Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Individual Dose’

Hemm…sejujurnya, farmakogenetik dan farmakogenomik merupakan ilmu baru bagi aku. Dulu, waktu S1, jarang sih disinggung-singgung soal farmakogenomik. Tapi, sejujurnya, aku sangat menyukai belajar farmakogenomik. Sesuatu banget deh pokoknya. Hehe…

 

Farmakogenetika itu mencakup suatu penelitian mengenai variable genetik yang dapat menyebabkan perbedaan respon individual manusia terhadap obat.

Farmakogenetik mempelajari tentang varian-varian monogenetik yang mempengaruhi respon terhadap obat.

Farmakogenomik mengacu kepada seluruh spektrum gen yang berinteraksi dengan respon obat.

 

Kadang, kita bertanya-tanya, kenapa sih, guweehh (hehe…) makan obat A nda sembuh-sembuh, tapi si X makan obat ini dikit ajah udah langsung sembuh… Kalo si Z, makan obat yang sama, bisa lebih sedikit pulih, tapi nda kaya si X. Kadang, kita suka nyalahin dokternya atau nyalahin apotekernya. “Pasti deh ni obat udah kadarluarsa. Ini obatnya nda paten. Kayanya dokter salah diagnosa. Kayanya aku salah obat”, dan banyak kayaknya lainnya… Tapiii, mungkin kita melupakan (atau malah tidak tahu satu hal), bahwa perbedaan farmakogenomik mungkin saja berperan penting dan berkontribusi pada kondisi tak berefeknya obat itu pada diri kita. Nah looh?

 

Jadi, bagemana siih sebenernya?

Ada yang disebut dengan SNP (single nucleotida polymorphism), yang walaupun cuma 1 nukleotida sahaja, ternyata memberikan perbedaan yang signifikan. Nah, bisa jadi saja, terjadi perbedaan pada enzim pemetabolisme yang ada di hati kita (yang akrab disapa dengan cytochrome dengan berbagai isoenzim CYP nya…) sehingga ada obat yang dimetabolisme dengan begitu cepat sehingga tak sempat memberikan efek atau pada sebagian orang justru sebaliknya, sedikit yang dimetabolisme atau lebih lambat dimetabolisme sehingga obat menjadi cukup responsif bahkan toksik.

 

Respon Obat Individual

Respon individual obat setiap orang berbeda. Jadi, bisa saja dengan obat yang sama, ada orang yang mendapatkan ADR lebih banyak, ada orang yang harus minum 2×1, ada orang yang justru hanya minum 1×1 saja, ada orang yang langsung berefek dan ada yang tidak. Seperti yang sdh disinggung sebelumnya, tergantung sebanyak apa enzim yang diekspresikan oleh tubuh. Kalo expressi nya banyak, tentulah enzimnya juga banyak. Artinya, metabolisme nya juga akan cepat. Banyak sedikitnya obat tentu akan mempengaruhi afinitasnya terhadap obat. Hal inilah yang menyebabkan obat direspon dan diproses oleh tubuh berbeda, dan pendekatan farmakogenomik ini PENTING bagi seorang farmasis klinis dalam merekomendasikan dosis yang perlu diberikan ke pasiennya. Pertanyaannya, di Indonesia sudah tersediakah sarana dan prasarana untuk itu semua? *hanyabisageleng-geleng

 

Di era yang sudah genomik ini sebenarnya sudah begitu banyak genom yang berhasil disequensing. Bioinformatik, Microarray, Proteomik, farmakogenetik hingga ke farmakogenomik. Genom manusia terdiri dari 3,4 milyar pasang basa dan 3 juta diantaranyan mengalami variasi genomik (hanya 0,1 % yaahh? Kalo lebih dari 5 % variasi genomiknya, pasti makluk jadinya bukan lagi manusia! hehe…). Nah, variasi genetik itu dapat dipakai untuk menjelaskan perbedaan respon induvidual terhadap obat! Seperti yang udah kita singgung sebelumnya.

 

Gen mengkode suatu enzim –> perbedaan sekuen menyebabkan perbedaan enzim –> perbedaan setiap individu –> menyebabkan setiap orang memetabolisme obat yang sama dengan cara yang berbeda –> perlu individual dose–> individualisasi pengobatan maupun dosis berdasarkan profil farmakogenetika seseorang terhadap efek obat.

 

Jadi, apa sih tujuan farmakogenomik itu?

1. Untuk pengobatan yang rasional

2. Untuk meminimalkan efek samping atau ADR

3. sebagai pedoman bagi klinisi menentukan regimen terapi atau dosis dan lama pengobatan

4. penggunaan profil atau informasi  genetik untuk memilihkan terapi yang tepat bagi klinisi

 

Contoh perbedaan polimorfisme yang dapat mempengaruhi metabolisme obat:

1. Pada isoniazid terdapat NAT (N-Acetyl transferase) yang dapat meng-asetilasi si isoniazid menjadi metabolit inaktif. Jadi, pada individu tertentu ada yang cepat, ada yang lambat diasetilasi, yang mempengaruhi terhadap pengobatan TB dan juga efek samping yang dihasilkannya.

2. Perbedaan polimorfisme sitokrom P450, pada orang kulit putih, gen CYP2D6  nya banyak mengalami perbedaan sehingga tidak bisa memetabolisme obat antihipertensi debrisoquin

3. Variasi genetis menyebabkan hasil tes doping menjadi rancu. Pria yang memiliki variasi gen UGT2B17 walaupun sudah disuntik testosteron 360 mg, tak terdeteksi di urinenya, sehingga doping pas lagi olimpiade itu nda ketahuan

4. Polimorfisme tiopurine pada 90 % individu tinggi, pada 10 % aktivitasnya sedang dan 0,3 % malah nda beraktivitas si tiopurine terhadap athritis inflamasi, atau leukimianya

 

jadi, apa sih dampak variabilitas respon ini terhadap perawatan? ya itu diaaa –> dapat menyebabkan ADR.

 

Terobosan baru itu, pake suatu chip yang berisi informasi genetika terutama untuk memetabolisme obat. Contohnya amplichip (kapan yaaa di Indonesia juga bisa giniii? *cumabisamenatapdenganiri

 

Ya, jadi dapat kita simpulkan bahwa pendekatan farmakogenomik merupakan sebuah paradigma baru dalam era dunia perobatan dan pelayanan kesehatan. dengan adanya farmakogenomik, para klinisi dapat memprediksi mengenai respon obat pada pasien tersebut dan bagaimana efek samping obat atau ADR yang mungkin terjadi pada indovidu tertentu, sehingga dapat menghindari coba-gagal dalam pemilihan terapi. Farmakogenomik dapat pula dijadikan sebagai dasar pengembangan obat baru. Pendekatan farmakogenomik dapat meningkatkan kualitas pengobatan. Semoga ada cara yang lebih ekonomis untuk pendekatan farmakogenomik di Indonesia (*berdoa).

Read Full Post »