampak angkuh, manipulative/mengancam akan bunuh diri)

Gangguan kepribadian antisocial
GK antisocial ada pada 2 perode umur
a. Jika terjadi pada usia 18 tahun
Cirri-cirinya adalah : malas bekerja, suka “berbohong”, tidak bertanggung jawab terjadap keluarga, banyak hutang, suka berfoya-foya,tidak taat norma dan aturan, agresif dan mudah tersinggung, gagal memelihara hubungan dengan pasangan dsb)

Gangguan kepribadian pasif agresif
Cirri-cirinya adalah :
a. Resisten terhadap tuntutan agar penampilannya adekuat baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan social
b. Resistensi yang tidak langsung ( suka melambat-lambatkan pekerjaan, sering “lupa”, bekerja tidak efisien, keras kepala)

Gangguan kepribadian narsistik
Cirri-ciri GK narsistik :
a. Merasa bangga & memuja dirinya bahwa dirinya hebat, misalnya memperkirakan kemampuan, kecantikan atau bakatnya secara berlebihan.
b. Preeokupasi dgn fantasi tentang sukses dirinya
c. Selalu membutuhkan perhatian & pujian yg terus menerus.
d. Respon yg acuh terhadap kritik atau kekalahan yg ditandai perasaan marah.
e. Sekurangnya terdapat 2 ciri khas dlm gangguan hubungan interpersonal yaitu; menuntut perlakuan istimewa, mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari orang lain,hubungan yang ekstrim disatu pihak menyanjung & dipihak lain merendahkan, kurang mampu berempati.

Read Full Post »