Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Interpretasi Data Klinis’

What? Farmasis harus tau interpretasi data klinis? Apa-apaan ini?
Hoho… jangan emosi dulu, beib! Jika kita mau farmasis majuuu, kita kudu ikut perkembangan jaman doooong! Ya iyaaa lah!
Jadiii, Untuk pemantauan obat, kita juga mesti tau tentang interpretasi data klinis pasien. Biar ndak ‘oon’ waktu ditanyain pasien. Biar kita tau alasannya kenapa mesti dikasi obat A, atau kenapa ndak. Biar pengobatan lebih RASIONAL!

Selama ini, di eral-era jadul, berlakulah kondisi yang bikin hati miris. Dokter sebagai pelaku prescriber dipengaruhi oleh berbagai macem hal; mulai dari PROMOSI OBAT yang BEGITU AGRESIF, jumlah preparat komesrial yang berlebihaan, pengaturan pelayanan obat yang agak aneh yang berakibat justru obat jadi tidak efektif, polifarmasi (alias kebanyakan obat), trus juga malah tambah mahal obatnya, maka diperlukanlah suatu terobosan baru. Selama ini juga kan farmasis juga rada-rada ‘oon’ untuk sekedar memprotes (heuuuu, maap temen sejawatku, diriku pun juga masi ‘oon’ ko. Karena, kita juga kadang suka ndak pede kalo sudah adu argument sama dokter. Padahal, ndak semua looooh yang farmasis tau dokter juga tauu, apalagi menyangkut obat-obatan. Lagian, farmasis juga masi ndak terlalu melek soal farmakoterapi (mudah-mudahan farmasis jaman sekarang lebih baik…). Maka, kita perlu juga apdet ilmu kita. Ya gak?

Nah….sebelum masuk ke pengantarnya, kita mesti tau dulu niih, sebenarnya bagaimana siih PROSES PENGOBATAN YANG RASIONAL itu…. setidaknya, ada 6 langkah dalam proses pengobatan yang rasional.

Step 1 : Define the patients problem
Step 2 : Specify the therapeutic objective
what do you want to achieve with the treatment?
Step 3 : Verify the suitability of your P-treatment
check effectiveness and safety
Step 4 : Start the treatment
Step 5 : Give information instruction and warnings
Step 6 : Monitor (and stop?) treatment

Nah loooh, selama ini farmasis ada di step berapa coba? Paling juga di step 5 kan yah? Cuma ngasi signa tiga kali sehari doang, itu pun jarang adanya pemberian warning. Sekarang sih udah mulai mengalami perbaikan meski pun di kebanyakan rumah sakit, masih menggunakan pola lama. Dan tahukah saudara-saudariku para apoteker sekalian, sesungguhnya farmasis sudah harus ikut dari STEP SATU! Iyaaaa! STEP 1, di mana kita dan dokter adalah mitra dalam upaya pengobatan yang rasional tersebut. Kita juga mesti melakukan interpretasi mengenai MASALAH PASIEN. Ini pasien, sebenernya MASALAHNYA APA SIIIIHHH?

Maka, oleh karena itu, diperlukanlah kemampuan farmasis untuk menginterpretasikan hasil laboratorium sebagai petunjuk diagnostic. Ini penting dalam pengobatan. Jadiii, dalam tag interpretasi data klinis ini akan dibahas secara gamblang mengenai interpretasi data klinis.

Kenapa penting bagi farmasis untuk mengetahui interpretasi dari data klinis?
Karena;
Untuk menegakan diagnose (bukaaan farmasis yang mendiagnosa, akan tetapi biar kita tau juga gitu loh)
Kedua, untuk mengetahui seberapa berat sih, penyakit pasien. Ini berkaitan juga dengan alasan yang ketiga, keempat dan kelima yaitu : Menghitung dosis obat yang mau digunakan, memonitoring obat, dan memantau jalannya obat gimana. Trus, alasan selanjutnya adalah untuk mencegah timbulnya penyakit baru entar (yang mungkin saja kan ya, disebabkan oleh obat)

Nah, secara umum, pengujian laboratorium itu meliputi :
Pemeriksaan hematologinya yang berkaitan dengan kimia darah, pemeriksaan fisiknya, pemeriksaan urine dan feses. Juga pemeriksaan diagnostic seperti EKG, rontgen, Echokardiograph, USG, dan lain sebagainya

Jadi, insya Allah dalam interpretasi data klinis kali ini akan dibahas, apa-apa saja yang perlu farmasis tau. Siipp?

Read Full Post »