Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘interpretasi Data Klinik’

Fungsi Hati Normal

Hati
Hati adalah kelenjar terbesar dalam tubuh, berat rata-rata sekitar 1500 gram atau 2% berat badan orang dewasa normal. Hati memiliki dua lobus utama yaitu kanan dan kiri. Setiap lobus hati terbagi menjadi lobules yaitu unit mikroskopis dan fungsional organ. Setiap lobules merupakan badan heksagonal yang terdiri atas lempeng-lempeng sel hati yang berbentuk kubus. Hati manusia memiliki maksimal 100.000 lobulus. Di antara lempengan sel hati terdapat kapiler-kalpiler yang disebut sebagai sinusoid, yang merupakan cabang vena porta dan arteria hepatica. Tidak seperti kapiler lain, sinusoid dibatasi oleh sel gafositik atau sel Kupffer. Sel Kupffer merupakan monosit-makrofag, dan fungsi utamanya adalah pertahanan melawan invasi bakteri dan agen toksik.
Selain cabang-cabang vena porta dan arteria hepatica yang melingkati bagian perifer lobules hati, juga terdapat saluran empedu. Saluran empedu intralobular membentuk kapiler empedu yang sangat kecil disebut kanakuli, yang berjalan ditengah lempengan sel hati.
Fungsi Utama Hati
Fungsi utama hati adalah membentuk dan mengekskresi empedu; saluran empedu mengangkut empedu, sedangkan kandung empedu menyimpan dan mengeluarkan empedu ke dalam usus halus sesuai kebutuhan. Unsur utama empedu adalah air (97%), elektrolit, garam empedu, fosfolipid, kolesterol, garam organic, dan pigmen empedu (terutama bilirubin terkonjugasi).
Hati juga mensintesis glukosa dari protein dan lemak (glukoneogenesis). Serum protein plasma (kecuali gama globulin) disintesis oleh hati . Protein tersebut antara lain albumin, protrombin, fibrinogen, dan faktor pembekuan lain.
Sebagian besar degradasi asam amino dimulai dalam hati melalui proses deaminasi atau pembuangan gugus amino. Amonia yang dilepaskan kemudian disintesis menjadi urea dan di ekskresi oleh ginjal dan usus. Amonia yang terbentuk dalam usus akibat kerja bakteri pada protein juga diubah menjadi urea dalam hati.
Secara keseluruhan, fungsi hati terbagi atas 2 garis besar :
1. Sistem biokimia sel hati
Sistem ini bertanggung jawab terhadap hampir seluruh aktifitas metabolic dalam tubuh. Aktifitas metabolic itu antara lain :
– Sintesa protein
– Metabolism glukosa dan gula lainnya secara aerob maupun an-aerob
– Sintesis dan perombakan glikogen
– Metabolism asam amino dan nukleat
– Interkonversi antara Asam amino dan sama dikarboksilik melalui transaminase (aminotransferase)
– Sintesis lipoprpotein dan metabolismenya
– Metabolism xenobiotik (seperti metabolism obat)
– Biasanya juga melibatkan sistem oksidasi P450 sitokrom
– Penyimapanan vitamin dan besi seperti A, D, dan B12
– Sintesis hormone seperti : angiotensinogen, insulin-seperti factor pertumbuhan I, dan triiodothyronine.
Hati juga berfungsi sebagai klirens dari berbagai hormone seperti insulin, hormone parathyroid, estrogen, dan kortisol.
Uniknya, hati juga merupakan tempat dimetabolismenya ammonia menjadi urea
Albumin dalam tubuh juga disintesis di hati sebagai factor koagulasi protein, dengan pengecualian untuk factor von Willebrand, yang mana disintesis di sel endhotelian dan megakaryosit. Pasien dengan penyakit liver memiliki beberapa tanda atau gejala yang berhubungan dengan gangguan dari fungsi albumin ini.

Sistem hepatic kedua adalah sistem hepatobiliary yang berhubungan dengan metabolism billirubin, sebuah proses yang meliputi transport billirubin ke sel hati dan konjugasinya ke asam glukoronic, dan sekresinya ke saluran empedu dan sistem enterohepatik. Terakhir, sistem retikoloendotelial yaitu sel Kupffer. Bentuk yang berkaitan dengan maghrofag meliputi : (a) dengan sistem imun, termasuk tempat yag paling utama dalam perlindungan melawan bakteri saluran cerna, dan meurupakan lokasi pertama untuk perpindahan komplek antigen-antibody dari sirkulasi. (b) dengan perombakan hemoglobin dari eritrosit yang telah mati, memberikan peningkatan terhadap billirubin, bersamaan dengan billirubin dari limfa memasuki sel hati.

Fungsi Metabolik
 Billirubin
Metabolism Billirubin Normal

Billirubin merupakan matabolit utama dari heme. Ikatan besi dalam cincin tetrapirol ditemukan dalam haemoglobin, myoglobin, dan sitokrom. Lebih kurang 250-350 mg billirubin diproduksi setiap harinya pada orang dewasa sehat. Delapan puluh lima persen (85 %) di antaranya berasal dari pergantian sel darah merah yang sudah tua. Billirubin memasuki sel hati dengan 2 mekanisme yaitu dengan difusi pasif dan dengan endositosis mediasi reseptor.

Mekanisme masuknya billirubin ke sel hati :

Pada limfa, sel darah merah yang sudah tua pecah kemudian globin dan heme. Bilirubin merupakan hasil metabolisme dari heme, pada awalnya di dalam limfa dan di bawa ke hati dengan berikatan dengan albumin. Kemudian memasuki hepatosit berikatan dengan suatu transporter protein dan melewati membrane sel. Ia berikatan dengan protein Y dan Z Kemudian dengan ligandin agar bias memasuki Retikulum Endoplasma Halus (SER). Di dalam SER bilirubin dikonjugasi dengan asam glukoronat dengan katalisis UDP–glukoronil transferase, menghasilkan mono dan di glukoronat bilirubin. Bilirubin terkonjugasi kemudian ke dalam kanakuli .

Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan fungsi hati

Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan fungsi hati meliputi :
1.Infeksi virus hepatitis dapat ditularkan melalui selaput mukosa, hubungan seksual, atau darah (parentral)
Hepatitis diklasifikasikan atas beberapa jenis :
Hepatitis A
Hepatitis A termasuk klasifikasi virus dengan transmisi secara enteric. Tidak memiliki selubung dan tahan gterhadap cairan mepedu. Virus ini ditemukan di dalam tinja. Berbentuk kubus simetris dengan diameter 27-28 nm, untai tunggal, molekul RNA linier : 7,5 kb ; termasuk picornavirus, subklasifikasi hepatovirus. Menginfeksi dan berreplikasi pada primate non manusia dan galur sel manusia.

Seringkali infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan gejala mirip flu, rasa lelah, demam, diare, mual, nyeri perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan. Gejala hilang sama sekali setelah 6-12 minggu. Penderita hepatitis A akan menjadi kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak akan berlanjut menjadi kronik.

Masa inkubasi 15-50 hari (rata-rata 30 hari). Tersebar di seluruh dunia dengan endemisitas yang tinggi terdapat di Negara-negara berkembang. Penularan terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita hepatitis A, misalnya makan buah-buahan atau sayur-sayuran yang tidak dikelola dengan sempurna, kerang setengah matang, minum es batu yang prosesnya terkontaminasi.

Hepatitis B
Manifestasi klinis hepatitis B adalah peradangan kronik pada hati. Virus hepatitis B termasuk yang paling sering ditemui. Distribusinya tersebar di seluruh dunia. Masa inkubasi berkisar antara 15-180 hari (rata-rata 60-90 hari). Penderita hepatitis B akan sembuh sempurna dan mempunyai kekebalan seumur hidup, tapi sebagian lagi gagal memperoleh kekebalan.

Sebanyak 1-5 % penderita dewasa, 90 % neonates, dan 50 % bayi akan berkembang menjadi hepatitis kronik dan viremia yang persisten. Orang tersebut akan terus-menerus membawa virus hepatitis B dan bisa menjadi sumber penularan.

Untuk mencegah penularan hepatitis B adalah dengan imunisasi hepatitis B terhadap bayi yang baru lahir, menghindari hubungan badan dengan orang yang terinfeksi, hindari penyalahgunaan obat dan pemakaian bersama jarum suntik. Menghindari pemakaian bersama sikat gigi atau alat cukur, dan memastikan alat bersih dan steril jika hendak melubangi telinga atau tusuk jarum.

2.Genetika atau keturunan seperti hemochromatosis
Hemochromatosis merupakan kelainan metabolisme besi yang ditandai dengan adanya pengendapan besi secara berlebihan di dalam jaringan. Penyakit ini bersifat genetik atau keturunan. Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi terjadinya hemochromatosis adalah pemeriksaan terhadap transferin dan feritin.

3.Gangguan imunologis seperti hepatitis autoimun, terjadi perlawanan terhadap sel-sel hati yang berakibat timbulnya peradangan kronis

4.Kanker, seperti hepatocellular carcinoma, dapat disebabkan oleh senyawa karsinogen seperti alflatoksin, polivinil klorida, virus dan lain-lain. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi terjadinya kanker hati adalah AFP dan PIVKA II
5.Sirosis Hati
Sirosis hati terjadi setelah peradangan dan bengkak. Hati mencoba memperbaiki dengan membentuk bekas luka atau parut kecil. Parut ini disebut fibrosis yang membuat hati sulit melakukan fungsinya. Semakain banyak terbentuk parutan lalu pada akhirnya menyatu dan disebut dengan sirosis. Darah tidak dapat mengalirinya dengan baik serta menjadi keras. Pemeriksaan yang dilakukan untik mendeteksi adanya sirosis hati adalah pemeriksaan enzim SGOT-SGPT, waktu protrombin dan protein (albumin-globulin), eketroforesis (rasio albumin-globulin terbalik)
6.Perlemakan hati
Perlemakan hati terjadi bila penimbunan lemak melebihi 5 % dari berat hati atau mengenai lebih dari separuh jaringan sel hati. Perlemakan hati sering berpotensi menjadi penyebab kerusakan hati dan sirosis hati. Pemeriksaan yang dilakukan adalah SGOT, SGPT, dan alkali fosfatase
7.Kolestasis dan Jaundice
Kolestasis merupakan keadaan akibat kegagalan produksi dan/atau pengeluaran empedu. Lamanya menderita kolestasis dapat menyebabkan gagalnya penyerapan lemak dan vitamin A,D,E, dan K oleh usus, juga adanya penumpukan asam empedu, bilirubin dan kolesterol di hati.

Adanya kelebihan bilirubin dalam sirkulasi darah dan penumpukan pigmen empedu pada kulit, embran mukosa dan bola mata (pada lapisan sclera) disebut jaundice. Pemeriksaan terhadap penyakit jaundice adalah alkali fosfatase, Gamma GT, Bilirubin total, dan bilirubin direk

Tes Fungsi Hati
Tes fungsi hati untuk mengukur kemampuan hati melakukan fungsi normal, misalnya: albumin serum untuk mengukur sintesis protein, waktu protrombin untuk mengukur faktor pembekuan, bilirubin untuk mengukur konjugasi dan ekskresi garam empedu, atau pengukuran enzim hati (alkali fosfatase, transminase), yang merupakan indikator kerusakan hati.

1. Kadar Enzim Plasma
Bila sel mengalami mengalami kerusakan maka akan mengeluarkan enzim tertentu. Enzim-enzim menempati tempat tertentu di dalam hati. Laktat Dehidrogenase, Aspartat Aminotranferase (AST), dan Alanin Aminotranferase (ALT) merupakan enzim yang terdapat dalam sitoplasma. Sedangkan enzim yang menempati mitokondria adalah isoenzim AST yang keluar apabila terjadi kerusakan di mitokondria. Enzim pada kanakuli seperti Alkalin Fosfatase dan  Glutamil Tranferase (GGT) akan meningkat apabila terjadi obstruktif. ALT akan dikeluarkan apabila sel hati mengalami kerusakan, sedangkan AST keluar, bukan hanya sel hati yang mengalami kerusakan, termasuk sel pada organ jantung. Kadang kadar ALT dan AST terukur pada gangguan kardiovaskular dan otot. Maka pengukuran AST tidak spesifik untuk pemeriksaan fungsi hati.
Beberapa varian reaksi dapat digunakan dengan enzim. Dalam reaksi, alanin untuk ALT dan aspartat untuk AST ditambahkan untuk mempercepat reaksi ke kanan,
menghasilkan glutamat. Produksi terakhir ini kemudian digabungkan untuk enzim
glutamat dehidrogenase, dalam reaksi yang disebut indikator, menghasilkan
α-ketoglutarat.
Reaksi ini harus dievaluasi selama periode yang singkat, karena salah satu substrat untuk enzim alfa glutarat, dibuat ulang oleh reaksi indikator. Varian lain untuk AST melibatkan kopling oksalat yang terbentuk dari aspartat, dalam reaksi terhadap malat dehidrogenase, yang mengubah OAA menjadi malat, dan NADH diubah menjadi NAD yang pada pengukurannya mengalami penurunan absorbansi pada 340 nm. Pada ALT, konversi alanin menjadi piruvat memungkinkan kopling dehidrogenase piruvat menjadi bentuk kompleks di mana piruvat diubah menjadi asetil koenzim A, dan NAD dikonversikan menjadi NADH yang dapat langsung diukur dengan peningkatan absorbansi pada 340 nm..
Pada hepatitis A dan B, kadar AST lebih tinggi daripada ALT pada 24 jam pertama, karena aktivitas aktivitas AST yang lebih tinggi (7000 kali) di hepatosit, namun 24 jam berikutnya kadar ALT lebih tinggi daripada AST berdasarkan waktu paruhnya.

2. Pengujian Bilirubin
Bilirubin yang berasal dari pemecahan sel darah merah dibawa ke hati di mana terjadi konjugasi menjadi asam glukoronat. Bilirubin terkonjugasi kemudian diekskresikan ke dalam empedu dan didegradasi oleh bakteri dalam usus menjadi urobilinogen. Sebagian diekskresikan dalam tinja dan urin. Bilirubin terkonjugasi memberi warna kuning pada urin. Urobilinogen tak berwarna namun dalam beberapa waktu berubah warna menjadi coklat karena proses oksidasi menjadi urobilin.(Rubenstein, 2007).
Bilirubin biasanya diukur dengan menggunakan asam sulfanilat diazotasi, yang membentuk suatu senyawa azo terkonjugasi dengan cincin porfirin bilirubin, sehingga
dalam produk reaksi absorbansinya pada 540 nm. Karena bilirubin tak terkonjugasi
bereaksi perlahan, bahan pencepat reaksi seperti kafein atau metanol digunakan
untuk mengukur jumlah total bilirubin. Sampai awal 1980-an, masih digunakan prinsip bahwa bilirubin direk sama dengan bilirubin terkonjugasi. Pengenalan teknologi slide kering, menggunakan spektrofotometri diferensial untuk mengukur bilirubin terkonjugasi dan tak terkonjugasi secara terpisah, menyebabkan pengamatan situasi klinis jumlah bilirubin total tidak sama dan karakterisasi delta-bilirubin. Sekitar 70% -80% dari bilirubin terkonjugasi dan delta-bilirubin dan sebagian kecil bilirubin tak terkonjugasi diukur dalam uji bilirubin direk. Keakuratan tes bilirubin langsung tergantung pada penanganan sampel dan komposisi reagen. Paparan berkepanjangan menyebabkan fotoisomerisasi cahaya, peningkatan reaksi bilirubin direk. Penggunaan
agen pembasah atau buffer pH yang tidak tepat dapat meningkatkan jumlah bilirubin tak terkonjugasi terukur sebagai bilirubin langsung. Biasanya, bilirubin direk harus terukur 0-0,1 mg / dL pada individu normal, dan jarang mencapai nilai 0,2 mg / dL bila tidak ada penyakit hati atau saluran empedu. Nilai referensi bilirubin total untuk keduanya tergantung usia dan jenis kelamin. Kadar bilirubin biasanya mencapai nilai puncak pada sekitar usia 14-18, menurun dan stabil pada dewasa usia 25. Nilai bilirubin lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita di segala usia.

3. Tes untuk Amonia.
Amonia biasanya diukur dengan reaksi enzimatik menggunakan glutamat dehidrogenase, yang mengkatalisis reaksi α-ketoglutarat dan amonia untuk membentuk glutamat, dengan oksidasi NADP menjadi NADPH sebagai indikator (penurunan absorbansi pada 340 nm). Amonia juga diukur melalui metode geser kering, menggunakan buffer pH basa untuk mengkonversi semua ion amonium ke gas amonia, dengan bromphenol-blue sebagai indikator. Karena amonia merupakan produk metabolisme seluler, darah arteri lebih sering digunakan untuk pengukuran amonia. Spesimen harus disimpan dalam air es sampai terjadi pemisahan sel dari plasma.
4. Penentuan Kadar Protein Serum
Penentuan kadar proteinserum biasanya berdasarkan metode biuret. Metode ini menggambarkan kemampuanpeptida backbone C = O , kelompok protein untuk membentuk kompleks warna dengan tembaga pada absorbansi 540 nm. Beberapa metode yang memanfaatkan dyebinding, yaitu : metode di mana protein membentuk kompleks dengan pewarna Coomassie biru. Bentuk albumin kompleks yang berwarna unik dengan pewarna bromcresol hijau dan bromcresol ungu, pada absorbansi yang sedikit berbeda. Bromcresol ungu cenderung bereaksi lebih eksklusif dengan albumin dari pada bromcresol hijau, sehingga tingkat serum albumin mungkin sedikit
lebih rendah bila ditentukan dengan bromcresol ungu. Kisaran referensi untuk
Total kadar serum protein umumnya dalam kisaran 6-7,8 g / dL. Setidaknya 60% dari total protein ini adalah albumin, dan kisaran normal yang sekitar 3,5-5 g / dL.

5. Pengukuran Albumin
Albumin adalah protein utama yang dihasilkan oleh hati, sintesis hati
meningkat dengan adanya tekanan onkotik plasma yang rendah dan menurun oleh sitokin, terutama interleukin-6. Meskipun sintesis albumin normal terjadi pada
sekitar 120 mg / kg / hari, laju sintesis dapat berlipat ganda dengan adanya tekanan onkotik yang rendah. Penurunan albumin adalah salah satu prognostik utama pada pasien dengan sirosis. Albumin adalah protein transportasi untuk berbagai zat, baik endogen (Misalnya, bilirubin, hormon tiroid), maupun eksogen (misalnya, obat-obatan). Penurunan albumin setara dengan penurunan protein total serum.
6. Pengukuran Ceruloplasmin.
Tembaga yang mengandung protein utama dalam serum, seruloplasmin,
juga terdapat enzim dalam konsentrasi sirkulasi tertinggi.
Ceruloplasmin adalah ferroxidase, penting untuk mengubah zat besi yang memungkinkan mengikat transferin. Rendahnya tingkat seruloplasmin ditemukan pada penyakit Wilson, gangguan bawaan langka (1 dalam 30.000 orang)
terkait dengan salah satu dari banyak mutasi pada gen pada kromosom 13
coding untuk suatu triphosphatase adenosin selular (ATPase), ATP7B, dan karier kation tipe-p ATPase (Bull, 1993). Protein ini paling utama berada di hati dan berfungsi mengubah sekresi tembaga pada plasma kemudian mensintesis seruloplasmin ke dalam saluran bilier. Kelebihan tembaga intraseluler disimpan dalam lysozomes dalam hepatosit, kemudian menginduksi reaksi radikal bebas. Kerusakan hati yang dihasilkan dapat menyebabkan hepatitis aktif kronis, sirosis, atau, jarang kegagalan hati fulminan.
7. Faktor pembekuan
Protein koagulasi disintesis di hati. Selain itu, inhibitor koagulasi, seperti antithrombin III, α-2-macroglobulin, α-1-antitripsin, inhibitor C1 esterase, dan
protein C juga disintesis dalam hati. Rendahnya tingkat antithrombin III
pada pasien dengan sirosis dan hepatitis dapat disebabkan oleh sintesis yang menurun,
peningkatan konsumsi, atau perubahan dalam rasio fluks transcapillary. Koagulopati paling umum terlihat pada gagal hati (yaitu, sirosis dan akut kegagalan hati fulminan). Kondisi ini ditandai dengan peningkatan konsumsi faktor pembekuan dan trombosit, menyebabkan trombositopenia dan peningkatan keduanya (PTT) kali protrombin (PT) dan parsial thromboplastin yang merupakan penanda Penyakit Autoimun (Autoimmune markers).

HEPATITIS
manifestasi klinis untuk penyakit hepatitis adalah kelelahan dan anoreksia. Secara mikroskopis, sel cedera dan nekrosis sedikit sekali yang bukan disebabkan oleh virus langsung (atau agen beracun)-yang menyebabkan kerusakan sel dan kemudian mempengaruhi respon kekebalan terhadap virus. Sejauh ini, penyebab paling umum (> 90% kasus) adalah virus hepatitis, dengan sekitar 50% kasus karena hepatitis B, 25% dengan hepatitis A, dan 20% dengan hepatitis C.

Penyakit kuning sering awalnya dipandang sebagai ikterus scleral ketika pasien memiliki total konsentrasi bilirubin serum di atas 2 mg / dL. Penyebab hepatitis akut juga adalah hampir selalu (> 90% kasus) disebabkan oleh virus, meskipun paparan bahan kimia seperti karbon tetraklorida atau kloroform atau obat-obatan seperti asetaminofen, terutama pada anak, tetap harus dipertimbangkan. Pada hepatitis, terjadi peningkatan aminotransferases yaitu lebih besar dari 200 IU / L dan sering 500 atau bahkan 1000 IU / L. Nilai kecuali untuk hepatitis C. Peningkatan bilirubin direk dan .indirek juga terjadi. Peningkatan bilirubin indirek adalah karena ketidakmampuan hepatosit untuk melakukan konjugasi bilirubin, dan kenaikan bilirubin direk adalah karena sumbatan dari canaliculi sehingga pada infeksi akut terjadi proses inflamasi. Karena kerusakan hepatosit, tingkat LD juga mengalami sedikit peningkatan dengan nilai biasanya sekitar 300-500 IU / L. Karena peradangan dan / atau nekrosis atau apoptosis canalicular dan ductular pada lapisan sel, fosfatase alkali juga mengalami peningkatan dengan nilai lebih kurang 200-350 IU / L.

Pemeriksaan Billirubin memiliki makna yang penting pada hepatitis terutama pada hepatitis A atau hepatitis B. Billirubin terkonjugasi banyak terdapat dalam sirkulasi dan sangat sedikit yang diubah menjadi urobilinogen dan sterkobilin. Hal ini menyebabkan kadar billirubin tinggi dalam darah yang juga diangku ke mana-mana sehingga dapat terlihat jelas pada schlera mata dan kulit. Karena billirubin terkonjugasi mudah larut dalam air, maka ia juga ikut dalam urine sehingga memberikan warna pekat pada urine. Sehingga urine penderita hepatitis berwarna pekat. Sedangkan sterkobillin yang memberikan warna pada feses sangat sedikit sehingga memberikan warna pucat pada feses.

Hepatitis kronis
Pada hepatitis kronis, terjadi pengrusakan sel hati dan peradangan berkelanjutan, yang dapat terlihat dari hasil biopsi. Kondisi ini terutama disebabkan oleh hepatitis B kronis atau infeksi HCV, HBsAg terdeteksi, dan merupakan faktor predisposisi utama pada sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Hepatitis kronis memiliki asimtomatik atau gejala ringan. Peningkatan ringan AST dan ALT umunya terlihat pada hepatitis C.

Hepatitis A
Selama periode inkubasi, HAV RNA hadir terdapat tinja dan plasma dan tetap terdeteksi selama rata-rata 18 hari setelah onset klinis hepatitis. Respon kekebalan awal virus adalah IgM anti-HAV, yang biasanya berkembang sekitar 2-3 minggu setelah infeksi; AST dan ALT meningkat berkembang setelah pengembangan antibodi. Antibodi IgM biasanya bertahan selama 3-6 bulan setelah infeksi. Peningkatan titer IgM anti-HAV dianggap sebagai indikasi infeksi akut. Antibodi IgG berkembang dalam waktu 1-2 minggu. PCR dapat mengidentifikasi HAV RNA dalam plasma dan tinja.

Selama periode inkubasi (yang rata-rata 2-3 minggu), HAV RNA mereplikasi, dan partikel virus terdeteksi dalam tinja dengan mikroskop elektron. RNA virus juga terdeteksi selama waktu ini oleh real-time polymerase chain reaction (PCR). Deteksi yang paling efektif untuk hepatitis infeksi akut A adalah deteksi anti-HAV imunoglobulin (Ig) M. Infeksi ini juga ditunjukkan dengan adanya peningkatan aminotransferase, aspartate aminotransferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT), yang terjadi di awal dari fase akut awal dan berlangsung selama beberapa minggu hingga 1-2 bulan. Dan berhenti setelah anti-HAV IgM turun ke tingkat tidak terdeteksi dalam 3-6 bulan pasca fase awal. Tetapi, anti-HAV IgG tetap meningkat selama beberapa bulan dan berlangsung selama bertahun-tahun setelah pemberian kekebalan pada individu yang terpapar atau terinfeksi. (Diadaptasi dari Abbott Laboratories Diagnostik Layanan Pendidikan. Hepatitis A profil diagnostik. North Chicago, Illinois: Abbott Labs, tahun 1994).

Pengujian immunologi :
Pada awal terjadinya infeksi (masa akut), kadar antibody IgM anti-HAV meningkat tajam sehingga mudah untuk menedekteksi adanya infeksi HAV. Setelah melewati masa akut, antibody IgG anti-HAV menjadi dominan sehingga masa pemulihan, dan seterusnya.

Penularan HAV adalah melalui oral dengan menelan makanan yang terkontaminasi feses yang mengandung HAV.

Hepatitis B
Antigen Hepatitis B menghasilkan beberapa protein yang dapat terdeteksi dalam serum: antigen inti (HBcAg), antigen permukaan (HBsAg atau HBs). Antibodi terhadap masing-masing antigen juga dapat diukur. Riwayat infeksi dengan HBV diilustrasikan dalam kelompok-kelompok yang berbeda dari tes yang direkomendasikan untuk tiga situasi klinis yang berbeda sebagai berikut:
1. HBV akut Hepatitis: HbsAg, IgM anti-HBc.
2. HBV kronis hepatitis: HbsAg, IgG anti-HBc, IgG anti-HBs
3. Pemantauan infeksi HBV kronis: HBs, HBeAg, IgG anti-HBs, IgG anti-HBe, dan ultrasensitif kuantitatif PCR.

Penanda serologis terjadiny awal infeksi akut adalah HbsAg, yang biasanya
menjadi terdeteksi 2-3 bulan setelah terinfeksi. Setelah lain 4-6 minggu, IgM anti-HB, disertai dengan peningkatan SGOT dan SGPT. Ketika gejala hepatitis muncul, kebanyakan pasien masih terdeteksi HbsAg, meskipun pada beberapa pasien tidak terdeteksi lagi. IgM anti- HBc biasanya bertahan selama 4-6 bulan, namun, kemungkinan dapat muncul kembali setiap saat pada pasien dengan infeksi HBV kronis. Dengan pemulihan dari infeksi akut, HbsAg dan HBcAg menghilang, dan IgG anti-HBs dan IgG anti-HBe muncul; pengembangan anti-HBs biasanya penanda terakhir dalam pemulihan dan diperkirakan untuk menunjukkan pembersihan virus. Anti-HBs dan anti-HBc yang diyakini bertahan untuk hidup, meskipun dalam sekitar 5% -10% dari kasus anti-HBs pada akhirnya menghilang (Seeff, 1987). Isolated anti-HBc juga dapat terjadi selama periode clearance virus pada hepatitis akut dan kronis, dan hasilnya sebagai positif palsu. Titer anti-HBc memiliki peranan penting dalam menentukan signifikansinya di mana; titer yang rendah biasanya hasil positif palsu, dan titer tinggi hampir selalu (50% -80% dari kasus) menunjukkan kekebalan terhadap infeksi HBV, seperti yang ditunjukkan oleh respon anamnestic untuk vaksin hepatitis B.
Uji terbaru untuk menilai infeksi HBV adalah uji kuantitatif ultrasensitif dengan menggunakan teknologi real-time PCR. Penggunaan utama adalah untuk memantau respon terapi pada pasien yang terinfeksi secara klinis. Menggunakan tes PCR sensitif, DNA HBV dapat ditemukan dalam persentase yang tinggi anti-HBs positif pada pasien yang telah sembuh secara klinis dari infeksi HBV, serta pada pasien dengan hepatitis C dan terisolasi anti-HBc.

Pengujian Immunologi :
– Yang pertama kali terdeteksi itu adalah antigen permukaan (HBsAg) yang positif + 2 minggu sebeleum terjadinya gejala klinis.
– Berikutnya adalah HBcAg (antigen inti) yang tak selalu muncul dalam pemeriksaan karena berada dalam kulit luar HbsAg, adanya terdekteksi antibody Anti- HBc menandakan adanya kekebalan yang didapat dari HVB
– Anti HBc dapat di fragmen menjadi dua yaitu IgM anti HBc dan IgG anti HBc. igM anti HBc terlihat pada awal infeksi hingga bertahan selama 6 bulan. Adanya predomninasi antibody IgG anti HBc menunjukkan kesembuhan dari HBV di masa lampau atau infeksi HBV kronis
– Antibodi berikutnya yang muncul adalah anti-HBs. Munculnya anti HBs ini adalah untuk memberikan kekebalan jangka panjang.
– Munculnya HBeAg timbul setelah HBsAg menghilang dan ditemukan pada penderita yang mengalami infeksi akut akibat bereplikasinya virus.
– Jika HBsAg nya tetap positif pada 2 kali pemeriksaan yang berajarak 6 bulan, atau hasil pemeriksaan HBsAg postif sementara IgM anti HBc negative, maka pasen tersebut tergolong pada karier HBV

Hepatitis C
Pada mulanya hepatitis C ini dikenal dengan hepatitis Non A Non B (HNANB). Penularannya adalah secara parentral (melalui darah) dan jika HNANB ditularkan melalui enteric disebut dengan hepatitis E (HVE)
Pemeriksaan terhadap virus hepatitis C dilakukan dengan RIBA (recombinant assay). Deteksi terhadap antibody anti-HVC sering kali negative palsu
Virus HVC sangat berbahaya karena tanda-tanda ikterus tak terlihat pada pasien dengan HVC karena fungsi hepatobilliary nya tetap normal. HVC dapat berkembang menjadi sirosis hati.

Gejala awal Hepatitis C pada dua dekade pertama tidak tampak gejala klinis secara fisik, selain itu anti-HCV juga tidak terdeteksi sehingga pada pemeriksaan immunoassay menghasilkan nilai negatif palsu. Selanjutnya akan timbul gejala inflamasi, kemudian terjadi kematian sel hati yang berkembang menjadi fibrosis dan akhirnya menjadi sirosis hati.
Penyebaran penyakit hepatitis C terjadi melalui parentral, seperti pemakaian jarum suntik bersama, tranfusi darah, dari ibu hamil ke janinnya, pasien dialysis, kecelakaan penggunaan jarum suntik oleh petugas kesehatan, dan hubungan seksual. Jadi pencegahan penyakit ini adalah menghindari penyebarannya (parentral).

Komplikasi penyakit hepatitis
Sejumlah kecil pasien memperlihatkan kemunduran klinis yang cepat setelah awitan ikterus akibat hepatis fulminan dan nekrosis hati massif, yang ditandai dengan penciutan hati, kadar biliubin yang meningkat dengan cepat, pemanjangan waktu protrombin yang sangat nyata dan koma hepatikum. Pada hepatitis C dapat berkembang menjadi hepatitits kronis persisten (2-8 bulan), dan pada tahap lanjut dapat berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler primer ataupun sirrosis.

Obstruktif Pasif Kronik
Dalam obstruktif pasif kronik hati, ditemukan juga pada gagal jantung kongesti. Tekanan balik dari jantung kanan ditransmisikan ke sinusoid hati dari vena cava inferior dan vena hepatik. Peningkatan tekanan menyebabkan pelebaran sinusoidal, yang dapat menyebabkan kerusakan hepatosit. Hasilnya adalah peningkatan ringan aminotransferase dan sesekali hiperbilirubinemia ringan.

Sirosis
Sirosis hati adalah suatu kondisi yang menyebabkan fibrosis parenkim dan
regenerasi nodular hepatocytic dan dapat disebabkan oleh alkoholisme (macronodular
atau Laennec yang sirosis), hepatitis panhepatic, aktif kronis dan sirosis bilier sekunder dan predisposisi sirosis. Pada hemochromatosis, misalnya, kelebihan zat besi disimpan di berbagai jaringan, termasuk hati, dan menjadi beracun untuk sel hati yang merupakan predisposisi sirosis. Penyakit ini disebabkan oleh substitusi asam amino tunggal, (paling sering) tirosin untuk sistein 282 (C282Y), dalam produk protein dari gen HFE pada kromosom 6. Protein ini diduga terlibat dalam interaksi transferin dengan reseptor transferin, dan substitusi asam amino seperti C282Y, yang menginduksi kerusakan protein, yang kemudian mengakibatkan deposisi besi abnormal dalam jaringan, termasuk hati.
Tes lain untuk kondisi ini mencakup penetapan besi dari sampel biopsi hati dan analisis genetik. Dalam perkembangan sirosis, sebgian besar (> 80%) melibatkan parenkim hati, yang menyebabkan fungsi hati menjadi terganggu. Penekanan pada ductus empedu menyebabkan hiperbilirubinemia dan peningkatan fosfatase alkali, GGT, dan 5′-nucleotidase. Konsentrasi serum enzim hepatosit seperti AST, ALT, dan LD mungkin normal atau berkurang.

Pada sirosis hati, alkoholisme merupakan factor utama penyebab terjadinya penyakit ini.
Sirrosis terbagi atas 3 kelompok :
1. Sirrosis Laennec
Merupakan suatu pola khas sirosis yang terkait penyalahgunaan alcohol kronis yang jumlahnya sekitar 75 % lebih dari kasus sirosis.
Mekanismenya adalah : disebabkan oleh alcohol, terjadi akumulasi lemak secara berlebihan dan sel-sel hati. Alcohol menimbulkan efek toksik yang langsung terhadap hati.
Pada kasus lanjut, hati terdapat nodul-nodul akibat upaya hati melakukan regenerasi sel-sel yang rusak. Hati tampak seperti sarang nodul yang padat dalam jaringan fibrosa yang tebal. Hati akan mengalami penciutan, menegras dan hampir tak memiliki parenkim normal.
Pada kasus sirosis, terjadi penurunan protein total dan albumin, kadar ammonia yang tinggi dalam darah dan tidak terjadi peningkatan terjadap enzim-enzim hati dalam darah karena hati tidak menghasilkan enzim
2. Sirosis pascanecrosis
Pada sirosis ini, hati dikelilingi oleh jaringan parut dengan kehilangan banyak sel hati di antara sel-sel parenkim hati. 25 % diantaranya merupakan perkembangan dari kasus hepatitis.
Cirri khas sirosis pascanekrotik adalah bahwa sirosis ini adalah factor predisposisi timbulnya neoplasma hati. Risiko ini meningkat sepuluh kali lipat pada pasien karier dibandingkan pasien yang bukan karier
3. Sirosis biliaris
Sirosis ini disebabkan oleh adanya obsrtuksi biliaris pascahepatik. Stasis empedu menyebabkan penumpukan empedu pada masa hati dan kerusakan sel-sel hati. Terbentuk lembar-lembar fibrosa di tepi lobules. Hati membesar, keras, bergranula halus, dan berwarna kehijauan.
Manifestasi sirosis :
– Gagal hepatoseluler
– Hipertensi portal
– Pendarahan saluran cerna
– Asites
– Ensefalopati hepatik

Kolekitiasis dan kolesistiasis
Batu empedu pada hakikatnya merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu (kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, protein, asalam lemak, dan fosfolipid). Sedangkan batu empedu kolesterol adalah batu yang umumnya berukuran besar, soliter, berstruktur bulat atau oval, berwarna kunging pucat, sering mengandung kalsium dan pigmen. Batu empedu terbentuk dalam kandungan empedu. Penyebabnya adalah adanya perubahan komposisi pembentukan batu empedu. Pada penderita batu empedu, penelitian menunjukkan bahwa hati penderita batu empedu kolesterol menyekresikan empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol. Kolesterol yang berlebihan mengendap dalam kandung empedu untuk membentuk batu empedu.

Diganostik : dapat dilakukan dengan melakukan ultrasosnografi

Read Full Post »