Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘pengantar’

Hemm…ini pertama kalinya belajar farmakoepidemiologi. Hehe… Menarik siiih. (hehe, enaknya kalo segalanya dibuat jadi menarik yaah. Jadiii, mempelajarinya dengan penuh rasa ingin tahu. Jiyaaahhh….). Yaahh, lagi-lagi aku mencoba mencarinya “diluar” dari apa yang didapat di kampus. Jiyaaahhh…*soksokrajin. hihihi…

Setidaknya, belajar farmakoepidemiologi membuat aku mengerti betapa dangkalnya novel “The Green Palace” yang  kubuat dulunya. Dan, belajar farmakoepid membuat aku jadi ingin memperbaiki kembali sekaligus menyempurnakan novelku itu (*geplak! harus S2 dulukah untuk menyelesaikan sebuah novel?? hehehe…hampir-hampir tidak masuk akal! :-P)

Tadi aku coba download bukunya. Tapi…tapi…, tak berhasil. Heuu… Tak apalah. Mencoba belajar dengan apa adanya dulu. Yaah, setidaknya mencoba mengerti tentang farmako-epidemiologi itu sendiri dululah.

 

Farmakoepidemiologi itu sendiri sebenernya tools atau perangkat yang bisa kita pake buat menjawab pertanyaan yang terkait obat…

Farmakopidemiologi juga berarti aplikasi dari ilmu epidemiologi; metode dan alasan untuk mengetahui kemanfaatan (benefit) dan juga adverse (kejadian yang tak dikehendaki) dari suatu obat pada populasi manusia.

 

Tujuan dari farmakoepidemiologi ini adalah untuk mengawasi, mengontrol dan memprediksi obst-obst ysng digunakan pada treatment farmakologi pada waktu, tempat dan populasi tertentu. Sehingga diperoleh info mengenai : efikasi, safety dan ekonomi dari suatu obat.

Efikasi

karena evaluasi obat pada pre-marketing itu sangat terbatas dan juga ‘terkondisikan’, maka mungkin belum cukup adekuat untuk mengetahui efikasi secraa lebih luas

Safety

sama dengan efikasi, karena keterbatasan sampel pada pre-marketing (uji klinik), jadi perlu dipelajari post-marketing surveilance.Apalagi pada pre-marketing ini, juga menyangkut kode etik percobaan pada manusia. Jadii, ketat sekaliii. Makanya diperlukan banget yang namanya farmakoepidemiologi ini.

Ekonomi

yah ndak bisa dipungkiri juga tho yah, harga iniiih. Secara ekonomi, kira-kira bakal menguntungkan tidak, ini obat. maka, perusahaan terttentu atau LSM masyarakat tertentu juga melakukan studi farmakoepidemiologi.

 

Mengapa post-marketing surveillance itu penting?

Karena keterbatasan pada uji klinik fase 1-3. Ya, terbatas sekali. Karena menyangkut kode etik, trus menyangkut biaya yang bessuaaarrr, jadinya ya terbatas. Poko nya ribet daah, sampai drug-approval itu terwujud. Hemm…makanya bikin obat baru itu tak gampang, cuy! Jadi inget waktu itu, ketika temen aye bilang, “Fathel, hayooo bikin obat baru, gih!” Hadeuuuuhh, jangan enak-enakan aje nyuruh aye bikin obat baru kalo ndak menyediakan dana sekurang-kurangnya 200 jt USD. Hahaha… :-D)

Banyak loooh akhirnya obat-obat baru yang kemudian ditarik dari pasaran karena baru ketauan efek jahatnya (adverse) nya setelah dilakukan “post-marketing surveillance”. (eh, ngomong-ngomong di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini, post-marketing surveillance nya dilaporing ke Badan POM tidak yah? jangan-jangan cuma disimpen buat konsmumsi prusahaan doang. Apalagi rakyat indonesia juga jarang melaporkan kejadian Adverse Drug Related. Deuhh, kasihannya Indonesia-ku tercinta).

Apa contohnya obat-obat yang ditarik dari pasaran lagi (bahkan sebagian umurnya tak sampai setahun!) atau istilah kerennya Drugs-Withdrawal

– Talidomid (semua orang juga sudah tau tentang kisah si Talidomid ini kan yaah? jadiii tak perlulah kuceritakan kembali…)

-Dietilbesterol untuk penguat rahim dan menghindari pendarahan ketika melahirkan ternyata justru menyebabkan kanker vagina dan kanker serviks bagi anak perempuan yang dikandungnya.

-Stavudin(obat HIV/AIDS) yang bikin lipodistrofi. Thailand yang melaporkan kejadiannya.

-Pioglitazone dan kaitannya dengan Bladder-Cancer dan lain sebagainya

 

Jadi, Apa Beda Pre-marketing dan Post-marketing surveillance?

Pada Pre-Marketing Surveilance :

1. Orientasi : hanyalah untuk mengetahui efek dan safety

2. Tools : uji klinik 1-3

3. Info yang bisa didapat : efikasi dan safety (dengan pasien yang dikondisikan)

4. Subjek penelitian : hasil seleksi yang ketat (ada kriteria eksklusi)

5. Kemungkinan lain : bisa dihilangkan. Seperti, bersamaan dengan obat lain, pola makan, gaya hidup, usia, kehamilan dan lain sebagainya.

 

Post Marketing Surveillance :

1. Orientasi : kebijakan apakah obat diteruskan atau ditarik dari pasaran

2. Alat/Tools : uji klinik fase IV/studi farmakoepidemiologi

3. Info yang bisa didapatkan : efektivitas obat

4. Subjek penelitian : tidak terlalu ketat, hampir semua orang bisa menggunakan obat tersebut (tidak terbatas, tak terseleksi)

5. Kemunginan lain : tak dapat dihilangkan. Tak ada kriteria eksklusi. Mungkin saja orang hamil, bersamaan dengan obat lain dan pola makan serta gaya hidup bervariasi.

 

Apa saja yang kita dapatkan dengan studi farmakoepidemiologi?

Farmakoepidemiologi dapat menjawab pertanyaan terkait obat sebagai berikut :

1. Long term effect. Obat-obat yang efeknya jangka panjang. contohnya : kaitan antara estrogen dengan kanker endometrium

2. Low Frequency effect. Obat-obat yang angka kejadiannya sangat jarang. bisa ditemui pada populasi yang sangat besar. contoh fenilbutazon dan kaitannya dengan anemia aplastik, klindamisin dengan colitis, dan halotan dengan jaundice.

3. Effectiveness in Costumary Practice. Bagaimana penggunaannya pada pasien anak-anak, pasien ibu hamil, rawat jalan, pasien emergeny. Perlu atau tidaknya upgrading tenaga kesehatan

4. Efficacy in new Indication. Maksudnya, ditemukan indikasi baru dari indikasi yang diapprove. Baru ketahuan ternyata obat tersebut efektif juga untuk indikasi yang lain. Contohnya propranolol untuk antihipertensi, captopril untuk reumatik athritis, amantadin untuk mabok jalanan (antihidtamin) yang sebelumnya buat parkinson, gabapentin untuk neuropati dan lain sebagainya.

5. Secondary effect. Efek keduanya bagaimana bagi pasien

6. Modifier of Efficacy. Jika dikombinasi dengan obat lain, kira-kira ada sinergis tidak? dan lain sebagainya…

 

Nah, menarik bukaaan?
Siip deeeh, buat selanjutnya kita lanjutkan dengan metode-metode dalam farmakoepidemiology. Tetep ikuti perkembangannya yaaahh.. Hehe

Skrang ak mw bikin tugas duluuu… 😀

 

 

Read Full Post »